sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Jokowi genjot PLTA, masa depan listrik RI

Presiden Joko Widodo mengenjot pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebagai pasokan energi masa depan.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Jumat, 29 Nov 2019 00:54 WIB
Jokowi genjot PLTA, masa depan listrik RI

Presiden Joko Widodo mengenjot pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebagai pasokan energi masa depan.

Presiden mengatakan Indonesia memiliki sumber energi listrik yang besar dan belum digunakan dengan baik. Sumber energi tersebut adalah hydropower atau PLTA.

Dia menguraikan, Indonesia dianugerahi sejumlah sungai besar dan panjang. Contohnya, Sungai Kayan di Kalimantan Utara yang dapat dijadikan lokasi pembangkit listrik tenaga air. Tak hanya satu titik, dia mengatakan terdapat 10 titik lokasi yang dapat dijadikan hydropower.

"Kita memiliki sebuah kekuatan besar hydropower yang tidak pernah kita gunakan. Kalau Sungai Kayan dibendung ada 10 titik di situ," kata Jokowi dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019 di Ciputra Artpreneur, Lotte Shopping Avenue, Ciputra World, Jakarta Selatan, Kamis (28/11).

Dia mencontohkan apabila Sungai Kayan tersebut dijadikan lokasi PLTA, maka akan dapat memproduksi listrik sebesar 11.000 Megawatt. Potensi itu belum menghitung sungai Mamberamo yang terdapat di Papua, yang diperkirakan dapat menghasilkan listrik sebesar 23.000 MW.

Kemudian, lanjutnya, ongkos produksi yang dikeluarkan untuk menghasilkan listrik di tiap kilo watt per hours (kwh)-nya hanya sebesar US$2 sen atau Rp280. Biaya yang dikeluarkan, lanjut Jokowi, lebih murah daripada menggunakan bahan bakar batu bara yang menelan cost sebesar US$7 sen atau Rp980 untuk tiap kwh-nya.

"Siapa yang bisa melawan US$2 sen ini? Semuanya (investor) akan berbondong-bondong ke sini, saya sampaikan ke Gubernur (Kalimantan Utara) ini akan kita dorong," ujarnya.

Dengan demikian, katanya, Indonesia akan memiliki daya saing yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya di kawasan. Untuk itu, dia berharap semua pihak bahu-membahu untuk mencari sumber-sumber kekuatan baru yang belum termanfaatkan dengan baik selama ini.

Sponsored

"Sebuah kekuatan besar dengan hanya cost produksinya US$2 sen. Siapa yang bisa mengalahkan ini? Kekuatan seperti inilah yang harus terus kita cari sehingga daya saing kita betul-betul kita miliki," tegasnya.