sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mandiri ramal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II minus 3,4%

Ekonomi Indonesia diprediksi pulih di kuartal IV-2020 jika tak ada gelombang kedua Covid-19.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Rabu, 17 Jun 2020 18:10 WIB
Mandiri ramal pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II minus 3,4%
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 557.877
Dirawat 77.969
Meninggal 17.355
Sembuh 462.553

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Andry Asmoro memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 minus 3,4%.

Andry mengatakan pihaknya memiliki ekspektasi yang sama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2020 akan minus 3,1%.

"Ekspektasi kami sama, yaitu kuartal II adalah kuartal yang penurunannya relatif paling dalam menurut kami. Kalau pemerintah memprediksi minus 3,1%, sejak satu bulan lalu kami membuat forecast di kuartal II akan terkoreksi minus 3,4%," kata Andry dalam Media Gathering Economic Outlook Bank Mandiri secara virtual, dari Jakarta, Rabu (17/6).

Andry melanjutkan, perekonomian Indonesia masih memiliki peluang untuk pulih kembali di kuartal IV-2020. Namun, hal ini hanya akan terwujud jika tak ada gelombang kedua Covid-19 di Indonesia.

"Perekonomian domestik masih bisa melakukan pemulihan di kuartal IV-2020 dengan catatan tidak ada gelombang kedua Covid-19 dan tidak ada PSBB (pembatasan sosial berskala besar) lagi. Namun, kalau terjadi gelombang kedua, maka pemulihan ekonominya bisa tidak lebih cepat dari kuartal IV-2020," tutur Andry.

Menurut Andry, penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di periode new normal ini menjadi kunci utama. Dengan langkah ini, menurut Andry, Indonesia punya peluang tak mendapatkan gelombang kedua Covid-19 seperti yang terjadi di Selandia Baru dan China.

"Kalau kami lihat di Selandia Baru setelah bersih, dinyatakan zero case, muncul lagi satu hingga dua pasien kena Covid-19. Di China sekarang yang dikhawatirkan adalah di Beijing setelah Wuhan," ujarnya.

Sponsored
Berita Lainnya