sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Melantai di bursa pada 2020, Bank DKI siap lepas 20% saham

IPO Bank DKI tertunda sejak direncanakan pada 2018.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Senin, 02 Sep 2019 16:08 WIB
Melantai di bursa pada 2020, Bank DKI siap lepas 20% saham

PT Bank DKI berencana untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2020 mendatang. Sekretaris Perusahaan Bank DKI Herry Djufraini mengatakan, perusahaan telah siap melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) setelah sempat tertunda sejak 2018.

"Pemilu tahun ini sudah selesai, bisnis kembali berjalan. Rencana semester I 2020. Selambat-lambatnya semester II 2020," kata Herry saat dihubungi reporter Alinea.id, Senin (9/2).

Menurutnya, perusahaan akan mempertimbangkan kondisi pasar untuk menentukan waktu IPO. Hal ini dilakukan agar para investor lebih tertarik untuk menanam sahamnya di bank milik Pemprov DKI Jakarta.

Rencananya, Bank DKI akan melepas sekitar 10%-20% sahamnya kepada publik. Investor ritel menjadi target pelepasan saham bank ini. Dana hasil IPO akan digunakan untuk modal pembiayaan infrastruktur serta memperkuat permodalan perusahaan.

"Tapi kita lihat lagi permintaannya bagaimana. Harganya juga belum bisa kami sampaikan, masih menghitung valuasi dan lainnya," kata dia.

Menurut Herry, rencana ini telah mendapat dukungan dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. "Pak Gubernur sendiri kan pernah bilang bahwa ingin Bank DKI itu mandiri dalam mencari dan memperkuat struktur permodalannya," katanya.

Untuk keperluan ini, perusahaan telah menunjuk tiga perusahaan sekuritas untuk menjadi penjamin emisi (underwriter). Ketiga sekuritas tersebut adalah Mandiri Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dan RHB Sekuritas Indonesia.

Dihubungi terpisah, Managing Director PT Mandiri Sekuritas Andy Saleh Bratamihardja mengonfirmasi penunjukkan perusahaannya sebagai penjamin emisi Bank DKI. Menurutnya, penunjukkan tersebut sudah dilakukan cukup lama.

Sponsored

"Sejak 2018, sudah hampir setahun. Mestinya IPO pada 2020 waktunya oke," kata Andy saat dihubungi.

Namun ia enggan menjelaskan lebih detail terkait harga maupun jumlah lembar saham yang akan dilepas.

CEO Jagartha Advisor, FX Iwan, meyakini penundaan IPO Bank DKI dilatarbelakangi sejumlah faktor, baik dari sisi kesiapan internal maupun kondisi pasar.

"Melihat ketidakpastian kondisi global saat ini, wajar saja jika emiten memilih untuk menunda dan menunggu kondisi pasar yang lebih baik untuk IPO, sehinga bisa memberikan hasil yang lebih optimal," kata Iwan saat dihubungi.

Tambahan waktu sebelum IPO juga memberi kesempatan bagi calon emiten, untuk terus berbenah agar lebih atraktif di mata investor.

"Mulai dari penataan NPL hingga peningkatan laba perusahaan," kata Iwan.

Associate Director Head of Research and Investment PT Pilarmas Sekuritas Maximillianus Nicodemus menilai, rencana Bank DKI untuk melakukan IPO pada 2020 merupakan waktu yang tepat.

Menurutnya, perbankan merupakan sektor yang menarik untuk para investor. Namun manajemen perusahaan perlu mengelola dengan baik bank tersebut, agar mendapat kepercayaan dari publik.

"Sektor perbankan itu enggak akan pernah ada matinya, karena bank itu punya interest margin yang sangat besar. NIM bank di Indonesia itu berkisar 5%-6%," kata Nico saat dihubungi.

Nico menilai direksi Bank DKI mampu mengelola perusahaannya dengan baik. Meskipun bank daerah, Bank DKI menarik perhatian khusus bagi para investor, karena DKI Jakarta masih berstatus sebagai ibu kota negara. 

"Perputaran uang juga masih besar di Jawa, sehingga ini bisa menjadi peluang bagi Bank DKI untuk bisa tumbuh," ujarnya.

Meski demikian, lanjut Nico, Bank DKI perlu memperhatikan sentimen internal dan eksternal pada 2020 mendatang. "Internal pastinya terkait rilis-rilis perekonomian Indonesia ya, seperti neraca dagang dan lainnya," katanya.

Sebagai informasi, tahun ini Bank DKI hanya menarget pertumbuhan laba 5% menjadi Rp840,3 miliar, dari perolehan tahun sebelumnya yang mencapai Rp800,3 miliar.

Pertumbuhan laba itu akan ditopang oleh pendapatan bunga. Herry mengatakan, tahun ini perusahaan menargetkan bisa mengantongi total kredit Rp38,9 triliun atau naik 12%. Tahun sebelumnya, total kredit Bank DKI mencapai Rp34,7 triliun.