sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kinerja moncer kala pandemi, perbankan syariah jangan berpuas diri

Literasi, inklusi, dan pangsa pasar keuangan syariah masih rendah.

Kartika Runiasari
Kartika Runiasari Kamis, 22 Okt 2020 16:33 WIB
Kinerja moncer kala pandemi, perbankan syariah jangan berpuas diri
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 563.680
Dirawat 80.023
Meninggal 17.479
Sembuh 466.178

Sudah sejak lama Nurie Lubis (36) memahami pengenaan bunga di sistem perbankan konvensional adalah riba. Namun, ia mengaku masih santai menyimpan dana dan mengajukan pinjaman ke bank konvensional. Lambat laun, di saat dirinya memperdalam ilmu agama Islam, soal riba itu menimbulkan kegelisahan di batinnya.

“Setelah lebih dalam pelajari tentang riba dan ancamannya, jadi takut dan InsyaaAllah berazzam (bertekad) melepaskan diri dari riba bentuk apapun,” katanya saat berbincang dengan Alinea.id, Rabu (20/10).

Tekad bulatnya itu langsung ia realisasikan dengan memindahkan dana tabungannya ke salah satu bank syariah besar. Ibu tiga anak ini juga berusaha segera melunasi tanggungan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di bank konvensional. Setelah menjadi nasabah bank syariah kurang lebih dua tahun, Nurie juga membuka rekening baru di bank syariah lain. “Ini supaya free biaya transfer,” ujarnya.

Meski begitu, Nurie mengaku masih menggunakan rekening bank konvensional. Rekening itu ia gunakan untuk transaksi pembayaran berbagai macam tagihan bulanan. “Jadi uangnya cuma numpang lewat, enggak mengendap,” ujar wanita berhijab ini.

Di masa pandemi, Nurie pun mengakui aplikasi yang dimiliki bank syariah cukup membantu segala transaksi keuangannya. Hampir seluruh aktivitas tersebut bisa dilakukan secara digital. Nurie pun berharap bank  syariah mampu menawarkan teknologi digital yang up to date seperti halnya bank konvensional.

Harus diakui, inovasi perbankan syariah dalam hal teknologi cukup menarik animo masyarakat. Pengamat Ekonomi Syariah Institut Pertanian Bogor (IPB) Irfan Syauqi Beik menilai digitalisasi perbankan syariah turut membantu kinerja menjadi makin cemerlang.

”Memang akhir tahun 2019 (pertumbuhan bank syariah) sudah naik, tapi pas pandemi terakselerasi karena salah satunya kemampuan memanfaatkan digital banking, memanfaatkan teknologi,” katanya kepada Alinea.id, Selasa (19/10).

Ia mencontohkan, layanan pembukaan rekening baru yang bisa dilakukan tanpa harus ke kantor cabang. Pun demikian dengan berbagai layanan transaksi keuangan yang bisa dilakukan secara jarak jauh. Layanan itulah yang sangat relevan dengan situasi pandemi yang ketat dengan protokol jaga jarak (physical distancing).

Sponsored

“Pemanfaatan teknologi digital saya kira membawa keuntungan tersendiri. Jadi kita enggak bisa alasan enggak pakai bank syariah karena teknologinya payah. Sekarang sudah canggih,” cetusnya.

Pelayanan keuangan di kantor cabang BNI Syariah. Dokumentasi.

Kinerja cemerlang

Perkembangan perbankan syariah kini memang cukup memberikan angin segar. Di tengah ancaman resesi, perbankan syariah nasional mampu mencetak kinerja positif. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan hingga Juli 2020, aset perbankan syariah tumbuh 9,88% secara year on year, pembiayaan tumbuh 10,23%, dan dana pihak ketiga (DPK) naik 8,78%. Pencapaian bank syariah itu lebih baik dari perbankan konvensional yang mencatat pertumbuhan aset 5,37%, kredit 1,04%, dan DPK 8,44%.

Padahal pada Juli lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sempat memprediksi industri perbankan syariah bisa tumbuh negatif pada tahun ini. Pagebluk yang membuat ekonomi memasuki jurang resesi diperkirakan membuat nilai aset dan likuiditas perbankan syariah menurun. 

Namun kenyataannya, beberapa bank syariah justru mengalami kinerja luar biasa yang ditunjukan dari lonjakan laba perusahaan. BRI Syariah misalnya. Sampai Agustus lalu, bank syariah yang sudah melantai di bursa ini berhasil mencatat kenaikan perolehan laba bersih sebesar 158,46% secara tahunan menjadi Rp168 miliar. Pertumbuhan ini ditopang oleh naiknya pendapatan dari penyaluran dana BRI Syariah sebesar 19,75% (yoy) menjadi Rp1,94 triliun.

Lonjakan laba juga dialami Bank Syariah Mandiri. Sampai Juni 2020, bank syariah dengan aset terbesar ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp719 miliar, naik signifikan 30,53% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan laba ditopang oleh pendapatan margin, fee based income yang antara lain disumbang dari layanan digital, serta kenaikan DPK.

Hal serupa juga terjadi pada BCA Syariah yang mencatat laba bersih pada semester-I tahun 2020 dengan kenaikan 8,71% atau Rp 28 miliar (yoy). Direktur Utama BCA Syariah John Kosasih mengatakan, pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh pertumbuhan laba tahun lalu. Hal ini tak lepas dari kondisi pandemi Covid-19 saat ini yang membuat bisnis cenderung stagnan. 

“Pertumbuhan aset sebenarnya flat, namun pembiayaan tumbuh tipis, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) justru sedikit menurun. Profitabilitas juga disesuaikan sedikit,” katanya dalam virtual konferensi, Senin (27/7/2020).

Irfan Syauqi Beik menyebut peningkatan kinerja beberapa bank syariah menunjukkan perbankan syariah memiliki kemampuan dan daya tahan yang lebih baik di tengah krisis seperti sekarang.

“Memasuki resesi alhamdulillah bank syariah bisa bertahan ini jadi pengaruh pengembangan ekonomi syariah,” tambahnya yang juga menjabat sebagai Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas.

Namun, ia juga menyebut lonjakan total aset perbankan syariah nasional menjadi Rp545,4 triliun tidak lepas dari adanya konversi beberapa bank daerah menjadi bank syariah. Sebut saja Bank Aceh, Bank Nagari (Sumatera Barat), dan Bank NTB. “Ini sangat siginifikan mendongkrak pertumbuhan asset,” kata dia.

Pangsa pasar masih kecil

Meski tumbuh lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional, bank syariah di Tanah Air masih menghadapi persoalan klasik, rendahnya pangsa pasar. Sejak hadir pertama kali di era 1991 dengan lahirnya Bank Muamalat, perbankan syariah hanya mencaplok pangsa pasar di bawah 10%.

Market share perbankan syariah akhirnya bisa terbebas dari jebakan angka 5%. Oktober tahun lalu, pangsa pasar perbankan syariah akhirnya naik ke level 6,01%. Kemudian, per Juli 2020 total pangsa pasar bank umum syariah, BPR syariah, unit usaha syariah (UUS) kembali naik menjadi 6,81% dari total pangsa pasar keuangan. Adapun total pangsa pasar keuangan syariah keseluruhan mencapai 9,68%.

Irfan menilai edukasi menjadi kunci utama untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah. ” Edukasi penting agar perilaku masyarakat menggunakan bank syariah meningkat, dia akan join, ibarat bank syariah bis, publik itu penumpangnya, kalau dia paham bis ini bisa antar ke tujuannya dia akan naik,” ujarnya.

Selanjutnya, Irfan menegaskan, yang tidak kalah penting adalah kebijakan pemerintah yang mendorong pengembangan ekonomi syariah. Irfan menambahkan adanya merger BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah ini menjadi momen agar kinerja perbankan syariah yang moncer tidak berhenti sampai disini saja. 

“Jangan hanya berhenti di merger, mesti ada turunan-turunan kebijakan lain yang lebih fundamental dan signifikan,” ujarnya.

Direktur Utama PT Bank BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo (kiri); Direktur Utama PT Bank BRIsyariah Tbk, Ngatari (kedua kiri); dan Direktur Utama PT Bank Syariah Mandiri, Toni EB Subari (kanan); disaksikan oleh Ketua Project Management Office sekaligus Wakil Direktur PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hery Gunardi (kedua kanan) dalam penandatanganan Rancangan Penggabungan Bank Syariah di Jakarta, Senin (20/10). Dokumentasi.

Dia mencontohkan ekosistem bisnis syariah yang terintegrasi. Mulai dari alat pembayaran, halal food, virtual account bank syariah, dan lain-lain. Termasuk juga dengan mendorong penggunaan bank syariah untuk transaksi di perguruan tinggi.

“Kalau ini didorong 2024 kita bisa tembus (pangsa pasar) 10%. Bisa dua digit karena dari bank syariah hasil merger saja kalau dibiarkan usaha sendiri saja itu di 2024 asetnya bisa naik 50-100%,” urainya.

Terganjal inklusi

Sementara itu, Direktur Utama BCA Syariah John Kosasih menyatakan potensi keuangan syariah di Tanah Air yang luar biasa tidak diragukan lagi. Sebagai Negara dengan populasi penduduk muslim 13% di dunia, Indonesia mempunyai potensi pasar halal hingga US$2 triliun atau sekitar Rp33 ribu triliun.

Pada 2024, angka itu diperkirakan meningkat hingga US$3,2 triliun. “Potensi halal market di Indonesia, perbankan syariah sudah pasti ada. Mau pandemi enggak pandemi tetap besar. Indonesia juga the largest syariah operator, tapi tingkat literasi yang berdampak pada inklusi justru turun,” ujarnya dalam Webinar Diskusi Mikro Forum Syariah, Jumat (9/10).

Kondisi ini juga diamini Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kristianti Puji Rahayu. Padahal, perkembangan ekonomi syariah Indonesia di mata dunia cukup positif. Terbukti dengan kenaikan peringkat Global Islamic Economy Indicator Score (GIEI) dari posisi 10 menjadi posisi 5. GIEI sendiri menggunakan beberapa kriteria antara lain Islamic Finance, Halal Food, Travel, Fashion, Media & Recreation, dan Pharma & Cosmetics.

Indonesia juga melompat dari peringkat 10 ke posisi 4 dalam Islamic Finance Development Indicators (IFDI) tahun 2019. “Meskipun penilaian ada peningkatan dibandingkan dengan konvensional tapi tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah masih tertinggal,” tambahnya di acara yang sama. 

Berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan 2019 yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inklusi keuangan syariah menunjukan penurunan dibanding tahun sebelumnya. Inklusi turun dari 11,1% di 2018, menjadi 9,10% di 2019. Sementara literasi meningkat dari 8,1% di 2016 menjadi 8,93% di 2019.

“Secara rata-rata masih kelihatan gap antara literasi dan inklusi. Ini PR karena kalau gap terlalu banyak, orang yang penting pakai produk tapi belum memahami sehingga enggak jarang menimbulkan masalah,” ungkapnya.

Karena itu, OJK gencar mengkampanyekan ekonomi syariah ke berbagai wilayah di Tanah Air, termasuk menggandeng pesantren untuk melebarkan literasi. OJK juga menyasar edukasi ke masjid-masjid melalui kultum dan mahasiswa di perguruan tinggi. Ibu rumah tangga juga tak luput menjadi sasaran edukasi. Harapannya, edukasi yang tersebar ke segala lini akan mengerek inklusi keuangan syariah ke depannya.
 
 

Geliat staycation pengusir penat

Geliat staycation pengusir penat

Jumat, 04 Des 2020 16:55 WIB
Kasak-kusuk posisi staf khusus menteri

Kasak-kusuk posisi staf khusus menteri

Kamis, 03 Des 2020 16:21 WIB
Berita Lainnya