sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

OJK: Stabilitas terjaga di tengah tekanan pasar keuangan

Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Juli 2018 secara umum masih bergerak positif.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Kamis, 30 Agst 2018 14:14 WIB
OJK: Stabilitas terjaga di tengah tekanan pasar keuangan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 28233
Dirawat 18129
Meninggal 1698
Sembuh 8406

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga, di tengah tekanan yang terjadi di pasar keuangan emerging markets.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, menjelaskan dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2018 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

"Tingkat inflasi berada pada level yang terkendali. Selain itu, kinerja korporasi dalam negeri juga masih memadai. Antara lain tercermin dari kinerja keuangan emiten Bursa Efek Indonesia yang sebagian besar mencatat perbaikan," jelas Wimboh seperti dikutip dalam siaran resmi OJK, Kamis (30/8).

Wimboh mengakui beberapa waktu terakhir, faktor risiko di pasar keuangan global kembali meningkat. Hal itu dipengaruhi oleh ekspektasi kelanjutan kenaikan Fed Funds Rate dan gejolak pasar keuangan Turki. 

Sekaligus memicu peningkatan tekanan di pasar keuangan emerging markets, khususnya di negara-negara yang mengalami ketidakseimbangan eksternal.

"Di tengah peningkatan tekanan di pasar keuangan global, pasar modal domestik pada Agustus 2018 terpantau masih relatif stabil," papar Wimboh.

Per 24 Agustus 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan sebesar 0,5% secara month to date (mtd), ditopang oleh masuknya investor domestik. 

Sedangkan di pasar Surat Berharga Negara, yield tenor jangka pendek, menengah, dan panjang meningkat masing-masing sebesar 128  basis points (bps), 162 bps, dan 122 bps. Pada periode tersebut, investor nonresiden mencatat net sell di saham sebesar Rp2,5 triliun, dan net buy di SBN sebesar Rp8,2 triliun.

Sponsored

Sementara itu, kinerja intermediasi sektor jasa keuangan pada Juli 2018 secara umum masih bergerak positif. Kredit perbankan dan piutang pembiayaan masing-masing tumbuh sebesar 11,34% year on year (yoy) dan 5,53% yoy, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yakni 10,75% dan 5,18%. 

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,89% yoy (Juni 6,99%). Premi asuransi jiwa dan asuransi umum atau reasuransi masing-masing mencatat pertumbuhan sebesar 23,6% yoy dan 14,8% yoy.

Sementara di pasar modal, penghimpunan dana oleh korporasi pada periode Januari-Juli 2018 telah mencapai Rp108 triliun, dengan emiten baru sebesar 35 perusahaan. 

Total dana kelolaan investasi hingga akhir Juli 2018 telah mencapai Rp717,6 triliun, meningkat 4,63% dibandingkan akhir tahun 2017. 

"Di tengah berlanjutnya volatilitas di pasar keuangan dalam negeri, profil risiko lembaga jasa keuangan, yakni risiko kredit, pasar, dan likuiditas masih terjaga pada level yang manageable," klaim Wimboh.

Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,73% (Juni 2,67%), sedangkan rasio Non-Performing Financing (NPF) perusahaan pembiayaan berada pada level 3,18% (Juni 3,15%).

Sementara itu, permodalan lembaga jasa keuangan tercatat pada level yang cukup tinggi. Capital Adequacy Ratio perbankan per Juli 2018 tercatat sebesar 22,76%, sedangkan Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 311% dan 457%. Dinamika di pasar keuangan diperkirakan masih akan berlanjut seiring masih tingginya downside risk di lingkup global. 

Kendati begitu, OJK akan mencermati berbagai perkembangan di perekonomian dan pasar keuangan, serta dampaknya terhadap likuiditas pasar keuangan dan kinerja sektor jasa keuangan nasional. 

Beberapa faktor risiko yang menjadi perhatian di antaranya adalah perkembangan suku bunga dan likuiditas global, gejolak di pasar keuangan emerging markets, dan tensi perang dagang. 

"OJK akan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional serta memperkuat koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait," pungkasnya.
 

Berita Lainnya