close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Deputi Bidang koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Odo R.M. Manuhutu dalam sesi panel diskusi di acara laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (LTABI) 2022, Senin
icon caption
Deputi Bidang koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Odo R.M. Manuhutu dalam sesi panel diskusi di acara laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (LTABI) 2022, Senin
Bisnis
Senin, 30 Januari 2023 14:48

Pariwisata Indonesia butuh kunjungan wisata domestik

Kemenkomarves dorong 5 kali peningkatan jumlah wisatawan nusantara.
swipe

Deputi Bidang koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Odo R.M. Manuhutu menyampaikan, pariwisata di Asia terutama Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan yang pemulihan kunjungan wisata mancanegara (wisman) paling lambat pascapandemi Covid-19. Hal ini pun membuat negara-negara yang bergantung pada wisman, mengalami penurunan pendapatan dari pariwisata di 2020 hingga 2022.

“Akibatnya apa, seperti misalnya Thailand mengambil kebijakan yang cukup kontroversial terutama bagi Indonesia , yaitu wisata Gajah,” kata Odo dalam sesi panel diskusi di acara laporan Transparansi dan Akuntabilitas Bank Indonesia (LTABI) 2022, Senin (30/1).

Kondisi ini berbeda dengan negara yang sektor pariwisatanya mengandalkan sektor domestik. Oleh karena itu, Odo meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk lebih mendorong industri pariwisata yang bergantung pada sektor domestik.

Dia pun menjelaskan, Kemenkomarves telah berupaya meningkatkan jumlah wisatawan dalam negeri (domestik) atau nusantara. Dari data Kemenkomarves, disebutkan jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) per penduduk di Indonesia masih rendah, yaitu 2,6 kali per tahun dibandingkan dengan Malaysia, Tiongkok, dan Jepang. Sehingga, saat ini sedang didorong untuk meningkat hingga 5 kali lipat mendekati Tiongkok.

Odo menuturkan, jika Indonesia bisa mencapai target dari 2022 sekitar 800 juta perjalanan menjadi 1,2 miliar hingga 1,4 miliar, maka akan meningkatkan pendapatan negara.  

“Dari hasil simulasi, jika terjadi peningkatan hingga 5 kali lipat, maka akan memberikan dampak ekonomi langsung di kisaran Rp3.310,15 triliun atau setara 20,9% dari PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) 2019 melebihi mencapai 2019,” tutur Odo.

Odo memperkirakan di 2023, pariwisata Indonesia akan mulai bergantung pada sektor domestik hingga 90%, sedangkan pada asing hanya 10%. Untuk mencapai perkiraan tersebut, ia meminta peran pemerintah untuk diperkuat, yang salah satunya dilakukan saat ini adalah dana sekitar Rp6,5 triliun telah digelontorkan untuk pembangunan terutama fasilitas, infrastruktur, dan aksesibilitas di lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP).

“Belajar dari negara-negara maju, mereka bukan investasi pada promosi, tapi justru dari infrastruktur. Ketika infrastruktur rapi, destinasi bagus, dan atraksi juga baik, maka peningkatan kunjungan baik wisman maupun wasnas tentu akan terjadi. Jadi yang diubah adalah, promosi iya, yang paling penting adalah pembangunan pariwisatanya,” kata Odo menegaskan. 

img
Erlinda Puspita Wardani
Reporter
img
Ayu mumpuni
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan