logo alinea.id logo alinea.id

Pemerintah tarik utang lagi, cadangan devisa naik US$2,1 miliar

Penarikan utang luar negeri pemerintah membuat cadangan devisa akhir Juli 2019 naik US$2,1 miliar menjadi US$125,9 miliar.

Sukirno
Sukirno Rabu, 07 Agst 2019 20:34 WIB
Pemerintah tarik utang lagi, cadangan devisa naik US$2,1 miliar

Penarikan utang luar negeri pemerintah membuat cadangan devisa akhir Juli 2019 naik US$2,1 miliar menjadi US$125,9 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko mengatakan, cadangan devisa pada akhir Juli tersebut meningkat bila dibandingkan dengan posisi pada akhir Juni 2019 sebesar US$123,8 miliar.

Menurut dia, peningkatan cadangan devisa itu terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa minyak dan gas, valas lainnya, serta penarikan utang luar negeri pemerintah.

Dia mengatakan, posisi cadangan devisa pada Juli tersebut setara dengan pembiayaan 7,3 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

"Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik," kata Onny, Rabu (7/8).

Rupiah dan IHSG melejit

Sementara itu, penguatan cadangan devisa juga menjadi salah satu sentimen positif bagi kurs rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sponsored

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (7/8) sore, menguat setelah meredanya konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan China serta kawalan ketat dari Bank Indonesia di pasar uang.

Rupiah menguat 52 poin atau 0,36% menjadi Rp14.225 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.277 per dolar AS.

"Perselisihan antara dua ekonomi terbesar dunia ini kembali mereda dari sebelumnya dan pasar kembali bergairah mengoleksi rupiah walaupun dolar menguat, di samping adanya pengawalan ketat dari BI," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta.

Menurut Ibrahim, pelaku pasar saat ini boleh lega karena masih ada harapan AS dan China kembali ke meja perundingan. Kedua negara memang menyepakati pertemuan di Washington awal bulan depan.

Penasihat Ekonomi Gedung Putih Lawrence 'Larry' Kudlow mengungkapkan rencana pertemuan dengan China masih ada di atas meja. Bahkan kalau ada perkembangan positif dalam dialog, AS bisa saja mengubah kebijakan bea masuknya.

Di sisi lain, apa yang disangkakan oleh AS terhadap China yang disebut mulai melancarkan perang mata uangnya, hari ini tidak terbukti karena mata uang yuan kembali menguat. Yuan sengaja dilemahkan agar ekspor China tetap kompetitif dan sebagai sarana untuk menggertak AS.

Ini semua terjadi karena akhir pekan lalu AS menebar ancaman akan menerapkan bea masuk 10% bagi importasi produk-produk buatan China senilai US$300 miliar. Kebijakan ini rencananya berlaku mulai 1 September 2019.

"Balasan China ternyata lebih pedih. China 'memainkan' nilai tukar yuan agar produk China tetap menarik di pasar global, termasuk di AS," ujar Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.265 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.215 per dolar AS hingga Rp14.292 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu ini menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.275 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.344 per dolar AS.

Dari lantai bursa, IHSG akhirnya ditutup melonjak tajam dengan penguatan 1,38% pada perdagangan saham Rabu (7/8). IHSG ditutup melompat 84,72 poin ke level 6.204,19.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi 6.221,66 dengan penguatan 1,67%. Namun, IHSG sedikit melemah menjelang akhir perdangan. 

Total transaksi sepanjang hari mencapai Rp8,69 triliun dengan volume 14,9 miliar saham diperdagangkan. Kapitalisasi pasar IHSG juga kembali menghijau dengan nilai Rp7.116 triliun.

Penguatan IHSG hari ini membuat capaian sejak awal tahun (year-to-date/ytd) kembali berada di zona positif dengan pertumbuhan 0,16%. Nyaris seluruh sektor di lantai bursa menguat, kecuali aneka industri yang turun 0,11% dan properti 0,06%.

Meski menguat, investor asing masih saja melepas portofolio di lantai bursa. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp216,81 miliar dan membuat perolehan net buy sejak awal tahun menipis menjadi Rp64,61 triliun. (Ant)