logo alinea.id logo alinea.id

Saat Darmin Nasution bertutur soal kopi

Berdasarkan data International Coffee Organization, produksi kopi di Indonesia pada 2017 terhadap 2016 menurun 5,1%.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 08 Agst 2018 11:40 WIB
Saat Darmin Nasution bertutur soal kopi

Indonesia merupakan salah satu negara produksi kopi dunia, tidak heran jika pemerintah serius meningkatkan produksi dan mutu kopi nasional. Apalagi minum kopi bersama sudah menjadi gaya hidup dari sejumlah kalangan masyarakat.

Hal itu tidak mengherankan. Pasalnya, masyarakat Indonesia memiliki budaya minum kopi bersama. Hal itulah yang menyebabkan jumlah pecinta kopi di Indonesia sangat besar. Salah satunya adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution.

Kecintaan Darmin terhadap kopi ternyata tidak terlepas dari daerah asalnya,  Mandailing Natal yang menjadi salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, sejak hampir 200 tahun lalu. 

"Boleh percaya atau tidak, dulu di Mandailing itu, ada anak muda yang sekolah ke Eropa. Padahal waktu itu, di Jawa belum ada yang sekolah ke Eropa," ujarnya dalam acara diskusi Strategi Kebijakan dan Program Pengembangan Kopi Indonesia untuk Merespons Kebutuhan Agroindustri Kopi Global di Jakarta, Rabu (8/8). 

Sesuai dengan perkembangan zaman, kini kopi bukan hanya sebagai minuman penyegar. Tetapi juga menjadi gaya hidup, yang tentu bisa menjadi sumber edukasi kekayaan negara. 

Sampai kini, ada 21 jenis kopi di Indonesia yang telah memperoleh sertifikasi indikasi geografis, yang telah diterbitkan Kemenkumham sebagai produk berkualitas dan spesifik. 

"Oleh sebab itulah, diperlukan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kopi Nasional yang mensinergikan kemampuan dan langkah seluruh stakeholder nasional maupun daerah dalam program bersama. Sehingga, menjadi kekuatan yang besar untuk mengatasi kesulitan petani dalam mengakses lahan, teknologi unggul, sarana produksi, modal finansial, serta pasar," jelas Darmin. 

Program bersama ini dilakukan Kemenko Perekonomian bersama dengan PT Riset Perkebunan Nusantara guna memperoleh kesepakatan terkait mengatasi masalah kopi di Indonesia. 

Sponsored

Darmin pun menyampaikan areal kebun kopi di Indonesia mencapai 1,25 juta ha. Terdiri dari kopi robusta (0,91 juta ha atau 73%) dan arabika (0.34 juta ha atau 27%). Baik kopi robusta maupun arabika sebagian besar dikelola petani, yakni dengan persentase 96% dan 96,5%. 

"Dominannya kebun kopi yang dikelola petani merupakan pintu masuk untuk menjalankan pembangunan ekonomi menuju pertumbuhan, dan pemerataan serta untuk penanggulangan kemiskinan," ujar Darmin. 

Sementara itu, berdasarkan data International Coffee Organization, produksi kopi di Indonesia pada 2017 terhadap 2016 menurun 5,1%. Pada 2017 Indonesia berhasil memproduksi 654,12 juta ton, sementara 2016 sebanyak 689,46 juta ton. 

Luas lahan kopi yang dikelola setiap keluarga petani umumnya relatif sempit. Rata-rata 0,71 ha per keluarga untuk robusta, dan 0,58 ha/keluarga untuk arabika. Padahal idealnya luas minimal kebun kopi yang dikelola setiap keluarga petani adalah seluas 2,69 ha per keluarga untuk kopi robusta dan 1,44 ha per keluarga untuk kopi arabika.