sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Penyandang difabel mampu melangkah, paradigma harus diubah

Cara pandang masyarakat yang masih menganggap difabel tidak mampu, semakin memberatkan mereka dalam melangkah.

Anisatul Umah
Anisatul Umah Selasa, 21 Des 2021 15:07 WIB
Penyandang difabel mampu melangkah, paradigma harus diubah

Pemilik The Able Art Tommy Budianto mengatakan, banyak tantangan yang dihadapi untuk membuat penyandang difabel berdaya. Salah satunya adalah melawan paradigma dari masyarakat.

Cara pandang masyarakat yang masih menganggap difabel tidak mampu, semakin memberatkan mereka dalam melangkah. Penyandang difabel kerap dianggap tidak bisa mandiri. 

"Paradigma di masyarakat kita, teman difabel gak bisa independen, gak bisa mandiri lakukan sesuatu dan finansial," paparnya dalam Alinea Forum Difabel Berdaya Jadi Pemasar, Bantu Pulihkan Perekonomian, Selasa (21/12).

Tommy menceritakan, dirinya memiliki background IT dan senang dengan kegiatan sosial. Lalu dia mendirikan The Able Art, menjual produk yang basicnya adalah lukisan.

Dari lukisan ini diturunkan ke dalam beberapa produk untuk dijual. Para penyandang disabilitas dilibatkan olehnya, sehingga mereka bisa punya pendapatan tambahan dari jualan produk.

"Saya kepikiran gimana usaha yang sekaligus bisa membantu khususnya teman-teman yang ada kekurangan. Dari sini saya terinspirasi dari talk show yang hadirkan pelukis difabel, saya kepikiran ajak mereka joint," kenangnya.

Menurutnya, banyak sekali teman-teman difabel yang mau belajar melukis. Melihat potensi ini dia memberikan subsidi berupa alat lukis dan gambar.

"Ini tantangan saya untuk mendorong teman-teman kreasi berusaha. Banyak teman-teman difabel yang baru belajar lukis gambar, tetapi kadang mindset gak bisa," paparnya.

Sponsored

Dia menegaskan kemandirian secara ekonomi bagi difabel sangat penting. Tommy bercerita pernah suatu saat berkunjung ke yayasan di Bali. Yayasan ini menampung anak-anak difabel.

Di dalam yayasan, penyandang difabel tidak dilatih bekerja, sehingga hanya mengandalkan belas kasih orang lain seperti wisatawan asing yang berkunjung. Saat pandemi terjadi mereka bingung karena tidak ada kunjungan lagi.

"Pas Covid-19 ada bule datang ke Bali? Gak ada. Mereka telpon minta beras minta sumbangan. hal-hal kayak gini ini tantangan," tegasnya.

Berita Lainnya
×
tekid