sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Produksi migas Indonesia capai 1,8 juta barrel di kuartal III-2019

Investasi hulu migas di kuartal III-2019 tumbuh sebesar US$8,4 miliar.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Kamis, 24 Okt 2019 14:36 WIB
Produksi migas Indonesia capai 1,8 juta barrel di kuartal III-2019

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan produksi minyak dan gas (lifting migas) hingga September 2019 mencapai 1,8 juta barrel setara minyak (Barel ‎Oil Equivalent Per Day/BOEPD). Realisasi ini mencapai 89% dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2 juta BOEPD.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto merinci dari total 1,8 juta boepd, sebesar 745.000 BOEPD merupakan lifting minyak dan lifting gas sebesar 1,05 juta BOEPD. 

"Sebesar 84% total lifting hulu migas merupakan kontribusi dari sepuluh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) utama dan 16% didukung 80 KKKS lainnya," katanya di Kantor SKK Migas, Kamis (24/10).

Dwi menjelaskan, realisasi lifting migas tersebut berdampak kepada realisasi penerimaan negara yang sampai September 2019 hanya tumbuh US$10,99 miliar.

“Hal ini (penerimaan negara) dipengaruhi ICP (Indonesia Crude Price) yang sebesar 60an dolar per barrel. Ini cukup jauh di bawah target asumsi makro APBN yaitu US$ 70,” ujarnya.

Namun demikian, investasi hulu migas di kuartal III-2019 tumbuh sebesar US$8,4 miliar meningkat 11% dibandingkan investasi di kuartal tiga tahun 2018 yang hanya sebesar US$7,6 miliar.

Dia pun memprediksi investasi hulu migas ke depan akan terus meningkat mengingat hingga tahun 2027 terdapat 42 proyek utama dengan total investasi US$ 43,3 miliar dan proyeksi pendapatan kotor (gross revenue) sebesar US$ 20 miliar. 

"Total produksi dari 42 proyek tersebut 1,1 juta BOEPD yang mencakup produksi minyak sebesar 92,1 ribu BOEPD dan gas sebesar 6,1 miliar kaki kubik per hari," ucapnya.

Sponsored

Empat di antaranya merupakan proyek strategis nasional (PSN) hulu migas yang menjadi prioritas untuk meningkatkan produksi migas demi memenuhi konsumsi migas domestik yang semakin meningkat.

Peningkatan kapasitas nasional yang dilakukan hulu migas bukan hanya dengan mendukung kebutuhan energi, tetapi juga dengan melakukan efisiensi biaya dan efek berganda (multiplier effect) yang mendukung perekonomian daerah dan nasional. 

Sementara, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di industri hulu migas hingga awal Oktober 2019 telah mencapai angka 55% dari target 50% di tahun 2019. 

“SKK Migas terus mengedepankan efisiensi di industri hulu migas, baik dengan kolaborasi kerjasama strategis dengan Pertamina dan Garuda Indonesia, maupun dengan percepatan proses tender,” jelas Dwi. 

Nilai efisiensi dari nota kesepahaman tentang penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan PT Pertamina (Persero) mencapai Rp294 miliar, sedangkan dengan PT Garuda Indonesia mencapai Rp33 miliar.