logo alinea.id logo alinea.id

Sentimen global dominasi pelemahan IHSG dan rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah begitu pula dengan nilai tukar rupiah.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 13 Agst 2019 18:45 WIB
Sentimen global dominasi pelemahan IHSG dan rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah sebesar 0,63% atau 39 poin menjadi 6.210. Sektor industri dasar, barang konsumsi, dan aneka industri bergerak negatif dan menjadi kontributor terbesar penurunan IHSG.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan IHSG sejalan dengan pelemahan pasar saham Asia di akhir perdagangan hari ini.

"Turunnya indeks di pasar Asia karena adanya kecenderung dari pelaku pasar akan kekhawatiran dengan kondisi geopolitik yang tejadi saat ini," ujar Nico di Jakarta, Selasa (13/8). 

Nico melanjutkan, perseteruan antara Jepang dan Korea Selatan menjadi perhatian kalangan investor. Dalam perkembangannya, Korea Selatan melakukan down grade status perdagangan dengan Jepang dari mitra dagang yang terpecaya.

Selain itu, aksi demonstrasi di Hong Kong yang semakin memanas menambah kecemasan akan kondisi ekonomi Hong Kong.

Beralih ke benua Amerika, kondisi gejolak politik Argentina juga turut memberikan sentimen negatif terhadap pasar saham utama Argentina yang turun 35% dan mata uang turun 25% terhadap dolar Amerika Serikat. 

Nico mengatakan sentimen negatif tersebut datang setelah presiden petahana Argentina Mauricio Macri kalah dalam pemilu yang membuat investor panik.

Rupiah tertekan

Sponsored

Sama halnya seperti IHSG, rupiah pada penutupan perdagangan hari ini ditutup melemah pada level 14.283.

Direktur Utama Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah ini disebabkan oleh ketidakpastian hubungan dagang AS dan China yang mendorong minat investor mengoleksi emas.

"Beberapa analis memperkirakan jika perang dagang AS-China terus tereskalasi, bisa menyebabkan perekonomian global jatuh pada resesi," ujar Ibrahim.

Hal itu, lanjut Ibrahim, karena AS dan China merupakan dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Pengaruh dari perang dagang mereka akan melebar ke seluruh penjuru negeri. 

Selain itu, keresahan politik di Hong Kong yang menyebabkan bandara kota menghentikan operasi membuat  indeks dolar diuntungkan. Sehingga dikhawatirkan banyak dana asing yang keluar dari Tiongkok dan akan berpengaruh terhadap perekonomian Tiongkok.

Kemudian, dari dalam negeri Bank Indonesia (BI) kembali memantau keadaan pasar dengan cara melakukan intervensi dalam pasar obligasi dan valas melalui transaksi DNDF. 

Intervensi tersebut bertujuan membendung penghindaran risiko yang dipicu kekhawatiran akan krisis keuangan di Argentina dan risiko politik di Hong Kong, serta perang dagang. 

"Walaupun intervensi ini hanya menahan pelemahan sesaat, tetapi BI benar-benar ikut berjibaku dalam menstabilkan mata uang rupiah," kata Ibrahim. 

Ibrahim memperkirakan, untuk transaksi besok rupiah kemungkinan masih akan melemah  di level 14.260-14.340.