sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

'Seumur jagung', bisnis florikultura Bogor tembus pasar ekspor

Barantan memberikan pendampingan agar prosedur budi daya menerapkan sanitary and phytosanitary (SPS).

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Kamis, 03 Sep 2020 10:49 WIB
'Seumur jagung', bisnis florikultura Bogor tembus pasar ekspor
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Bisnis tanaman hias di Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar), telah berkembang. Meski berada di bawah kaki Gunung Salak dan jauh dari perkotaan, usaha CV Flora Berkah Abadi mampu menembus pasar global.

"Berawal dari hobi suami yang suka dengan tanaman dan ada peluang ekspor tanaman hias," tutur pemilik CV Flora Berkah Abadi, Rizqa, dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9).

Usahanya dirintis sejak Oktober 2019. Budi daya dikembangkan di Desa/Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.

Dirinya menjelaskan, berbagai jenis tanaman hias yang dikembangkan telah menjangkau pasar dunia. "Di antaranya Anthurium varians, Monstera albo, Monstera peru, Philodendron varians, Calathea varians, Scindapsus treubii, Scindapsus silver splash, Alocasia black velvet, Alocasia silver dragon, Aglaonema pictum."

Florikultura tersebut diekspor ke Eropa, Amerika, Kanada, Singapura, Hong Kong, Malaysia, dan Thailand. CV Flora Berkah Abadi didampingi Badan Karantina Pertanian (Barantan) agar menerapkan prosedur sanitary and phytosanitary (SPS)–bagian dari kesepakatan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) berkaitan dengan hubungan antara kesehatan dan perdagangan internasional.

"Selama satu bulan, kami dapat melakukan pengiriman kurang lebih 10 kali. Harga setiap tanaman pun bervariasi dan yang paling mahal seharga US$200. Biaya pengiriman ditanggung oleh pihak pembeli," jelasnya.

Selain CV Flora Berkah Abadi, terdapat sembilan pengusaha lain yang bergerak di bisnis serupa. Penjualan dilakukan secara daring (online) maupun luring (offline). 

Mereka, yang didominasi kaum milenial, telah tergabung dalam Komunitas Pencinta Tanaman Hias Ciapus (KPTHC). Anggotanya mencapai 100 orang.

Sponsored

Upaya tersebut diapresiasi Direktur Buah dan Florikultura Ditjen Hortikultura Kementan, Liferdi Lukman. Apalagi, berkembang pesat meskipun belum lama dirintis.

"Ini adalah pencapaian yang luar biasa. Hobi yang dikerjakan dengan penuh profesional akan memberikan hasil yang optimal," ujarnya.

Berita Lainnya