sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sri Mulyani beberkan sejumlah BUMN yang terancam bangkrut

Kementerian Keuangan memberikan penilaian dengan metode Z-Score kepada badan usaha milik negara (BUMN).

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Senin, 02 Des 2019 19:05 WIB
Sri Mulyani beberkan sejumlah BUMN yang terancam bangkrut

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memberikan penilaian terhadap badan usaha milik negara (BUMN) yang mendapat penyertaan modal negara (PMN) melalui metode Z Score. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, dari penailaian ini, diketahui neraca keuangan beberapa BUMN mendapat skor di bawah 1,3 atau disebut hampir bangkrut.

“Dari indikator Z-Score yang memprediksi kebangkrutan, kesulitan likuiditas, dan pemenuhan kewajiban, ada dua kelompok BUMN masuk kategori distress, di bawah nilai 1,3 yaitu aneka industri dan pertanian,” ucap Sri Mulyani dalam paparannya di rapat dengar pendapat bersama Komisi XI, Senin (2/12).

Dalam kesempatan ini, Sri Mulyani menjabarkan penilaian terhadap BUMN melalui Z-Score untuk memantau kerentanan kondisi keuangan BUMN. Penilaian ini mencakup rasio kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atau return of equity (RoE) dan kemampuan dalam membayar utang atau debt to equity ration (DER).

Z-score ini mempunyai tiga kategori yaitu hijau berarti aman, kuning berarti waspada dan merah berarti kondisi sebelum kebangkrutan (distress).

Kinerja Keuangan BUMN  Penerima PMN (Per Desember 2018) / Kementerian Keuangan

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata mengungkapkan Z-Score ini merupakan upaya untuk menilai kerentanan kondisi neraca keuangan BUMN.

Dengan adanya penilaian ini, maka Kemenkeu bisa lebih berhati-hati dalam memberikan PMN, karena tujuan pemberian modal ini untuk menciptakan jaminan atas kembalinya keuntungan.

Ia mencontohkan setiap investasi Rp1 yang ditanamkan melalui PMN seharusnya bisa mendapatkan Rp5 melalui upaya leverage surat utang yang nantinya akan dibayarkan kembali.

Sponsored

"Artinya Rp1 yang dikeluarkan oleh APBN itu menghasilkan 2,7, dua kali lipat yang lain, sehingga kesempatan untuk mendapatkan proyek yang lebih besar bisa terjadi," kata Isa.

Dia menjelaskan, cara pengukuran Z Score adalah dengan melihat kerentanan perusahaan tersebut terhadap gejolak yang mungkin terjadi dengan menghitung aset lancar dan juga EBITDA.

Sebagian besar BUMN yang mendapatkan PMN berada dalam kategori merah dan rugi yaitu PT Dok Kodja Bahari, PT Sang Hyang Seri, PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pertani, Perum Bulog, dan PT Krakatau Steel.

Dari Z Score tersebut dapat dilihat PT Hutama Karya (Persero) mendapat skor sebesar 0,42. Skor yang rendah juga ditemukan untuk PT Jasa Marga Tbk. minus 0,2, Perum Bulog yang hanya 0,93 dan PT Djakarta Lloyd (Persero) minus 2,11.

Sementara, untuk sejumlah BUMN dari sektor industri mengalami skor yang jeblok seluruhnya, ditandai dengan warna merah seperti PT Dirgantara Indonesia (Persero) minus 0,84; PT Pindad (Persero) 1,02; PT Industri Kereta Api (Persero) 0,92; PT Barata Indonesia (Persero) 0,83.

Kinerja Keuangan BUMN  Penerima PMN (Per Desember 2018) / Kementerian Keuangan

Lalu, PT Krakatau Steel (Persero) 0,47; PT Dok dan Kodja Bahari (Persero) minus 1,72; PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) minus 1,23; PT Industri Kapal Indonesia (Persero) 0,89; PT PAL Indonesia (Persero) minus 0,1

Dari sektor perkebunan BUMN seperti PT Perkebunan Nusantara III (Persero) 0,35 dan PT Pertani (Persero) 0,82 juga mengalami skor yang amat rendah.

Kinerja Keuangan BUMN  Penerima PMN (Per Desember 2018) / Kementerian Keuangan

Z Score merupakan indeks yang digunakan untuk memprediksi atau mengukur peluang kebangkrutan sebuah perusahaan dalam waktu dua tahun ke depan. 

DJKN sendiri menggunakan indikator kategori aman di atas 2,9 dan kategori distress di bawah 1,23, sedangkan di bawah 2,9 hingga 1,23 berada di kategori waspada.

Sementara itu, BUMN yang berada di ambang kebangkrutan atau harus diwaspadai adalah sejumlah perusahaan di sektor konstruksi seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan skor sebesar 1,44 dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk sebesar 2,41.

Selain itu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) 2,25; PT Aneka Tambang Tbk 1,82; dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebesar 1,87.