sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Stimulus Covid-19 di Indonesia lebih kecil dari negara lain

Indonesia hanya mengalokasikan anggaran stimulus sebesar 2,6% dari produk domestik bruto (PDB).

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Senin, 20 Apr 2020 18:40 WIB
Stimulus Covid-19 di Indonesia lebih kecil dari negara lain
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 543.975
Dirawat 71.420
Meninggal 17.081
Sembuh 454.879

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai stimulus fiskal untuk penanganan Covid-19 di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara lainnya.

Indonesia hanya mengalokasikan dana stimulus ekonomi untuk menanggulangi Covid-19 sebesar Rp405,1 triliun atau setara 2,6% dari produk domestik bruto (PDB). Sementara, negara seperti Malaysia mencapai 17%, Amerika Serikat (AS) 11%, dan Jepang bahkan 20% dari PDB.

"Kita melihat terhadap PDB stimulus ini masih kecil," katanya dalam video conference, Senin (20/4).

Sementara itu, negara lainnya seperti Australia menggelontorkan stimulus hingga 16,4% dari PDB, Singapura 12% dari PDB, Thailand 11% dari PDB, Kanada 8,4% dari PDB, Jerman 4,9% dari PDB, dan Brazil 3,5% dari PDB.

David menuturkan dampak stimulus di berbagai negara maju dan berkembang tersebut telah menciptakan sedikit ketenangan di pasar keuangan global termasuk Indonesia.

Namun, dia menekankan bahwa kebutuhan setiap negara berbeda-beda. Sebab, dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 bagi masing-masing negara pun berbeda.

Sehingga, menurutnya, besaran stimulus yang digelontorkan oleh pemerintah saat ini cukup memadai bagi perekonomian nasional, meski besarannya harus terus dievaluasi ke depannya seiring dengan perkembangan pandemi di tanah air.

"Ini patut dimaklumi karena skala dan dampak Covid-19 di masing-masing negara berbeda-beda, Jepang 20%, Malaysia 17%, AS 11% terhadap PDB. Itu kenapa kita 2,6%," ujarnya.

Sponsored

David menuturkan stimulus yang digelontorkan pemerintah menurutnya akan sangat membantu masyarakat di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti di Jakarta dan kota lainnya. Sekaligus mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat.

"Stimulus mulai melebar enggak hanya dari sisi suplai tapi juga demand, ini sangat penting untuk menjaga dan memberikan buffer ke masyarakat terutama daerah yang terdampak PSBB, ini untuk jaga daya beli masyarakat," ucapnya.

Berita Lainnya