sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tax holiday tak bisa langsung mendongkrak industri manufaktur

Pertumbuhan ekonomi di sektor manufaktur mengalami perlambatan pada kuartal II-2019, yakni hanya sebesar 3,62%.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Sabtu, 10 Agst 2019 21:39 WIB
Tax holiday tak bisa langsung mendongkrak industri manufaktur

Tax holiday tak bisa langsung mendongkrak industri manufaktur 

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, mengatakan kebijakan pemerintah terkait tax holiday atau super deductible tax tak bisa instan langsung mendongkrak industri manufaktur di tanah air. Pasalnya, pertumbuhan industri pengolahan atau manufaktur memerlukan waktu.

“Meskipun investasi yang masuk cukup tinggi, penerapan kebijakan baru seperti super tax dan tax holiday pada industri manufaktur tidak bisa terjadi secara instan,” kata Airlangga di Jakarta pada Sabtu, (10/8).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi di sektor manufaktur mengalami perlambatan pada kuartal II-2019, yakni hanya sebesar 3,62% secara tahunan atau year-on-year (yoy).\

Karena itu, untuk meningkatkan sektor industri manufaktur, kata Airlangga, pemerintah bakal mendorong ekspor. Selain itu, juga mendorong para pelaku industri percaya diri dengan iklim investasi yang dibangun pemerintah.

“Mendirikan pabrik saja kita butuh waktu dua hingga tiga tahun, sehingga ke depan kita akan mendorong ekspor dan mendorong industri percaya diri dengan iklim investasi yang diciptakan pemerintah,” kata dia.

Menurut Airlangga, industri pengolahan atau manufaktur memberikan kontribusi terbesar kepada struktur produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 20% dibanding dengan sektor lain seperti perdagangan dan pertanian.

Tak hanya itu, Airlangga menyebut ekspor tertinggi Indonesia sebesar 74% ternyata berasal dari sektor manufaktur. Angka ini lebih tinggi dari ekspor minyak dan gas, agrikultur atau pertanian dan pertambangan. 

Sponsored

Airlangga menuturkan, kondisi ekspor yang menjadi andalan tanah air telah berbeda. Pada era 2000-an, sector komoditas masih menjadi primadona. Namun demikian, harga komoditas yang perlahan terus turun, maka eranya komoditas saat ini sudah berakhir. “Sekarang ini adalah eranya industri manufaktur,” tutur Airlangga. 

Industri manufaktur, kata dia, diharapkan bisa berkontribusi membangun Indonesia menjadi negara yang masuk sebagai tujuh besar ekonomi dunia pada 2030. 

"Kita sekarang di G-20, nomor 16. Tahun 2020 bisa jadi 10 besar dengan syarat ekonomi kita ubah menjadi ekonomi berbasis inovasi," ujarnya.