sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Utang luar negeri Indonesia naik 11% jadi Rp5.611 triliun

Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2019 meningkat menjadi US$400,6 miliar atau setara Rp5.611 triliun

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Senin, 16 Des 2019 17:10 WIB
Utang luar negeri Indonesia naik 11% jadi Rp5.611 triliun
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Oktober 2019 meningkat 11,9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$400,6 miliar atau setara Rp5.611 triliun (asumsi kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp14.008 per dolar AS akhir Oktober 2019).

Bank Indonesia dalam statitistik ULN menyebutkan terjadi peningkatan pada Oktober 2019 jika dibandingkan September 2019 yang tumbuh 10,4% (yoy).

"Peningkatan ini terutama dipengaruhi oleh transaksi penarikan netto ULN dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS," tulis Bank Sentral di Jakarta, Senin (16/12).

ULN Indonesia per Oktober 2019 ini terdiri atas US$202,0 miliar dari utang pemerintah dan Bank Sentral, dan US$198,6 miliar dari ULN sektor swasta yang juga termasuk ULN untuk BUMN.

BI mencatat pertumbuhan ULN yang meningkat ini juga dipengaruhi oleh peningkatan pertumbuhan ULN pemerintah, di tengah perlambatan ULN swasta.

Adapun jumlah ULN pemerintah pada akhir Oktober 2019 tercatat sebesar US$199,2 miliar atau tumbuh 13,6% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya. Pertumbuhan ULN terutama dipengaruhi oleh peningkatan arus masuk netto asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penerbitan surat utang global pada Oktober 2019.

Pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor produktif yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (19% dari total ULN pemerintah), konstruksi (16,5%), jasa pendidikan (16,1%), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,3%), serta jasa keuangan dan asuransi (13,4%).

Sedangkan jumlah ULN swasta pada akhir Oktober 2019 tumbuh 10,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada September 2019 yang sebesar 10,7% (yoy).

Sponsored

Perkembangan ini disebabkan oleh pertumbuhan ULN lembaga keuangan bukan bank (LKBB) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) yang melambat.

"Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), sektor industri pengolahan, serta sektor pertambangan dan penggalian. Pangsa ULN  keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,6%," tulis BI.

BI mengklaim struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) pada Oktober 2019 sebesar 35,8%, membaik dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya.

Di samping itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,4% dari total ULN.

Berita Lainnya