sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Bidik Afrika, WIKA garap superblok di Senegal senilai Rp3,9 T

WIKA menyasar negara-negara berkembang termasuk di Afrika dengan kebutuhan infrastruktur yang tinggi.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 03 Des 2019 12:15 WIB
Bidik Afrika, WIKA garap superblok di Senegal senilai Rp3,9 T

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) meneken kontrak pembangunan kawasan terpadu (mixed used) Goree Tower di Senegal, Senin (2/12) dengan L’Agence De Gestion Du Patrimoine Bati De L’Etat (AGPBE).

Direktur Operasi III WIKA Destiawan Soewardjono mengatakan proyek superblok Goree Tower di Senegal ini memiliki nilai kontrak tahap 1 sebesar 50 juta Euro, dari kesepakatan total sebesar 250 juta Euro atau Rp3,9 triliun (kurs Rp15.600).

“Kerja sama yang akan direalisasikan ini merupakan salah satu tonggak bersejarah bagi kiprah BUMN Karya Indonesia di Afrika Barat. Sebab, WIKA mampu mengerjakan proyek mulai dari social housing di Afrika, sampai proyek besar seperti Goree Tower Project ini," kata Destiawan, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/12).

Destiawan mengungkapkan, proyek ini merupakan tindak lanjut konkret business deals antara pemerintah Senegal dengan WIKA dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank pada acara Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID) di Bali, pada Agustus 2019.

Proyek Goree Tower ini merupakan proyek full design and build yang dikerjakan oleh WIKA, selaku kontraktor utama dengan masa pelaksanaan 24 bulan. Dalam proyek ini, WIKA akan mengerjakan beberapa pekerjaan meliputi pembangunan hotel bintang lima dengan 33 lantai, sky dining, gedung perkantoran, convention center, dan residential apartment.

Destiawan menuturkan, masuknya WIKA di pasar infrastruktur dan gedung Afrika, telah sesuai dengan strategi bisnis WIKA yang menyasar negara-negara berkembang dengan kebutuhan infrastruktur yang tinggi.

Tantangan ke depan, lanjut Destiawan yakni bersinergi yang baik bersama LPEI. Sehingga, ke depannya dapat memfasilitasi WIKA dan perusahaan Indonesia lainnya untuk memenuhi kapasitas pembiayaan infrastruktur negara-negara Afrika. Sebab, Destiawan melihat pembangunan infrastruktur negara Afrika trennya semakin naik dari tahun ke tahun.

"Apabila itu dapat terealisasi, maka akan meningkatkan peluang untuk membuka pasar lebih luas lagi bagi WIKA dan perusahaan Indonesia lainnya dalam melakukan ekspansi ke sejumlah negara, khususnya di wilayah Afrika," tutur Destiawan.

Sponsored

Untuk pelaksanaan proyek, WIKA mendapat fasilitas pembiayaan National Interest Account (NIA) dengan skema Buyer’s Credit melalui LPEI. Peyaluran fasilitas ini sejalan dengan strategi Pemerintah untuk memperluas ekspor Indonesia ke negara non-tradisional termasuk Afrika.

Sementara itu, Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly mengatakan proyek Goree Tower Senegal menambah keyakinan Internasional jika perusahaan Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar global.

Sinthya melanjutkan, kinerja ekspor perusahaan nasional sangat penting bagi peningkatan nilai neraca perdagangan. Untuk itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan nilai ekspor, baik dari sisi volume maupun pasar tujuan ekspor.

Potensi pasar Afirka

Sementara itu, penyelenggaraan Indonesia-Africa Forum 2018 dan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue pada Agustus 2019, kata Destiawan, telah memberikan peluang kerja sama yang nyata sebagai pasar prospektif bagi pelaku usaha Indonesia. Khususnya di sektor infrastruktur, konstruksi, serta industri strategis nasional. 

Dengan peluang tersebut, WIKA menargetkan pada 2020 akan menyasar tiga negara baru di kawasan Afrika Barat dan Afrika Timur, yaitu Senegal, Pantai Gading, dan Zanzibar-Tanzania.

Sebagai informasi, master plan proyek strategis nasional negara-negara di kawasan Afrika Barat dari tahun 2020-2045 di sektor infrastruktur, energi, telekomunikasi, dan railway akan mencapai nilai US$119,8 miliar. Hal tersebut menjadi potensi besar bagi BUMN Indonesia untuk berpartisipasi aktif menjajaki proyek-proyek tersebut.