sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

7 orang tewas dan 181 luka-luka dalam protes antimiliter di Sudan

Demonstrasi besar-besaran pada Minggu merupakan aksi skala besar pertama setelah militer menindak keras unjuk rasa pro-demokrasi awal Juni.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 01 Jul 2019 12:09 WIB
7 orang tewas dan 181 luka-luka dalam protes antimiliter di Sudan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Pada Minggu (30/1), Wakil Menteri Kesehatan Soliman Abdel-Gabar melaporkan bahwa setidaknya tujuh orang tewas dan 181 lainnya terluka selama demonstrasi di Sudan. Dari 181 yang terluka, 27 di antaranya dinyatakan menderita luka tembak.

"Ada beberapa yang terluka serius akibat peluru militer di beberapa rumah sakit ibu kota dan provinsi," kata pernyataan Komite Dokter Sudan.

Demonstrasi besar-besaran pada Minggu merupakan protes skala besar pertama setelah militer menindak keras unjuk rasa pro-demokrasi pada awal Juni yang menewaskan setidaknya 128 orang.

Puluhan ribu warga ambil bagian dalam protes pada Minggu di ibu kota, Khartoum. Pemrotes menuntut agar Dewan Militer Transisi (TMC) yang berkuasa menyerahkan kekuasaan kepada sipil.

"Kabashi, Anda pembohong, revolusi baru saja dimulai! Darah untuk darah, kami tidak akan menerima kompensasi," teriak pengunjuk rasa, merujuk pada juru bicara TMC Jenderal Shams Eddin Kabashi.

Pasukan keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstran di sekitar Istana Presiden dan tiga distrik lainnya di Khartoum. Gas air mata juga ditembakkan di Omdurman dan kota timur, Gadaref.

"Kami di sini untuk para martir yang tewas dalam aksi 3 Juni. Kami menginginkan negara sipil yang menjamin kebebasan kami. Kami ingin menyingkirkan kediktatoran militer," kata Zeinab, salah satu pengunjuk rasa.

Amjad Yousef, salah satu penyelenggara protes, menegaskan tidak akan pulang ke rumah kecuali semua tuntutan revolusi dipenuhi.

Sponsored

Protes yang semula ditujukan terhadap mantan Presiden Sudan Omar al-Bashir dimulai pada Desember 2018. Tetapi sejak militer berhasil menggulingkan Bashir dalam kudeta tidak berdarah pada April, mereka menolak mengizinkan berdirinya pemerintah sipil.

Wakil Kepala TMC Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo memperingatkan adanya pengacau yang memiliki agenda tersembunyi yang menyusup di antara pengunjuk rasa dan membahayakan jalannya demonstrasi.

"Ada pihak yang menembaki orang, mereka menembak tiga tentara dan lima atau enam warga," kata dia.

Militer menegaskan akan menindak keras dan meminta pertanggungjawaban dari pihak yang memicu kekerasan atau menyebabkan kehilangan nyawa dalam protes tersebut.

Dagalo dulunya merupakan sekutu Bashir, tetapi belakangan dia membelot. Dia memerintah salah satu pasukan paramiliter paling terkenal di Sudan dan telah dituduh melakukan pelanggaran HAM dalam konflik di Darfur.

Pada Sabtu (29/6), pasukan paramiliter membubarkan konferensi pers yang diadakan oleh Asosiasi Profesional Sudan (SPA), salah satu penyelenggara utama protes.

Demonstrasi pada Minggu datang saat Ethiopia dan Uni Afrika bersama-sama berupaya menengahi negosiasi antara oposisi dan militer. Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed dan Uni Afrika telah mengusulkan rancangan awal untuk membentuk badan pemerintah sipil yang dapat menjadi dasar untuk melanjutkan perundingan. Hingga kini, mediasi tersebut belum menghasilkan keputusan konkret dari militer maupun oposisi. (BBC dan The Guardian)

Berita Lainnya