sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bagaimana Thailand dan Korea menginvasi dunia lewat kuliner

Kimchi, bulgogi, tom yum, dan pad thai tak lagi jadi makanan asing bagi warga dunia.

Christian D Simbolon
Christian D Simbolon Senin, 10 Agst 2020 16:24 WIB
Bagaimana Thailand dan Korea menginvasi dunia lewat kuliner
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 252923
Dirawat 58788
Meninggal 9837
Sembuh 184298

Koki kondang asal Inggris, Gordon Ramsay, sempat menangguk malu saat menyajikan pad thai untuk dicicipi koki restoran Blue Elephant, Chang. Alih-alih dipuji sebagaimana biasanya, pad thai buatan Gordon malah diumpat Chang. 

"Ini bukan pad thai sama sekali. Pad thai rasanya harus manis, asam, dan asin," kata Chang sembari  menujukkan muka masam. 

Tak puas mendapat reaksi negatif, Gordon mencoba berargumen. Pengampu acara kompetisi memasak Hell's Kitchen itu menyebut pad thai buatannya sama sekali tidak buruk. 

"Buat kamu. Tapi, tidak buat saya," tukas Chang sebagaimana terekam dalam video bertajuk "Gordon tries to make Pad Thai" di kanal Youtube The F Word.

Pada 2018, video tersebut sempat disunting seorang warganet sehingga hanya menampilkan reaksi Chang dan argumentasi Gordon. Video editan itu sempat viral dan ditonton jutaan warganet. 

Pad thai ialah kuliner paling populer di Thailand. Dibuat dari kombinasi mie beras, potongan ayam, tahu, kacang, telur kocok, dan beragam sayuran, pad thai lazimnya dijajakan sebagai kuliner jalanan di Negeri Gajah Putih. 

Biasanya, bahan-bahan makanan untuk pad thai ditumis dalam wajan besar dengan api merata. Setelah rampung, racikan yang telah matang kemudian dilumuri saus khas pad thai. Kombinasi asam, manis, dan asin pun tercipta. 

Bagi Chang dan ribuan koki Thailand lainnya di seluruh dunia, rasa khas pad thai tak boleh diubah. Cita rasa kuliner bikinan mantan PM Thailand Plaek Phibunsongkhram pada 1930 itu haram dikompromikan dengan lidah para penghuni suatu negara. 

Sponsored

Ilustrasi pad thai, kuliner nasional Thailand. /Foto Unsplash

Tak hanya jadi kelaziman di kalangan koki, universalitas rasa juga menjadi hal yang wajib pada kuliner Thailand sejak awal 2000. Ketika itu, pemerintah Thailand meluncurkan Global Thai Campaign sebagai upaya memopulerkan kuliner dan mendongkrak jumlah restoran Thailand di seluruh dunia. 

Selain kementerian-kementerian dan instansi pemerintah, media massa, dan biro iklan juga ikut terlibat. Dengan kampanye itu, Thailand berharap dapat mengubah image sebagai destinasi turisme syahwat menjadi "keranjang makanan" di Asia dan dapur dunia.

Pada Februari 2002, The Economist memperkenalkan 'gastrodiplomasi' untuk mengulas inisiatif global Thailand itu. Belakangan, gastrodiplomasi disematkan sebagai terminologi untuk meringkus beragam inisiatif negara dalam menggunakan kuliner sebagai alat diplomasi. 

Salah satu strategi pemerintah Thailand ialah merilis Thai Select, sertifikat untuk restoran yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan dan Promosi Thailand. Untuk mendapatkan Thai Select, koki restoran harus mampu menghadirkan rasa makanan yang "tepat" dan sesuai standar. Thai Select juga "menilai" atmosfer dan keramahan sebuah restoran. 

Kriteria lain yang harus dipenuhi, semisal telah beroperasi minimal selama setahun, buka setidaknya lima hari dalam sepekan, disertifikasi oleh Visa atau perusahaan kartu kredit lainnya, menggunakan bahan-bahan dan peralatan dari Thailand, serta menawarkan setidaknya enam kuliner khas Thailand di menu. 

Thai Select dimaksudkan untuk menjaga kemurnian dan kekhasan cita rasa kuliner Thailand. Artinya, tak boleh ada bahan dan bumbu yang hilang. Itulah kenapa koki kelas dunia seperti Gordon Ramsay pun bisa gagal dalam membuat kuliner khas Thailand.   

"Ini membantu promosi standarisasi dan konsistensi di seluruh restoran Thailand. Dengan sertifikasi, pemerintah Thailand bisa mengontrol image dan kualitas restoran di luar negeri dam memastikan bahwa restoran-restoran mendapatkan bantuan pendanaan dan pinjaman," tulis Anna Lipscomb dalam "Culinary Relations: Gastrodiplomacy in Thailand, South Korea, and Taiwan?" yang dipublikasi di The Yale Review of International Studies pada 2019. 

Langkah lain untuk mempromosikan kuliner Thailand ialah dengan memberikan kemudahan visa bagi koki-koki yang akan bertugas di luar negeri. Bekerja sama dengan Selandia Baru, misalnya, Thailand memfasilitasi visa koki yang berdurasi hingga tiga tahun dan bisa diperpanjang. 

Demi mendongkrak jumlah restoran, pemerintah Thailand juga menggandeng para investor. Disediakan modelnya oleh pemerintah, pengusaha bisa memilih sejumlah tipe restoran yang bisa dibangun, dari yang bertipe fast food hingga elegan. Bagi warga negara Thailand yang ingin terjun ke bisnis restoran di luar negeri, pinjaman lunak pun disediakan. 

Inisiatif gastrodiplomasi Thailand itu berbuah manis. Jumlah restoran Thailand di seluruh dunia berlipat ganda, dari 5.500 pada 2001 menjadi 13.000 pada 2008. Kini, diperkirakan ada sekitar 20.000 restoran Thailand di seluruh dunia. 

Pasar makanan tradisional di Seoul, Korea Selatan. Foto Unsplash/Mike Swigunski

Global Hansik ala Korea Selatan

Kesuksesan Thailand "bikin iri" Korea Selatan (Korsel). Pada 2008, Korsel meluncurkan Global Hamsik pada pembukaan Korea Food Expo di Seoul. Inisiatif itu diluncurkan untuk memopulerkan makanan tradisional Korsel semisal kimchi dan bulgogi sebagai kuliner etnis dunia. 

"Globalisasi kuliner Korea adalah prioritas utama pemerintah. Jadi, bujet bakal disediakan untuk mencapai tujuan itu," kata Menteri Pertanian, Kehutanan, Perikanan, dan Makanan Korsel ketika itu, Chang Tae-pyong,  dalam peluncuran Global Hamsik sebagaimana dikutip The Korea Times

Untuk merealisasikan mimpi itu, pemerintah Korsel memberlakukan Hansik Foundation Act dan mendirikan Hansik Globalization Development Agency. Untuk tahap awal, anggaran sebesar 700 juta won atau sekitar Rp8,5 miliar disediakan. 

Anggaran itu disiapkan untuk program-program multisektor. Seperti Thailand, Korsel juga turut menggelar ajang-ajang khusus di luar negeri untuk mempromosikan kulinernya. Pada 2011, misalnya, Korean Food Foundation berkolaborasi dengan sembilan restoran di New York, Amerika Serikat, untuk menghadirkan truk-truk makanan gratis selama beberapa pekan. 

Strategi lain yang dijalankan termasuk pemberian beasiswa bagi mahasiswa jurusan kuliner, pelatihan bagi koki-koki asing yang ingin belajar kuliner Korsel, pemberian bantuan bagi restoran-restoran Korsel di luar negeri, serta merekrut selebritas untuk menjadi duta Global Hamsik. 

Dalam "Let Them Eat Royal Court Cuisine! Heritage Politics of Defining Global Hansik" yang diterbitkan di jurnal Gastronomica pada 2017, Chi-Hoon Kim mengatakan, promosi kuliner Korsel juga ikut mendompleng gelombang Hallyu atau gelombang invasi budaya pop Korea ke seluruh dunia. Disponsori negara, Hallyu juga diluncurkan hampir berbarengan Global Hansik.

"Gastrodiplomasi Korea dan kampanye hansik juga terefleksi dalam serial TV dan budaya film Korea. Contoh awal penggunaan televisi untuk memperkenalkan makanan Korea ialah tayangan drama Korea “Jewel in the Palace” pada 2003. Drama yang menunjukkan masakan dan budaya Korea itu diekspor ke 91 negara," tulis Kim. 

Promosi lewat musik juga gencar dilakukan. Di situs Hansik.or.kr, misalnya, album kolaborasi bertema makanan bisa diunggah. Nama-nama artis besar Korea semisal Jay Park, Electro Boyz and Big Star, dan Teen Top dilibatkan dalam pembuatan album tersebut. 

Wawancara dan video boy band Super Junior mempromosikan bibimbap juga bisa ditemukan di situs tersebut. Bibimbap ialah kuliner Korea yang memadukan nasi, daging, dan beragam sayuran. Pada 2011, bibimbap berada di peringkat ke-40 dalam daftar makanan paling enak versi pembaca CNN Travel. 

 

Meskipun dampak menyeluruhnya tidak bisa diukur, pada skala tertentu kampanye Global Hansik terbilang sukses. Sebuah survei yang digelar pemerintah Korsel, misalnya, menemukan bahwa tingkat popularitas makanan Korea naik signifikan di kalangan warga New York, dari 24.2% pada 2011 menjadi 64.3% pada 2016. 

The Korea Times mencatat jumlah restoran waralaba juga berlipat ganda karena terpengaruh Global Hansik. Pada 2012, tercatat hanya ada 234 restoran dari 41 franchise asal Korsel. Empat tahun berselang, tercatat ada 732 restoran dari 73 franchise Korea yang beroperasi di berbagai belahan dunia.  

Meski sempat meredup di bawah pemerintahan Presiden Korsel Park Geun-hye, kampanye Global Hansik bakal kembali diteruskan. Pada 2017, Deputi Direktur Divisi Promosi Industri Makanan Kementerian Pertanian Korsel, Lee Chang-il, berjanji bakal kembali menggenjot upaya-upaya memopulerkan kimchi, bulgogi, dan kuliner Korea lainnya. 

"Semakin banyak orang di negara-negara lain yang mengenal dan suka terhadap makanan Korea. Tapi, Korea harus memberikan lebih banyak waktu agar kampanye ini bisa sukses. Kami akan terus menggelar beragam program yang bertujuan mengglobalkan kuliner Korea," kata Lee. 

Mi instan rasa kuliner tradisional Korea. Foto Pixabay

Kenapa gastrodiplomasi penting? 

Selain oleh Thailand dan Korea, gastrodiplomasi juga dipraktikan oleh negara-negara seperti Taiwan, Peru, Amerika Serikat, dan Prancis. Indonesia juga mempraktikan gastrodiplomasi. Namun, gastrodiplomasi Indonesia lazimnya dijalankan hanya pada level-level terendah saja, semisal dengan mengenalkan kuliner Indonesia pada jamuan di kedubes-kedubes. 

Gastrodiplomasi ialah bagian dari diplomasi kultural. Dengan gastrodiplomasi, diharapkan terjadi pertukaran budaya antara bangsa-bangsa yang berbeda sehingga tercipta pemahaman mengenai perbedaan dan kesamaan antara bangsa-bangsa di dunia. 

Dari sisi ekonomi, gastrodiplomasi juga potensial menguntungkan. Kuliner-kuliner nikmat dan populer khas suatu negara bisa turut mendorong kedatangan gelombang turis asing ke negara tersebut. Industri pariwisata pun bisa turut berkembang.

"Pengalaman makan mereka (orang-orang) bisa membentuk asosiasi positif antara kuliner dan budaya yang direpresentasikan kuliner itu. Hal itu bisa memunculkan hasrat bagi konsumen untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkait dengan kuliner tersebut," tulis Anna Lipscomb dalam "Culinary Relations: Gastrodiplomacy in Thailand, South Korea, and Taiwan?"

Meskipun bentuk dan tampilannya mungkin berbeda antara satu negara dengan negara lainnya, Lipscomb menjelaskan, kuliner bisa jadi "pemersatu" karena cita rasa dan sejarah yang direpresentasikannya. Apalagi jika kuliner tersebut dikemas dengan menarik dan mudah diakses publik. 

"Makanan Korea mungkin saja terasa aneh bagi audiens Amerika, tapi gastrodiplomasi bisa membantu orang-orang asing sekalipun untuk membangun apresiasi, terutama ketika mereka belajar mengenai makanan-makanan tersebut," ujar dia. 

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan

Gastrodiplomasi juga punya dimensi politis. Menurut pakar gastrodiplomasi Paul Rockower, gastrodiplomasi terutama penting untuk dipraktikan oleh negara-negara dengan berkekuatan sedang (middle power states). 

Dalam "Projecting Taiwan: Taiwan's Public Diplomacy Outreach" yang dipublikasi pada 2011, Rockower mencontohkan upaya Taiwan untuk melepaskan diri dari isolasi China dengan meluncurkan kampanye "All in Good Taste: Savor the Flavors of Taiwan."

"Termasuk dalam kampanye itu pembangunan restoran-restoran Taiwan di luar negeri, pembentukan sebuah organisasi makanan Taiwan, gelaran festival-festival makanan internasional, dan pengiriman koki-koki Taiwan ke kompetisi kuliner internasional," jelas Rockower. 

China--yang kulinernya telah lebih dulu mendunia--menganggap Taiwan bagian dari negaranya. Di sisi lain, Taiwan hingga kini masih terus berjuang untuk mendapatkan pengakuan negara-negara lain atas kedaulatannya sebagai negara. 

Lewat kuliner, Taiwan berniat membangun simpati masyarakat dunia, menegaskan keberadaan mereka di peta dunia, dan menjauhkan konflik. Sebagaimana kata Rockower, 'dalam memecah roti dan berbagi makanan, keakraban terbangun dan rasa permusuhan menghilang.'

Berita Lainnya
×
img