sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

China sebut AS coba adu domba Indonesia dengan negaranya

Menlu AS, Mike Pompeo, mengunjungi Indonesia pada 29 Oktober kemarin.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 30 Okt 2020 15:50 WIB
China sebut AS coba adu domba Indonesia dengan negaranya
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Duta Besar China di Indonesia, Xiao Qian, menyatakan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, dengan sengaja menodai nama Tiongkok dan mencoba mengadu domba negaranya dengan Indonesia dalam kunjungannya tersebut.

"Pihak China dengan tegas menentang upaya tersebut. Pernyataan dan langkah Pompeo lebih jauh mengungkapkan upaya keji AS," ujarnya dalam pernyataan resmi yang dirilis Kedutaan Besar China di Indonesia, Kamis (29/10).

Pompeo mengunjungi sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dia tiba di Jakarta pada Kamis dini hari.

Dalam lawatannya tersebut, menruut Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, Pompeo akan mengadakan pertemuan bilateral dengan dirinya. Kemudian, menghadiri forum Gerakan Pemuda (GP) Anshor.

Lebih lanjut, Xiao menyatakan, AS adalah pemicu dari apa yang dia sebut sebagai "Perang Dingin baru". China, sebutnya, selama ini menjalin hubungan persahabatan dengan negara lain.

Dia menegaskan, China tidak berupaya mengekspor ideologinya atau mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Sebaliknya, Xiao menilai, AS berusaha sekuat tenaga menghidupkan kembali Perang Dingin baru, memicu konfrontasi ideologis, menghasut revolusi, dan mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

"AS adalah penyebar 'virus politik'. Menanggapi wabah Covid-19, China telah mengedepankan masyarakat dan kehidupannya, bertindak secara terbuka, transparan, dan bertanggung jawab, mengambil tindakan berbasis sains, dan secara aktif terlibat dalam kerja sama global. Semuanya dalam upaya membangun sistem kesehatan untuk semua," ujarnya. "Sebaliknya, politikus AS memilih untuk mengutamakan keuntungan politik yang egois, meremehkan risiko virus, dan menolak mengikuti sains."

Akibat kelalaian pemerintah AS, dirinya melanjutkan, virus telah menyebar di luar kendali dan menyengsarakan warga yang tidak bersalah.

Sponsored

"AS justru semakin menyebarkan 'virus politik' mereka dan mencoba mengalihkan kesalahan, bahkan hingga menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Langkah itu sangat merusak upaya global untuk mengatasi pandemik," katanya.

Xiao juga menyebut, "Negeri Paman Sam" sebagai penghalang dalam keterbukaan dan kerja sama global. Baginya, pemerintah AS percaya pada ideologi "America First", mengejar proteksionisme perdagangan dan intimidasi ekonomi, mendistorsi rantai industri global, menindas negara lain melalui langkah-langkah perdagangan sepihak dan membahayakan sistem perdagangan multilateral dan tatanan ekonomi global. 
Tindak tersebut, menurutnya, menghambat pembangunan negara lain serta keterbukaan dan kerja sama global. Xiao lantas menyinggung AS sebagai "pembuat masalah" bagi negara-negara Islam.

"Sebagai teman sejati bagi dunia Islam, China telah memberikan dukungan kuatnya kepada perjuangan rakyat Palestina. Sebaliknya, pemerintah AS telah mengabaikan kepentingan warga Palestina serta memicu revolusi warna di dunia Islam. Ini telah membawa ketidakstabilan, kekacauan, perpecahan, kemiskinan, dan penderitaan yang berkepanjangan di dunia Islam," lanjutnya.

Tak sekadar itu. Xiao menyebut AS merupakan faktor paling berbahaya yang membahayakan perdamaian di Laut China Selatan (LCS).

"LCS adalah rumah bersama bagi negara-negara di kawasan. China dan negara-negara kawasan lainnya berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan stabilitas dan mempromosikan kerja sama dan pembangunan di LCS dan untuk menangani masalah yang relevan dengan benar melalui konsultasi dan dialog yang bersahabat," tegasnya.

Sebaliknya, lanjut dia, AS belum meratifikasi UNCLOS. Namun, selalu bertindak sebagai pembela.

"Mereka telah berulang kali mengadu domba negara-negara regional satu sama lain dan memicu ketegangan. Ini menjadi faktor terbesar yang memicu militerisasi dan faktor paling berbahaya yang membahayakan perdamaian di LCS," ujarnya.

Berita Lainnya