sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Demo besar mengguncang Hong Kong

Pada hari ini pula polisi Hong Kong mengatakan, mereka menangkap 11 orang dan menyita sejumlah senjata.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Minggu, 08 Des 2019 16:01 WIB
Demo besar mengguncang Hong Kong
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 236519
Dirawat 55000
Meninggal 9336
Sembuh 170774

Puluhan ribu massa prodemokrasi yang kebanyakan mengenakan pakaian berwarna gelap turun ke jalan-jalan di Hong Kong pada Minggu (8/12). Victoria Park, menjadi titik kumpul sebelum mereka berpawai menuju Chater Road.

Pihak berwenang telah memberi lampu hijau kepada Front Hak Asasi Manusia Sipil (CHRF), penyelenggara aksi, untuk mengadakan pawai. Ini merupakan kali pertama kelompok itu diberi izin untuk melakukan protes sejak 18 Agustus.

"Saya akan berjuang untuk kebebasan sampai saya mati karena saya seorang warga Hong Kong," ujar June, seorang ibu usia 40 tahun, yang berpartisipasi dalam aksi besar-besaran ini. "Hari ini adalah tentang berdiri mendukung Hong Kong, dan komunitas internasional."

Yang lain meneriakkan, "Fight for freedom, stand with Hong Kong". Itu merupakan salah satu slogan dari gerakan antipemerintah.

Pada hari Minggu pula polisi mengatakan, mereka telah menangkap 11 orang, berusia antara 20 hingga 62 tahun dan menyita sejumlah senjata termasuk pisau militer, petasan, 105 peluru dan pistol semi otomatis. Langkah ini menandai penyitaan pertama pistol dalam enam bulan protes antipemerintah di Hong Kong.

Hampir 6.000 orang telah ditangkap dalam protes sejak Juni, lebih dari 30% berusia antara 21 dan 25 tahun.

Pawai dilaporkan akan dimulai pada pukul 15.00 waktu setempat.

Protes antipemerintah di Hong Kong meningkat pada Juni. Pemicunya adalah RUU ekstradisi yang kini sepenuhnya telah dicabut. Namun, aksi terlanjur berkembang menjadi seruan bagi demokrasi yang lebih luas. Itu merupakan satu di antara sejumlah tuntutan lainnya.

Sponsored

Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (7/12), pemerintah mengimbau agar tenang dan mengatakan mereka akan dengan rendah hati mendengar dan menerima kritik.

Komisaris baru Kepolisian Hong Kong Chris Tang mengatakan bahwa pasukannya akan mengambil pendekatan yang fleksibel dalam menangani demonstrasi.

Hong Kong yang merupakan bekas koloni Inggris telah diguncang lebih dari 900 demonstrasi dan pertemuan publik sejak Juni, di mana banyak di antaranya yang berakhir dengan konfrontasi antara pengunjuk rasa dan polisi.

Demonstran, pada dasarnya, marah atas apa yang mereka lihat sebagai upaya China untuk mencampuri kebebasan yang dijanjikan kepada Hong Kong ketika Inggris mengembalikan kota itu ke Beijing pada 1997.

Beijing membantah tuduhan semacam itu dan menyalahkan pemerintahan asing, termasuk AS dan Inggris, yang mereka sebut ikut campur urusan dalam negerinya. (New York Times dan Reuters)

Berita Lainnya