sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Israel bantah memata-matai Amerika Serikat

Belum lama ini ditemukan perangkat IMSI catcher di dekat Gedung Putih dan sejumlah situs resmi lainnya di Washington DC.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 13 Sep 2019 12:01 WIB
Israel bantah memata-matai Amerika Serikat

Benjamin Netanyahu membantah laporan bahwa negaranya memata-matai Amerika Serikat. Sebelumnya, pada Kamis (12/9), Politico merilis laporan yang mengutip tiga mantan pejabat senior AS yang mengatakan, Israel kemungkinan berada di belakang alat pengintai yang ditemukan di dekat Gedung Putih.

Pernyataan yang dirilis kantor Netanyahu menyebutkan bahwa tuduhan tersebut adalah kebohongan terang-terangan.

"Ada komitmen lama, dan arahan dari pemerintah Israel untuk tidak terlibat dalam operasi intelijen di AS," ungkap pernyataan tersebut.

Seorang juru bicara Kedutaan Besar Israel di Washington DC, Elad Strohmayer, turut membantah laporan Politico. Kepada VOA dia mengatakan, "Israel tidak melakukan spionase di AS, titik."

Presiden Donald Trump yang ditanya oleh wartawan kemarin tentang isu ini menyatakan bahwa dia tidak percaya Israel memata-matai AS.

"Itu sulit dipercaya, hubungan saya dengan Israel sangat baik," tutur Trump, mengutip kebijakannya soal kesepakatan nuklir Iran dan keputusan kontroversial pemerintahannya untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

"Saya tidak akan percaya dengan cerita itu."

Penangkap Identitas Pelanggan Seluler International (IMSI catcher) atau secara informal dikenal sebagai StingRays dilaporkan ditemukan di dekat kediaman resmi Presiden AS dan sejumlah situs resmi lainnya di Washington DC semasa kepresidenan Trump.

Sponsored

Salah satu mantan pejabat yang berbicara secara anonim kepada Politico menyatakan, StingRays kemungkinan dirancang untuk memata-matai Trump. Tidak jelas apakah upaya itu berhasil.

Seorang mantan pejabat intelijen senior mengungkap pernyataan senada. "Cukup jelas bahwa Israel bertanggungjawab."

Eks pejabat yang sama juga mengkritik pemerintahan Trump dengan mengatakan mereka tidak menegur Israel, baik secara langsung maupun pribadi, atas dugaan spionase tersebut.

Meski Israel membantahnya, namun negara itu pernah memata-matai AS di masa lalu.

Pada 1980-an, agen Mossad bernama Rafi Eitan yang menangkap petinggi Nazi Adolf Eichmann pada 1960, terungkap sebagai "the handler" bagi Jonathan Pollard, seorang analis AS yang memberikan ribuan dokumen rahasia kepada Israel.

Kemudian pada 2006, mantan pegawai Kementerian Pertahanan AS Lawrence Franklin divonis 13 tahun penjara karena meloloskan dokumen rahasia tentang kebijakan AS terhadap Iran ke Israel. Hukumannya kemudian dikurangi menjadi tahanan rumah selama 10 bulan. (BBC dan VOA)