logo alinea.id logo alinea.id

Jaga produktivitas, perusahaan Jepang paksa karyawan tidur cukup

Karyawan yang kurang tidur dinilai akan menjadi tidak produktif hingga mengakibatkan ekonomi Jepang merugi.

Valerie Dante Jumat, 11 Jan 2019 20:08 WIB
Jaga produktivitas, perusahaan Jepang paksa karyawan tidur cukup

Sejumlah perusahaan Jepang kini semakin sadar akan pentingnya tidur yang cukup bagi pegawainya. Banyak perusahaan yang mewajibkan pekerjanya untuk tidur siang selama jam kerja.

Langkah-langkah ini diambil oleh banyak perusahaan di Jepang untuk melawan epidemi kekurangan waktu tidur karyawan. Pasalnya, menurut riset dari Rand Corporation, karyawan yang kurang tidur akan menjadi tidak produktif dan akibatnya ekonomi Jepang dapat merugi US$138 miliar per tahunnya.

Perusahaan startup teknologi menjadi perusahaan tercepat yang mengatasi 'utang tidur' para pekerjanya.

Tahun lalu, Nextbeat, perusahaan penyedia layanan teknologi informasi, mendirikan dua kamar tidur di kantor pusatnya di Tokyo. Satu kamar untuk pria dan satu untuk wanita ini didesain memiliki perangkat yang menghalangi suara kebisingan di luar kamar.

Kamar tersebut dilengkapi dengan sofa sehingga para pekerja dapat berbaring untuk tidur dengan nyaman. Pekerja yang ingin beristirahat di dalam kamar ini tidak diperbolehkan membawa ponsel, tablet, ataupun laptop.

"Tidur siang dapat meningkatkan efisiensi seseorang," tutur pejabat Nextbeat Emiko Sumikawa kepada Kyodo.

Nextbeat juga meminta karyawannya pulang tepat pukul 21.00 dan mengimbau mereka untuk tidak kerja lembur yang berlebihan. Kerja lembur dinyatakan menjadi penyebab utama karoshi, atau kematian karena lelah bekerja.

Sebuah perusahaan bahkan menawarkan insentif keuangan untuk membujuk karyawannya agar tidak bekerja lembur dan tidur pada jam yang wajar. Crazy, sebuah perusahaan perencana pernikahan, memberikan penghargaan kepada karyawan yang tidur setidaknya enam jam dengan poin yang kemudian dapat ditukar dengan makanan di kafetaria kantor.

Sponsored

Dengan menggunakan aplikasi untuk memantau jam tidur mereka, pekerja dapat mengumpulkan poin hingga senilai US$588 dalam satu tahun.

Meski langkah-langkah ini mungkin dinilai berlebihan, nyatanya pekerja Jepang memiliki alasan kuat atas kantuk yang kerap mereka rasakan.

Sebuah survei yang dilakukan dengan menggunakan perangkat pelacak kebugaran di 28 negara, menemukan bahwa pria dan wanita Jepang rata-rata hanya tidur 6 jam 35 menit setiap malamnya. Jam tidur mereka kurang 45 menit dari rata-rata jam tidur internasional, dengan kata lain, warga Jepang paling kurang tidur di antara semua negara.

Sebaliknya, wanita di Finlandia tidur hampir satu jam lebih lama, dengan rata-rata 7 jam 45 menit. Menurut survei, warga Estonia, Kanada, Belgia, Austria, dan Belanda memiliki waktu tidur malam yang relatif layak.

Sebuah jajak pendapat terpisah oleh pembuat produk kesehatan Fuji Ryoki menemukan bahwa 92,6% warga Jepang di atas usia 20 tahun mengatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu tidur yang cukup.

Bahkan pekerja yang berada dalam perusahaan yang belum memberi kompensasi tidur siang setidaknya akan memejamkan mata mereka selama beberapa menit di kantor.

Perusahaan Jepang pada umumnya menoleransi inemuri, atau tertidur di tempat kerja. Mereka memandang hal ini sebagai perwujudan komitmen karyawan dan bukan sebagai tanda kemalasan, meskipun biasanya karyawan berusaha tidur dalam posisi duduk dan menghindari tidur dalam posisi terlalu nyaman.

Pemerintah juga telah mengakui manfaat pribadi dan profesional dari tenaga kerja yang memiliki waktu istirahat cukup. Kementerian Kesehatan Jepang merekomendasikan agar semua orang usia kerja tidur siang hingga 30 menit di sore hari.

Sumber : The Guardian