sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kematian akibat banjir di Eropa naik jadi 188 jiwa

Banjir tersebut disebut sebagai bencana alam terburuk di Jerman dalam hampir enam dekade terakhir.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 19 Jul 2021 17:39 WIB
Kematian akibat banjir di Eropa naik jadi 188 jiwa

Kanselir Jerman Angela Merkel menggambarkan banjir yang telah menghancurkan sejumlah wilayah di Eropa sebagai peristiwa yang sangat mengerikan.

Pada Minggu (18/7), jumlah korban tewas akibat banjir di Eropa naik menjadi 188 orang. 

Kanselir Merkel menjanjikan bantuan keuangan yang cepat setelah mengunjungi salah satu daerah yang paling parah terkena dampak rekor curah hujan dan banjir yang telah menewaskan sedikitnya 157 orang di Jerman saja dalam beberapa hari terakhir.

Banjir tersebut disebut sebagai bencana alam terburuk di Jerman dalam hampir enam dekade terakhir.

Dia menambahkan, pemerintah harus bekerja lebih efektif dan cepat dalam upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim.

"Ini menakutkan," kata Merkel di hadapan penduduk kota kecil Adenau di negara bagian Rhineland-Palatinate. "Hampir tidak ada kata yang dapat menggambarkan kehancuran yang terjadi."

Upaya untuk melacak orang yang hilang terus belanjut hingga Minggu. Sebuah distrik di Jerman selatan, Bavaria, dilanda banjir bandang yang menewaskan sedikitnya satu orang. 

Jalan raya berubah menjadi sungai, beberapa kendaraan hanyut, dan petak tanah terkubur di bawah lumpur tebal di Berchtesgadener Land. Ratusan petugas pencarian dan penyelamatan sedang mencari korban selamat di distrik yang berbatasan dengan Austria tersebut.

Sponsored

Sementara itu, sekitar 110 orang tewas di distrik Ahrweiler yang paling parah terdampak, di selatan Cologne. Polisi memperkirakan, lebih banyak mayat akan ditemukan di sana saat air banjir surut.

Banjir Eropa, yang dimulai pada Rabu (14/7), terutama melanda negara bagian Rhineland Palatinate di Jerman, North Rhine-Westphalia, serta sebagian dari Belgia. Seluruh komunitas telah terputus, tanpa akses listrik atau komunikasi.

Di North Rhine-Westphalia setidaknya 46 orang tewas. Korban tewas di Belgia naik menjadi 31 pada Minggu.

Pemerintah Jerman akan menyiapkan bantuan segera senilai lebih dari 300 juta Euro atau US$354 juta, serta miliaran Euro untuk memperbaiki rumah, jalan, dan jembatan yang runtuh. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz.

"Ada kerusakan besar dan sudah jelas bahwa mereka yang kehilangan bisnis, rumah, tidak dapat membendung kerugian sendirian," tuturnya. 

Selain itu, Menteri Ekonomi Peter Altmaier menyatakan bahwa pemerintah kemungkinan akan menyalurkan pembayaran jangka pendek sebesar US$11.000 bagi bisnis yang terdampak banjir serta pandemi Covid-19.

Para ilmuwan, yang telah lama mengatakan bahwa perubahan iklim akan memicu hujan lebat, mengatakan bahwa masih perlu beberapa minggu untuk menentukan perubahan iklim dalam curah hujan yang ekstrem kali ini. 

Meski begitu, Perdana Menteri Belgia Alexander De Croo menilai bahwa hubungan banjir dengan perubahan iklim sudah jelas terlihat.

Di Belgia, yang akan mengadakan hari berkabung nasional pada Selasa (20/7), 163 orang masih hilang. Pusat krisis mengatakan, ketinggian air turun dan operasi pembersihan besar-besaran sedang berlangsung. 

Militer dikirim ke Kota Pepinster, di mana puluhan bangunan runtuh, untuk mencari korban lebih lanjut.

Sekitar 37.000 rumah tangga putus dari akses listrik dan pihak berwenang Belgia mengatakan pasokan air minum bersih juga menjadi masalah utama.

Sementara itu, pejabat layanan darurat di Belanda mengatakan situasi agak stabil di bagian selatan provinsi Limburg, di mana puluhan ribu dievakuasi dalam beberapa hari terakhir, meskipun bagian utara masih dalam siaga tinggi.

Belanda sejauh ini hanya melaporkan kerusakan properti akibat banjir dan tidak ada orang tewas atau hilang.

Sumber : Reuters

Berita Lainnya