sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kepala biro Al Jazeera ditangkap setelah protes di Sudan

Al Jazeera mengatakan bahwa otoritas militer Sudan bertanggung jawab atas keselamatan semua karyawannya.

Sita Aisha Ananda
Sita Aisha Ananda Senin, 15 Nov 2021 12:21 WIB
Kepala biro Al Jazeera ditangkap setelah protes di Sudan

Sehari setelah protes jalanan di seluruh Sudan terhadap pengambilalihan militer, pasukan keamanan Sudan menggerebek rumah kepala biro Khartoum Al Jazeera dan menangkapnya pada Minggu (14/11).

Al Jazeera mengatakan bahwa otoritas militer Sudan bertanggung jawab atas keselamatan semua karyawannya setelah kepala biro El Musalmi El Kabbashi ditangkap.

"Al Jazeera mengutuk dengan keras tindakan tercela militer dan menyerukan pihak berwenang untuk segera membebaskan El Kabbashi dan mengizinkan wartawannya beroperasi tanpa hambatan," katanya dalam sebuah pernyataan.

Pasukan keamanan menggunakan gas air mata dan tembakan untuk mencoba membubarkan protes yang terjadi di ibu kota Khartoum dan beberapa kota lain.

Komite Pusat Dokter Sudan, yang bersekutu dengan gerakan protes, mengatakan jumlah demonstran yang tewas pada Sabtu (13/11) meningkat menjadi tujuh dengan kematian seorang gadis 13 tahun dari luka tembak di kepalanya.

Komite tersebut juga mengatakan terdapat lebih dari 200 orang terluka, lebih dari 100 di antaranya terkena luka tembak dan 11 orang lainnya dalan kondisi serius.

Uni Eropa pada Minggu mengutuk dengan istilah yang paling keras mengenai kekerasan yang dilakukan terhadap pengunjuk rasa sipil pada Sabtu, dan mengatakan hal tersebut sangat mengkhawatirkan dengan adanya penahanan wartawan.

"Intervensi militer sejak 25 Oktober lalu merusak banyak kemajuan yang dicapai di bawah pemerintahan yang dipimpin sipil. Ini akan memiliki konsekuensi serius untuk dukungan Uni Eropa," kata blok itu dalam sebuah pernyataan.

Sponsored

Di sisi lain, sebuah kelompok yang mewakili pengungsi dan orang-orang terlantar di wilayah Darfur barat mengatakan bahwa empat warga sipil telah tewas dalam beberapa insiden selama seminggu terakhir dan sebuah kamp pengungsi telah diserang.

Dewan diperkirakan akan menunjuk perdana menteri baru setelah upaya yang melibatkan PBB untuk menengahi antara militer dan Perdana Menteri terguling Abdalla Hamdok terhenti.

Hamdok, yang berada di bawah tahanan rumah, telah menuntut pembebasan warga sipil top lainnya yang ditangkap selama kudeta dan kembalinya pembagian kekuasaan menjelang pemilihan umum pada 2023. (Reuters)

Berita Lainnya
×
tekid