sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Komunitas China di Kanada hadapi rasisme akibat coronavirus

Kanada sejauh ini telah mengonfirmasi tiga kasus coronavirus.

Valerie Dante
Valerie Dante Rabu, 29 Jan 2020 15:46 WIB
Komunitas China di Kanada hadapi rasisme akibat coronavirus
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

Seorang warga Kanada berdarah Tionghoa, Terri Chu, pada Minggu (26/1) mentwit bahwa dia takut atas gelombang rasisme yang akan menghantam komunitas China di negara itu di tengah wabah coronavirus jenis baru.

"Dalam grup chat sesama ibu-ibu Tionghoa, kami membahas bagaimana cara menguatkan diri dan mempersiapkan anak-anak kami atas gelombang rasisme yang tidak terhindarkan ... Banyak dari kami bahkan belum pernah ke China tetapi kami sadar kami juga akan terkena imbasnya," twit dia pada Minggu (26/1).

Pada Selasa (28/1), Chu mengatakan bahwa dia tidak menyangka twitnya viral di media sosial.

"Twit saya dibombardir dengan kritikan pedas sejak pagi ini," kata dia kepada The Guardian.

Chu mengatakan bahwa kekhawatiran masyarakat Kanada tentang coronavirus tidak masuk akal.

"Polusi udara dan menjamurnya penyakit menular secara seksual adalah masalah kesehatan yang jauh lebih besar bagi anak-anak saya dibanding coronavirus saat ini," tutur dia.

Sejauh ini, Kanada mencatat tiga kasus coronavirus jenis baru yang menyebar dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Sponsored

Sebelumnya, Kanada telah menyaksikan gelombang xenofobia selama wabah SARS pada 2003, yang juga dimulai di China.

Pada saat itu, banyak bisnis milik orang China di Kanada rugi besar. Toronto kehilangan sekitar US$1 miliar karena penduduk dan wisatawan menghindari kota itu, terutama daerah yang menjadi konsentrasi bisnis warga Tionghoa.

Menurut Presiden Chinese Canadian National Council for Social Justice Amy Go, sama seperti pada 2003, kekhawatiran publik yang tidak rasional akan kembali melanda Kanada.

"Saya berharap situasi tidak akan menjadi seperti pada 2003. Tapi sayangnya, itu akan terjadi dan media sosial akan mendorongnya," jelas dia.

Go menilai, reaksi masyarakat Kanada adalah pertanda bahwa persoalan rasisme masih hadir di negara itu.

"Dua atau tiga bulan dari sekarang, coronavirus kemungkinan akan hilang. Tapi ini bukan hanya masalah kesehatan masyarakat, ini adalah masalah rasisme di Kanada," tutur dia.

Ketika blog yang populer di Toronto mengulas sebuah restoran China baru pada Senin (27/1), unggahan tersebut dilaporkan dengan cepat dibanjiri oleh komentar-komentar bernada rasialis.

Selain itu, hampir 9.000 orang tua di Distrik Sekolah di Kota York, daerah di utara Toronto, menandatangani petisi yang menutut agar siswa yang bepergian ke China dalam 17 hari terakhir tidak dibolehkan bersekolah.

"Ini harus dihentikan. Berhentilah memakan hewan liar dan kemudian menginfeksi semua orang di sekitar Anda," tulis seorang penandatangan petisi.

Pada Senin, Dewan Distrik York yang mewakili 208 sekolah mengutuk petisi tersebut.

"Kami menyadari tingkat kekhawatiran dan kecemasan yang meningkat di antara keluarga-keluarga etnis Tionghoa," tulis ketua dewan, Juanita Nathan. "Individu yang membuat asumsi, bahkan dengan niatan positif sekali pun ... dapat dipandang menunjukkan bias dan rasisme."

Kedubes China minta surat kabar Denmark minta maaf

Di Denmark, Kedutaan Besar China menuntut permintaan maaf dari surat kabar Jyllands-Posten yang pada Senin menerbitkan karikatur bendera nasional China dengan lima bintang kuning yang diganti dengan partikel-partikel coronavirus.

Dalam pernyataannya, Kedubes China mengatakan bahwa Jyllands-Posten dan kartunisnya, Niels Bo Bojensen, harus meminta maaf kepada warga Tiongkok atas karikatur tersebut.

"Tanpa simpati dan empati, tindakan itu telah melewati batas etika kebebasan berbicara dan menyinggung hati nurani manusia," ungkap kedutaan pada Selasa.

Ini bukan kasus pertama yang menjerat Jyllands-Posten. Pada 2005, surat kabar itu menerbitkan karikatur Nabi Muhammad yang memicu kemarahan umat muslim.

Pemimpin Redaksi Jyllands-Posten Jacob Nybroe mengatakan surat kabarnya tidak bermaksud mengolok-olok situasi di China, di mana coronavirus jenis baru menewaskan 132 orang dan menginfeksi ribuan lainnya. Namun, Nybroe menolak untuk meminta maaf.

"Kami tidak dapat meminta maaf atas sesuatu yang kami pikir tidak salah," kata Nybroe kepada media lokal. "Kami tidak berniat merendahkan atau mengolok-olok situasi di China dan menurut kami, karikatur kami tidak bermaksud demikian." (The Guardian dan Reuters)

Berita Lainnya