sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Korea Selatan catat 7.513 kasus infeksi coronavirus

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan mengumumkan bahwa korban meninggal akibat coronavirus jadi 54 orang.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 10 Mar 2020 11:11 WIB
Korea Selatan catat 7.513 kasus infeksi coronavirus
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Korea Selatan melaporkan 35 kasus infeksi baru coronavirus jenis baru atau Covid-19 pada Selasa (10/3), menjadikan total 7.513 orang di negara itu terjangkit virus tersebut.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan (Korea Centers for Disease Control and Prevention) mengumumkan bahwa korban meninggal 54 orang. 

Tingkat harian infeksi baru di Korea Selatan turun ke level terendah dalam 11 hari pada Senin (9/3), menyusul sebagian besar dari sekitar 200.000 pengikut Shincheonji Church of Jesus telah diuji. 

Shincheonji menjadi pusat perhatian setelah seorang jemaat gereja berusia 61 tahun di Daegu dinyatakan positif, menyebabkan peristiwa "penyebaran super".

Presiden Moon Jae-in menyatakan harapannya bahwa tren penurunan kasus infeksi baru dapat mengarah pada fase stabilitas. Namun, di lain sisi dia mengingatkan masih terlalu dini untuk optimistis.

Ada pun Menteri Kesehatan Korea Selatan Park Neunghoo berharap bahwa negaranya telah melalui masa kritis wabah coronavirus jenis baru.

"Kami berharap telah melewati puncaknya, dengan mempertimbangkan jumlah kasus," kata Park Neunghoo kepada CNN.

Park Neunghoo yakin dengan langkah Korea Selatan dalam memerangi penyebaran coronavirus jenis baru. Dia menyarankan pemerintah negara lain untuk fokus pada upaya pengujian awal dan kerja sama global.

Sponsored

Pemerintah Korea Selatan dinilai termasuk yang paling ambisius dalam hal memberi pilihan pengujian yang gratis dan mudah kepada publik. Mereka memiliki kemampuan menjalankan sekitar 15.000 uji diagnostik per hari dan telah melakukan 196.000 tes hingga saat ini secara nasional. Seluruhnya bebas biaya.

Pihak berwenang di Kota Goyang bahkan mendirikan tes dengan metode drive-thru.

"Mendeteksi pasien pada tahap awal sangat penting dan kami mendapat pelajaran sederhana dengan menangani virus ini yaitu ini sangat menular, menyebar dengan sangat cepat, dan pada area yang sangat luas," tutur Park Neunghoo. "Meningkatkan kemampuan pengujian sangat penting karena dengan begitu, Anda dapat mendeteksi seseorang yang membawa virus, kemudian Anda dapat mengekang penyebarannya."

Otoritas Korea Selatan juga menyediakan fasilitas bagi pasien yang hanya menderita gejala ringan. Park Neunghoo menuturkan bahwa hanya sekitar 10% dari pasien coronavirus jenis baru yang membutuhkan rawat inap, sisanya memiliki sistem kekebalan yang cukup kuat untuk melawan virus itu sendiri.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan menerangkan bahwa sekitar tiga perempat dari seluruh kasus berasal dari Kota Daegu, dan 63% di antaranya berhubungan langsung dengan Shincheonji Church of Jesus. 

Otoritas Korea Selatan meyakini bahwa mungkin wabah di negara itu dimulai dari Shincheonji Church of Jesus. Park menjelaskan sementara sebagian besar anggota setuju untuk dites, ada beberapa yang menolak, dan itu mungkin memperlambat respons pemerintah.

"Tentu saja seandainya kami bisa mengujinya lebih awal, akan lebih mudah bagi kami untuk menanganinya," kata dia. "Yang kami hadapi adalah kelompok agama yang sangat ... unik sehingga kami berusaha memblokir dan menahan penyebaran sambil melindungi kebebasan warga. Kami berharap dapat melihat resolusi dalam waktu singkat." (Reuters dan CNN)

Berita Lainnya