logo alinea.id logo alinea.id

Pasca-serangan ke Arab Saudi, Raja Salman gelar KTT darurat

Serangan terhadap Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Minggu, 19 Mei 2019 09:10 WIB
Pasca-serangan ke Arab Saudi, Raja Salman gelar KTT darurat

Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud mengundang para pemimpin Teluk dan Arab untuk mengadakan KTT darurat. KTT membahas implikasi serangan yang terjadi dalam minggu ini terhadap Arab Saudi dan negara tetangga, Uni Emirat Arab.

Hal tersebut diumumkan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi via Twitter pada Sabtu (18/5). Pertemuan dijadwalkan akan berlangsung pada 30 Mei di Makkah.

Empat tanker minyak, yang dua di antaranya milik Arab Saudi, disabotase di lepas pantai Uni Emirat Arab pada Minggu (12/5). Dua hari kemudian drone menyerang instalasi minyak di sebelah barat  Riyadh.

Sementara itu, Uni Emirat Arab pada Minggu (19/5) menyatakan bahwa "keadaan kritis" di kawasan membutuhkan persatuan negara-negara Arab dan Teluk.

Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi pada Kamis (16/5) menuduh Iran memerintahkan serangan drone terhadap stasiun pompa minyak Arab Saudi yang diklaim dilakukan oleh kelompok pemberontak Houthi.

"Serangan itu membuktikan bahwa militan itu hanyalah alat yang digunakan rezim Iran untuk mengimplementasikan agenda ekspansionisnya," twit Pangeran Khalid bin Salman.

Dia menambahkan, "Aksi-aksi teroris, diperintahkan oleh rezim di Teheran, dan dilakukan oleh Houthi."

Pernyataan senada dilontarkan pejabat Arab Saudi lainnya, meningkatkan tekanan pada musuh bebuyutan kerajaan itu di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran atas sanksi dan kehadiran militer AS di Teluk.

Sponsored

"Orang-orang Houthi adalah bagian integral dari pasukan Garda Revolusi Iran dan mengikuti perintah mereka, sebagaimana dibuktikan ketika mereka menargetkan instalasi kerajaan," twit Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir.

Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman menuturkan bahwa Houthi telah membuat Yaman jadi platform terorisme Iran untuk melawan rakyat Yaman dan kepentingan mereka, dan menjadi alat untuk menyerang Arab Saudi.

Houthi, yang berperang melawan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman, membantah bahwa Iran mengarahkan serangan drone pada Selasa (14/5). 

"Kami bukan agen bagi siapapun. Kami membuat keputusan secara independen dan tidak menerima perintah untuk melancarkan serangan drone atau apapun," ujar Kepala Komite Revolusi Tertinggi Houthi Mohammed Ali al-Houthi.

Houthi menegaskan bahwa apa yang mereka sebut revolusi bertujuan menentang korupsi.

Riyadh sendiri mengklaim bahwa serangan tersebut memang memicu kebakaran, namun tidak mengganggu produksi atau ekspor.

Bantahan Iran

Kementerian Luar Negeri Iran pada Jumat (17/5) membantah tuduhan bahwa pihaknya memerintahkan serangan terhadap instalasi minyak Arab Saudi.

"Anda masih tertipu setelah 1.500 hari, bukankah itu cukup?," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi merujuk pada panjangnya perang Yaman.

Mousavi menambahkan, "Sudah waktunya untuk menghentikan kejahatan terhadap rakyat Yaman. Kalian tidak bisa menyembunyikan kelemahan kalian di balik klaim semacam itu."

Koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang mendapat sokongan senjata dari Barat mengintervensi konflik Yaman pada Maret 2015 setelah Houthi menggulingkan pemerintahan yang diakui secara internasional. Konflik di Yaman dipandang adalah perang proksi antara Arab Saudi yang suni dan Iran yang syiah. (Reuters dan VOA)