sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pemimpin Hong Kong kembali dihujani cemoohan di LegCo

Pidato tahunan kebijakan publik Lam kemarin terpaksa dihentikan karena anggota parlemen oposisi mengganggu jalannya sidang.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 17 Okt 2019 11:48 WIB
Pemimpin Hong Kong kembali dihujani cemoohan di LegCo

Dewan Legislatif (LegCo) menangguhkan sesi tanya-jawab dengan Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam pada Kamis (17/10). Sebelumnya, pada Rabu (16/10), pidato tahunan kebijakan publik Lam terpaksa dihentikan karena anggota parlemen oposisi mengganggu jalannya pertemuan dengan teriakan-teriakan berisi cemoohan.

Sama seperti kejadian pada Rabu, sidang pada Kamis pun diwarnai cemoohan legislator prodemokrasi. Mereka mengangkat poster yang memperlihatkan Lam dengan tangan penuh darah. Anggota parlemen oposisi meneriakkan, "Five demands, not one less," merujuk pada daftar tuntutan pemrotes. Akibatnya, Lam sempat dikawal keluar dari ruangan pertemuan.

Seorang anggota parlemen mengeluh karena tiga pertanyaan pertama diberikan kepada anggota partai pro-China. Namun, Presiden LegCo Andrew Leung membantah memberikan prioritas kepada pihak tertentu.

Andrew bersikeras dia mendahulukan pertanyaan-pertanyaan terkait bagaimana menangani kekerasan yang berulang di Hong Kong.

Setelah ditunda sebentar, Lam kembali masuk ke ruang sidang untuk melanjutkan sesi tanya-jawab. Dia menjawab sejumlah pertanyaan terkait pidatonya kemarin yang pada akhirnya disampaikannya via tautan video.

Penyerangan aktivis prodemokrasi

Amnesty International mendesak pemerintah Hong Kong untuk segera menyelidiki serangan keji pada Rabu malam terhadap pemimpin salah satu kelompok prodemokrasi terbesar di kota itu, Jimmy Sham.

Itu merupakan serangan kedua terhadap Jimmy, ketua dari Front Hak Asasi Manusia Sipil (CHRF), sejak protes pecah di Hong Kong pada Juni.

Sponsored

Foto-foto yang beredar di media sosial pada Rabu memperlihatkan Jimmy terkapar dalam genangan darah di aspal.

"Pihak berwenang harus segera melakukan penyelidikan atas serangan yang mengerikan ini ... Mengirim pesan yang jelas bahwa menargetkan para aktivis akan memiliki konsekuensi hukum," kata Kepala Asia Timur Amnesty International Joshua Rosenzweig dalam pernyataannya pada Rabu.

Jika tidak ada tindakan, tambahnya, akan mengirim sinyal bahwa serangan semacam itu ditoleransi oleh pihak berwenang.

Dalam pernyataan terpisah, CHRF menyatakan pihaknya sangat mengutuk insiden itu dan mendesak polisi untuk melakukan investigasi dan menyeret para pelaku ke pengadilan.

Polisi Hong Kong menjelaskan bahwa pada Rabu malam, lima pria bertopeng mengenakan pakaian hitam dan diyakini bukan berasal dari China menyerang Jimmy dengan palu dan pisau di Distrik Mong Kok.

Pihak berwenang mengutuk apa yang mereka sebut serangan yang direncanakan dan berjanji akan menyelidikinya.

Juru bicara pemerintah Hong Kong menyebut, kondisi Jimmy, yang kini dirawat di rumah sakit, sudah stabil.

Partai Demotisto mengkritik polisi yang lalai mendirikan blokade di sekitar TKP. Sebuah video yang mereka unggah menunjukkan seorang petugas yang menginjak noda darah tempat Jimmy terkapar.

CHRF, yang kerap mengorganisir sejumlah protes prodemokrasi besar-besaran, merencanakan akan melakukan unjuk rasa pada Minggu (20/10) di Kowloon. Pihak berwenang belum mengonfirmasi apakah pawai itu akan diizinkan.

"Tidak sulit untuk menghubungkan kejadian ini dengan teror politik yang mengancam pelaksaan hak-hak dan hukum yang sah," kata CHRF dalam pernyataannya.

Jimmy, yang berencana untuk mencalonkan diri dalam pemilu dewan distrik pada November, sebelumnya pernah diserang pada Agustus oleh dua pria bertopeng menggunakan tongkat baseball dan pisau.

Hong Kong diguncang oleh serangkaian protes antipemerintah yang telah menjerumuskan pusat keuangan Asia itu ke dalam krisis politik terburuknya dalam beberapa dekade terakhir.

Beberapa aksi protes di Hong Kong berujung bentrok dengan polisi yang menembakan gas air mata, meriam air dan peluru karet untuk membubarkan pedemo.

Demonstrasi semakin keras sejak awal Oktober, ketika Lam mengesahkan UU darurat untuk melarang pengunjuk rasa mengenakan masker saat protes. (Reuters, Al Jazeer, CNBC dan The Straits Times)