sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pengamat: Perang Rusia-Ukraina tidak masuk ramalan

Sebagai anggota G20, kata Theo, Indonesia bisa mengusulkan adanya sanksi ekonomi apabila suatu negara akan berperang.

Immanuel Christian
Immanuel Christian Sabtu, 05 Mar 2022 21:43 WIB
Pengamat: Perang Rusia-Ukraina tidak masuk ramalan

Perang antara Rusia dan Ukraina tidak masuk dalam ramalan masalah internasional. Prediksi bentrokan dua negara yang paling sering dibahas justru persaingan antara Rusia dan Amerika Serikat (AS).

Pemerhati masalah internasional, Theo Satrio Nugroho, mengatakan, tidak ada gambaran dalam lima tahun terakhir yang membayangkan duel pecahan Uni Soviet tersebut. Bahkan, tidak ada prediksi perang sesama negara di "Benua Biru".

"Dalam lima tahun terakhir terlihat bahwa tidak ada satu pun gambaran ancaman perang itu ada di belahan Eropa karena yang selalu didengungkan adalah Rusia dan Amerika. Semua luput untuk memprediksi konflik di Eropa," katanya dalam diskusi Swaraindonesia yang disiarkan daring, Sabtu (5/3).

Theo memandang, Indonesia bisa mengambil peran untuk menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina agar berakhir mufakat. Sehingga, tidak ada lagi dampak buruk dan menambah masalah lainnya.

Sebagai anggota G20, menurutnya, Indonesia bisa mengusulkan adanya sanksi ekonomi apabila suatu negara akan berperang. Maka, diharapkan negara tersebut akan berpikir ulang untuk melakukan invasi.

"Indonesia bisa usulkan sanksi ekonomi untuk menjadikan negara berpikir ulang untuk perang dengan negara lain," sarannya.

Pasukan Rusia diketahui merebut pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di Ukraina sekaligus salah satu yang terbesar di Eropa, Jumat (4/3). Fasilitas tersebut berada di Zaporizhzhia, Kota Lviv.

Berdasarkan laporan Reuters pada Jumat (4/3), kebakaran di bangunan kompleks PLTN itu telah padam. Fasilitas ini menyediakan seperlima dari total pembangkit listrik di seluruh Ukraina.

Sponsored

Seorang pejabat di perusahaan negara yang mengelola empat lokasi pembangkit nuklir Ukraina mengatakan, tidak ada pertempuran lebih lanjut di kawasan Zaporizhzhia.

Sementara itu, Menteri Energi AS, Jennifer Grahom, menyatakan, tiada indikasi peningkatan radiasi di sekitar wilayah Zaporizhzhia. "Personel pembangkit listrik tenaga nuklir berada di tempat kerja mereka dan berusaha membuat segalanya berangsur normal."

Sebelumnya, Rusia merebut pabrik pengolahan limbah radioaktif, Chernobyl, di sebelah utara Kiev. Pabrik itu diketahui sudah tutup sejak terakhir kali beroperasi pada akhir 1980-an.

Menyikapi kejadian ini, Presiden Rusia, Volodymyr Zelenskiyy, mengumumkan kepada seluruh Eropa dan dunia, bahwa Rusia telah menembaki PLTN di Ukraina.

Zelenskiyy mengatakan, tank Rusia telah menembak ke pabrik reaktor nuklir, meskipun tidak ada bukti aksi tersebut diikuti kekerasan fisik militer. Sebuah video menunjukkan, bangunan pabrik di Zaporizhzhia yang terbakar juga telah diverifikasi pejabat pemerintah.

Pejabat wilayah Energodar, 550 km Tenggara Kiev yang merupakan daerah terdekat dari pabrik PLTN, mengatakan, pertempuran telah terjadi tanpa memerinci korban jiwa.

Ribuan orang diyakini tewas atau terluka dan lebih dari satu juta warga Ukraina telah melarikan diri dari negaranya sejak 24 Februari ketika Presiden Putin melancarkan serangan terbesar terhadap negara Eropa sejak Perang Dunia II. 

Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Filippo Grandi, mengatakan, hanya dalam kurun waktu tujuh hari orang-orang mengungsi dari Ukraina akibat tragedi perang yang tidak berperikemanusiaan.

Berita Lainnya
×
tekid