sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Puluhan ribu orang di Prancis turun ke jalan kutuk kekerasan domestik

Tahun ini di Prancis, lebih dari 130 perempuan dilaporkan tewas di tangan pasangan atau mantan pasangan mereka.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 25 Nov 2019 11:32 WIB
Puluhan ribu orang di Prancis turun ke jalan kutuk kekerasan domestik

Puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan di Paris dan sejumlah kota lain di Prancis, termasuk Lyon, Strasbourg, Bordeaux dan Lille pada Sabtu (23/11). Mereka memprotes kekerasan domestik setelah lebih dari 130 perempuan di Prancis diyakini tewas dibunuh oleh pasangan atau mantan pasangan mereka pada tahun ini. 

Di Paris, sebagian besar aktivis perempuan meneriakkan "Abuser, you've had it, women are in the street". Mereka mengusung spanduk yang didominasi warna ungu yang memuat nama-nama korban dan slogan seperti "not another murder more". 

Ungu adalah warna simbolis yang digunakan oleh gerakan hak-hak perempuan.

Presiden Emmanuel Macron menyatakan solidaritasnya pada akhir protes.

"Saya memberikan dukungan kepada setiap wanita yang mengalami kekerasan berbasis gender atau seksual," twit Macron.

Polisi menuturkan bahwa sekitar 35.000 orang berpartisipasi dalam pawai damai di Paris.

Gerakan #NousToutes yang mengorganisir protes memperkirakan jumlah peserta aksi lebih tinggi, yaitu 100.000 di Paris dan 150.000 di seluruh Prancis.

Demonstrasi tersebut berlangsung dua hari sebelum pemerintah akan mempublikasikan hasil penyelidikan kekerasan domestik. Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri serta Sekretaris Negara untuk Kesetaraan Gender dalam pernyataan bersama menyebutkan, pemerintah juga akan mengumumkan serangkaian langkah baru yang bertujuan melindungi perempuan.

Sponsored

Kelompok ahli Dewan Eropa tentang Kekerasan Domestik (GREVIO) pada pekan lalu mengtaakan bahwa Prancis perlu menawarkan perlindungan yang lebih baik bagi para korban dan anak-anak mereka serta langkah-langkah antikekerasan yang lebih efektif.

"Kami tidak dapat terus menerima laporan pembunuhan wanita dengan impunitas total. Negara harus melakukan tugasnya untuk menjamin keamanan seluruh perempuan di negara ini," kata aktivis #NousToutes Karine Plassard.

Pauline (28), yang ikut dalam pawai mengatakan, "Ada terlalu banyak kekerasan terhadap perempuan di dalam masyarakat .. di tempat kerja, bahkan dalam kehidupan intim kami. Bagian populasi maskulin harus menyadari apa yang mereka lakukan pada separuh lainnya."

Protes mengutuk kekerasan yang menargetkan perempuan juga terjadi di Brussels, Belgia, pada Minggu (24/11). Para peserta aksi menempat sepatu-sepatu warna merah di luar pengadilan sebagai lambang feminisida, istilah kejahatan berupa kebencian berbasis jenis kelamin.

Polisi mengatakan sekitar 10.000 orang ikut serta dalam protes, yang terjadi jelang Hari Internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan pada Senin (25/11). Lebih banyak aksi disebut akan berlangsung pada hari itu.

"Sepatu merah mewakili perempuan yang dibunuh oleh pria," kata Julie Wauters dari Mirabal, yang mengorganisasi demonstrasi tahunan tersebut. "Ada sekitar 100 pembunuhan (perempuan) dalam tiga tahun terakhir."

Namun, Mirabal mengtaakan tidak ada statistik resmi di Belgia tentang feminisida.

Sumber : Reuters

Bara dalam sekam di 'DPP Airlangga'

Bara dalam sekam di 'DPP Airlangga'

Rabu, 29 Jan 2020 17:59 WIB
Di Priok, luka lama itu masih membekas...

Di Priok, luka lama itu masih membekas...

Selasa, 28 Jan 2020 19:15 WIB
Berita Lainnya