sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rakyat Prancis berikan penghormatan pada guru yang dipenggal

Pemerintah Prancis sedang mengerjakan strategi untuk melindungi guru dari ancaman.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Senin, 19 Okt 2020 14:36 WIB
Rakyat Prancis berikan penghormatan pada guru yang dipenggal
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Ribuan orang berkumpul di seluruh Prancis untuk mendukung guru dan membela kebebasan berekspresi pada Minggu, (18/10) waktu setempat. Hal tersebut setelah pembunuhan Samuel Paty, seorang guru sejarah yang dipenggal oleh seorang tersangka Islamis radikal pada Jumat (16/10).

Dari Paris ke Lyon, Marseille, dan Lille kerumunan besar berkumpul dengan tenang, berhenti secara teratur untuk bertepuk tangan, mengadakan menit hening atau menyanyikan lagu kebangsaan.

Perdana Menteri, Jean Castex menghadiri, pertemuan di Place de La Republique di Paris bersama dengan Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer dan politisi dari seluruh spektrum, menunjukkan solidaritas setelah pembunuhan yang mengejutkan negara itu.

"Kamu tidak menakuti kami. Kami tidak takut. Anda tidak akan memecah belah kami. Kami adalah Prancis!" tweet Castex kemudian.

Paty, 47, tewas di luar sekolahnya di pinggiran kota Paris oleh penyerang berusia 18 tahun. Awal bulan ini, guru tersebut telah menunjukkan kepada murid-muridnya kartun Nabi Muhammad SAW di sebuah kelas tentang kebebasan berekspresi. 

Hal ini, membuat marah sejumlah orang tua muslim yang percaya bahwa penggambaran Nabi Muhammad SAW adalah penghujatan.

Penyerang, yang lahir di Rusia asal Chechnya, ditembak mati oleh polisi segera setelah serangan itu. Polisi telah menahan 11 orang berhubungan dengan pembunuhan tersebut.

Orang-orang di acara pada Minggu (18/10), mengenakan masker untuk melindungi diri dari Covi-19 dan membawa tanda-tanda seperti "Mengajar ya, berdarah tidak" atau "Saya Charlie" mengacu pada majalah satir Charlie Hebdo, yang kantornya diserang dalam pembunuhan massal lima tahun lalu .

Sponsored

"Kami di sini untuk membela Republik, nilai-nilai Republik: kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, dan sekularisme. Kami dapat merasakan bahwa bangsa ini terancam," kata Pierre Fourniou, 83, di Paris.

Paty telah menjadi target kampanye kemarahan di media sosial sebelum dia dibunuh. Castex mengatakan, dalam sebuah wawancara di surat kabar Journal du Dimanche bahwa pemerintah sedang mengerjakan strategi untuk melindungi guru dari ancaman dengan lebih baik.

Presiden Emmanuel Macron, dijadwalkan mengadakan pertemuan keamanan dengan para menteri utama pada Minggu malam, kata kantornya. Sumber: Reuters

Berita Lainnya
×
img