sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tel Aviv diserang roket, PM Netanyahu persingkat kunjungan ke AS

Tujuh orang terluka ketika sebuah rumah di Tel Aviv, Israel, dihantam roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 25 Mar 2019 17:53 WIB
Tel Aviv diserang roket, PM Netanyahu persingkat kunjungan ke AS

Menyusul serangan roket dari Gaza yang melukai tujuh warga Tel Aviv, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memutuskan untuk mempersingkat kunjungannya ke Amerika Serikat dan segera pulang setelah bertemu dengan Presiden Donald Trump pada Senin (25/3) pagi waktu setempat.

Netanyahu pun dipastikan batal menyampaikan pidatonya di Konferensi American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) 2019, Selasa (26/3) pagi.

Konferensi AIPAC yang sangat dinanti-nantikan telah memicu kontroversi, dengan beberapa calon presiden dari Partai Demokrat termasuk Elizabeth Warren, Bernie Sanders, dan Kamala Harris, serta mantan anggota Kongres Beto O'Rourke, mengumumkan tidak akan hadir.

Pembicara di AIPAC termasuk Wakil Ketua Partai Kahol Lavan Benny Gantz, Duta Besar Israel untuk AS Ron Dermer, Duta Besar AS untuk Israel David Friedman, Wakil Presiden AS Mike Pence, mantan Dubes AS untuk PBB Nikki Haley, dan Ketua DPR Nancy Pelosi.

Tujuh orang terluka ketika sebuah rumah di Tel Aviv dihantam roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza.

Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan menanggapi serangan itu dan dia akan pulang untuk secara langsung mengelola operasi.

"Dalam beberapa jam saya akan bertemu dengan Presiden Trump. Segera sesudahnya saya akan kembali ke Israel," kata Netanyahu.

PM Israel telah mengadakan pengarahan dan konsultasi jarak jauh dengan kepala staf militer, kepala Shin Bet, dan kepala Dewan Keamanan Nasional.

Sponsored

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan serangan roket itu dilakukan oleh Hamas, menambahkan bahwa tentara akan mengerahkan dua brigade dan unit infantri ke wilayah selatan Gaza.

Mengantisipasi serangan balasan dari Israel, pemimpin Hamas Yahya Sinwar telah membatalkan konferensi persnya dan para petinggi kelompok tersebut langsung dibawa ke tempat persembunyian.

Sejauh ini belum ada organisasi Palestina di Gaza yang mengklaim bertanggung jawab atas penembakan roket tersebut.

Menurut analis politik Palestina, Adnan Abu Amer, mengirim pejabat Hamas ke tempat persembunyian adalah langkah yang kerap diambil setiap kali ada serangan roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza.

Dia menilai roket itu ditembakkan dari Gaza sebagai bentuk solidaritas atas tahanan Hamas di Penjara Ktzi'ot. Abu Amer mengatakan bahwa tembakan roket dimaksudkan untuk mengirim pesan kepada para tahanan bahwa mereka tidak sendirian dan tidak akan digunakan sebagai pion politik dalam pemilu Israel.

Pesan kedua, lanjutnya, adalah bahwa Gaza siap untuk memperluas targetnya di luar wilayah di sekitar Jalur Gaza.

Penilaian awal Israel menunjukkan bahwa roket itu ditembakkan dari bagian selatan Jalur Gaza. Menurut sumber-sumber intelijen, satu-satunya kelompok di Gaza yang memiliki roket dengan jangkauan seperti itu adalah Hamas dan Jihad Islam.

Hadiah demi hadiah untuk Netanyahu

PM Netanyahu tiba di Washington pada Minggu (24/3) untuk mencari dukungan Trump jelang pertarungannya dalam pemilu yang akan berlangsung pada 9 April. 

Pekan lalu, Trump telah mengumumkan bahwa AS akan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, yang direbut dari Suriah pada 1967. Kebijakan ini kemungkinan akan meningkatkan harapan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk kembali memenangkan pemilu, tetapi juga memprovokasi oposisi internasional.

Pemerintahan AS sebelumnya memberlakukan Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Suriah yang diduduki, sejalan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB. Trump mengumumkan hancurnya kebijakan itu pada Kamis (21/3) lewat Twitter.

Pengumuman Trump datang ketika Netanyahu tengah menjamu Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo di Yerusalem.

"Presiden Trump baru saja menciptakan sejarah," kata Netanyahu. "Saya meneleponnya. Saya ucapkan terima kasih atas nama rakyat Israel. Pesan yang diberikan Presiden Trump kepada dunia adalah bahwa AS mendukung Israel."

Penjabat Menteri Luar Negeri Israel Yisrael Katz mengatakan, pada Senin, Trump akan melangkah lebih jauh ketika menyambut Netanyahu.

"Di hadapan PM Netanyahu, Presiden Trump akan menandatangani sebuah perintah yang mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan," jelasnya.

Netanyahu telah lama mendorong pengakuan seperti itu, dan banyak analis menilai pernyataan Trump sebagai hadiah kampanye menjelang pemilu Israel.

Satu hadiah untuk Netanyahu datang lagi pada Minggu, ketika Perdana Menteri Romania Viorica Dancila menyatakan akan memindahkan kedutaan negaranya ke Yerusalem.

Netanyahu bertarung dalam pemilu yang sulit dengan aliansi politik sentris yang dipimpin oleh mantan Kepala Militer Benny Gantz dan mantan Menteri Keuangan Yair Lapid.

Jajak pendapat pekan lalu menunjukkan elektabilitas Netanyahu menurun dibandingkan dengan dua saingannya, dan kunjungan ke Washington dipandang sebaagi kesempatan untuk kembali mendapatkan momentum.

Keputusan mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan adalah wujud dukungan besar teranyar yang ditunjukkan Trump kepada Netanyahu. Sebelumnya pada 2017, dia mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara itu.

Suriah dan negara-negara lain di kawasan itu mengecam pengakuan Dataran Tinggi Golan oleh Trump, mengatakan bahwa itu melanggar hukum internasional. Prancis pun mengambil sikap serupa.

Israel menguasai Dataran Tinggi Golan secara bertahap pada tahun-tahun setelah perang Arab-Israel 1948, dan menduduki seluruh area itu dalam perang 1967. Pada tahun itu pula, Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi 242 yang menekankan bahwa akuisisi wilayah oleh perang tidak dapat diterima.

Resolusi lebih lanjut, yang didukung oleh pemerintahan Ronald Reagan pada 1981, menolak untuk menempatkan Dataran Tinggi Golan di bawah yurisdiksi Israel langsung.

Meskipun Trump mengaku tidak mengikuti permainan politik Israel, hubungannya dengan Netanyahu telah lama menjadi isu utama kampanye PM Israel itu. (Haaretz, Al Jazeera, dan Channel News Asia)

Berita Lainnya