sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Warga Ethiopia serbu kedutaan Rusia, ingin ikut tempur di Ukraina

Kantor berita Reuters melaporkan pada hari Kamis, antrean warga telah terbentuk setiap pagi di luar kedutaan.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Jumat, 22 Apr 2022 07:57 WIB
Warga Ethiopia serbu kedutaan Rusia, ingin ikut tempur di Ukraina

Bagi sebagian warga Ethiopia, apapun pekerjaan akan mereka jalani meski dengan risiko ekstrem sekalipun.  Mereka yang punya pendirian seperti itu, kini berjajar di luar Kedutaan Besar Rusia. Tujuannya, mendaftar untuk menjadi tentara bayaran Rusia bertempur di Ukraina.

Warga Etiopia, sebagian besar membawa catatan militer berbaris di luar Kedutaan Rusia di Addis Ababa dengan harapan untuk bergabung dengan tentara Rusia. Mereka tergiur dengan rumor soal iming-iming gaji US$2.000 sesuai info yang menyebar di media sosial.

Selain itu, memang banyak orang di Ethiopia telah menyuarakan solidaritas dengan Rusia, yang telah menikmati hubungan dekat dengan negara Tanduk Afrika sejak era Soviet.

Orang-orang Etiopia telah membentuk antrean panjang di luar kedutaan Rusia dan berharap direkrut Rusia. Tetapi, pejabat kedutaan mengatakan mereka tidak merekrut pejuang asing dari negara Afrika.

Kantor berita Reuters melaporkan pada hari Kamis, antrean warga telah terbentuk setiap pagi di luar kedutaan. Reuters juga melaporkan bahwa jumlah sukarelawan membengkak selama dua minggu.

Pada hari Selasa, wartawan Reuters melihat beberapa ratus orang mendaftar dengan penjaga keamanan Ethiopia di luar kedutaan. Para penjaga mencatat nama mereka dan meminta bukti dinas militer.

Tidak ada bukti bahwa orang Ethiopia telah dikirim ke Ukraina, juga tidak jelas apakah akan ada.

Seorang pria yang keluar dari kedutaan dan berbicara kepada para sukarelawan dalam bahasa Rusia melalui seorang penerjemah mengatakan bahwa Rusia memiliki cukup pasukan untuk saat ini, tetapi mereka akan dihubungi saat dibutuhkan.

Sponsored

Kedutaan Rusia tidak menanggapi pertanyaan dari Reuters tentang identitas pria itu atau apakah Rusia mengirim sukarelawan Ethiopia ke Ukraina.

Ia mengeluarkan pernyataan pada hari Selasa yang mengatakan bahwa mereka tidak merekrut pejuang dan bahwa orang-orang Ethiopia yang muncul di luar adalah simpatisan yang mengekspresikan solidaritas dan dukungan untuk Federasi Rusia.

Kementerian Luar Negeri Ethiopia menyambut baik pernyataan Rusia atas apa yang disebutnya "menolak laporan perekrutan Angkatan Bersenjata Rusia yang tidak berdasar" tetapi tidak menanggapi pertanyaan Reuters.

Begitu pula dengan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Kedutaan Ukraina di Addis Ababa mengajukan pertanyaan kepada pihak berwenang Ethiopia.

Kemiskinan dan inflasi

Ethiopia telah meminta semua pihak dalam konflik untuk menahan diri dan tidak memberikan suara pada resolusi Majelis Umum PBB yang mengutuk serangan 24 Februari di Ukraina yang disebut Rusia sebagai "operasi militer khusus" untuk mendemiliterisasi negara itu.

Tetapi banyak orang di Ethiopia telah menyuarakan solidaritas dengan Rusia, yang telah menikmati hubungan dekat dengan negara Tanduk Afrika itu sejak era Soviet.

Desas-desus media sosial tentang pembayaran US$2.000 untuk bergabung dan kemungkinan bekerja di Rusia setelah konflik menggoda orang untuk berangkat ke Ukraina. Ini tidak lepas dari keadaan di mana banyak bagian Ethiopia terbelah oleh konflik dan inflasi tahunan berkisar sekitar 30 persen.

"Saya bersedia mendukung pemerintah Rusia dan, sebagai imbalannya, begitu saya keluar, saya akan mendapat manfaat," kata Leta Kibru kepada Reuters di luar kedutaan, di mana dia kembali untuk memeriksa apa yang dia katakan sebagai lamarannya.

"Hidup di Ethiopia menjadi sulit," kata pedagang kaki lima berusia 30 tahun itu, yang mengatakan dia telah pensiun dari tentara Ethiopia pada 2018 dan sekarang menjual pakaian dan ponsel. "Yang saya butuhkan adalah tinggal di Eropa."

Leta mengatakan dia telah mendengar tentang pembayaran US$2.000 dari teman-teman yang telah mendaftar sebelum dia. Dua orang lainnya dalam antrean minggu ini mengatakan mereka telah melihat posting di Facebook yang mengatakan bahwa kedutaan sedang merekrut orang-orang.

Reuters tidak dapat menemukan posting apa pun tentang masalah ini dari sumber resmi atau mengonfirmasi tawaran semacam itu.

"Alasan saya ingin pergi ke Rusia bukan untuk melawan Ukraina, tetapi karena saya tidak mendapat manfaat dari negara saya," kata Binyam Woldetsadik, seorang penjaga keamanan berusia 40 tahun yang mengatakan bahwa dia bertugas dalam perang perbatasan Ethiopia tahun 1998-2000 dengan Eritrea.

"Saya lebih baik menjadi warga negara dari negara yang lain."

Berita Lainnya