logo alinea.id logo alinea.id

DreadOut: Mengalahkan hantu dengan lampu kilat ponsel

DreadOut berkisah tentang sekelompok anak muda yang masuk ke dimensi lain di sebuah gedung angker.

Nanda Aria Putra Sabtu, 12 Jan 2019 16:08 WIB
DreadOut: Mengalahkan hantu dengan lampu kilat ponsel

DreadOut boleh berbangga. Setidaknya, film ini merupakan film Indonesia pertama hasil adaptasi sebuah gim bergenre horor buatan negeri sendiri. Film ini berkisah tentang sekelompok remaja SMA yang haus eksistensi di media sosial.

Jessica (Marsha Aruan) beserta teman-temannya, antara lain Erik (Jefri Nichol), Beni (Isryadillah), Dian (Susan Sameh), dan Alex (Ciccio Manassero), punya rencana gila mengunjungi sebuah gedung, bekas apartemen yang sudah lama kosong. Gedung ini terkenal angker.

Misteri sebuah gedung angker

Bangunan ini, dahulunya sempat menjadi perhatian publik, karena ada kasus penculikan dan percobaan pembunuhan yang dilakukan sekelompok orang. Namun, berhasil digagalkan polisi dengan menembak mati pelakunya. Sejak itu, bangunan ini ditinggal penghuninya.

Jessica dan teman-temannya berniat uji nyali sembari live di media sosial di gedung ini. Tujuannya, untuk meningkatkan jumlah followers.

Hanya saja, untuk dapat masuk ke gedung tersebut, mereka butuh akses ke penjaga gedung Kang Hery (Mike Lucock), yang hanya dikenal oleh adik kelas mereka yang bernama Linda (Caitlin Halderman).

Singkat cerita, mereka berenam masuk gedung tersebut. Sedari awal mereka telah memulai merekam setiap aktivitas di gedung dengan ponsel pintar. Termasuk mengabadikan hal-hal ganjil yang mereka temui. Akhirnya, mereka menemukan sebuah ruangan dengan garis marka yang tak boleh dilalui.

Salah seorang teman Linda menunjuk lokasi yang membawa mereka ke dimensi lain. (Youtube).

Alex menjadi orang yang sangat antusias dengan penemuan ini. Dia memaksa teman-temannya untuk masuk.

Didorong rasa penasaran, mereka berenam masuk. Mereka menemukan sebuah ruangan di mana terdapat perkamen kuno, dan simbol melingkar dengan aksara Sansekerta di sekelilingnya.

Menjadi tokoh sentral dalam film ini, Linda awalnya hanya digambarkan sebagai orang yang ikut-ikutan mendampingi teman-temannya. Namun, ketika teman-temannya sibuk mengabadikan gambar yang tertuang pada perkamen itu dengan kamera dan bantuan lampu kilat ponsel, Linda dapat melihat tulisan yang tak bisa dilihat teman-temannya.

Di sinilah ketegangan itu mulai terjadi.

Ketika membaca tulisan yang terdapat di perkamen tersebut, tiba-tiba lingkaran yang ada di tengah-tengah ruangan itu bercahaya, dan berubah menjadi kolam besar dengan air berwarna hijau yang membentuk pusaran.

Mereka semua terhempas masuk ke dalam pusaran tersebut. Linda dan Jessica masuk terlalu dalam, dan menggiring mereka menuju ke dimensi lain. Tempat di mana rumah bernuansa Sunda, lengkap dengan gamelannya, dan dikelilingi hutan belantara.

Pusaran itu semacam portal ke dimensi lain. Lokasi si Kebaya Merah bersemayam.

Dari sini cerita-cerita menegangkan coba dihadirkan oleh sang sutradara Kimo Stamboel. Dikejar-kejar pocong bercelurit, terjebak dalam lubang seukuran kuburan, diteror tangan-tangan yang muncul dari dalam tanah, hingga diburu Kebaya Merah ke manapun mereka pergi.