sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kisah petarung MMA dan geliat industri di arena oktagon

Mereka baku hantam di atas oktagon, tetapi tak bisa memberi jaminan hidup.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Sabtu, 18 Jan 2020 20:34 WIB
Kisah petarung MMA dan geliat industri di arena oktagon

Sudah lebih setahun lalu Zuli Silawanto menyingkir dari atas oktagon mixed martial arts (MMA). Ia resmi memutuskan pensiun dari arena yang membesarkan namanya pada 1 Desember 2018, usai bertarung dalam One Pride Pro Never Quit Fight Night 25 melawan Hendrik Tarigan. Pertarungan pamungkas Zuli itu berakhir dengan kekalahan.

Namun, pria berusia 44 tahun tersebut, takbisa secara total meninggalkan dunia seni beladiri campuran itu.

“Saya enggak bisa diam saja kalau ada yang latihan,” kata Zuli ketika ditemui reporter Alinea.id di sasana Tigershark Fighting Academy, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (16/1).

Malam itu, lelaki kekar berkepala plontos tersebut baru saja mendampingi anggota Tigershark latihan. Lalu, ia bergegas lagi menghampiri puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan (STP) berlatih yusikaindo. Menularkan ilmu beladirinya ke mahasiswa-mahasiswa itu. Jarak tempat latihannya sekitar 30 meter di sebelah Tigershark.

Tigershark berkembang sejak awal 2000-an, tumbuh dari yusikaindo. Yusikaindo merupakan akronim dari beberapa cabang seni beladiri, seperti yudo, silat, karate, aikido, dan taekwondo.

Yusikaindo sendiri menjadi kegiatan ekstrakurikuler bagi mahasiswa STP. “The Shark”—julukan Zuli saat masih aktif baku hantam di atas oktagon—mengatakan, pertama kali mengenal yusikaindo ketika mengenyam pendidikan di STP pada 1994.

Nama Tigershark dipilih sebagai ciri khas karena letaknya berada di lingkungan kampus STP. Menurut Zuli, dengan nama Tigershark, diharapkan setiap petarung punya sifat layaknya hiu harimau.

“Tigershark atau hiu harimau ini spesies ikan hiu yang paling mematikan di laut. Maknanya, supaya kita bisa punya sifat sebagai ikan hiu yang menyerang dengan tenang, tapi langsung bisa mematikan lawan,” kata Zuli.

Sponsored

Nama Tigershark menjadi terkenal setelah sejumlah petarungnya menjadi kampiun kompetisi MMA tingkat nasional maupun internasional.

Di sasana ini, enam anggota Tigershark tengah fokus berlatih di area latihan sasana beralas matras dan dikurung pagar besi mirip sangkar, berukuran empat kali empat meter. Latihan itu diawasi seorang pelatih.

Zuli Silawanto, mantan petarung MMA yang kini menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) dan pelatih di sasana Tigershark, saat ditemui di sasana Tigershark Fighting Academy, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (16/1/2020). Alinea.id/Robertus Rony Setiawan..

Gemar berkelahi

Zuli berhasil menyelesaikan pendidikannya di STP pada 1998. Tiga tahun kemudian, ia menjadi staf pengajar di almamaternya. Ia juga bertindak sebagai instruktur pembina kedisiplinan dan karakter di sekolah tinggi itu, sekaligus pelatih di Tigershark.

Berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat, Zuli kecil mengaku tak jarang bercanda menyertakan kontak fisik dengan teman-temannya. Bahkan, kerap terjadi perkelahian kecil.

“Sewaktu kecil saya sering di-bully. Tapi, saya bukan tipe anak yang diam saja ketika di-bully. Saya melawan. Akhirnya, hampir setiap pulang sekolah saya selalu berkelahi. Bahkan, di jam istirahat,” tuturnya.

Kegemarannya melihat adu fisik semakin tumbuh ketika merantau ke Jakarta pada 1994. Pada 2001, bersama guru pembina ekstrakulikuler tinju dan beladiri lainnya di STP, ia mengembangkan dasar-dasar beberapa jenis beladiri, seperti jiu-jitsu brasil, karate, judo, kickboxing, dan gulat.

Di Indonesia, MMA mulai dikenal orang ketika ajang tarung TPI Fighting Championship (TPI-FC) disiarkan pada 2002. Saat itu, TPI juga menyiarkan Ultimate Fighting Championship (UFC) dan Pride Fighting Championships (Pride FC).

Zuli pun ikut menjadi salah satu petarung dalam TPI-FC pada 2002. Ia bertarung di kelas menengah (75-80 kilogram).

Zuli menilai, setiap petarung yang pernah dihadapinya merupakan lawan tangguh. Namun, nama Aji Susilo dan Andry Fachruriadi punya kesan mendalam baginya.

Ia pernah melawan Andry sebanyak tiga kali, yakni dalam perebutan sabuk kategori kelas menengah di TPI-FC 17 pada 2 Mei 2003 dan TPI-FC 20 pada 4 Juli 2003, serta MMA Grand Prix 2004. Sementara bertemu Aji Susilo dalam TPI-FC 4 pada 7 September 2002. Sayangnya, seluruh pertarungan berakhir dengan kekalahan.

Bagi Zuli, gaya bertarung Andry berbeda jauh dengannya. Sebagai mantan atlet gulat, Andry memiliki teknik tarung bergumul, yang bermain di sekitar area bawah tubuh. Hal itu cukup menyulitkan Zuli, yang memiliki kebiasaan menyerang dalam posisi berdiri, mencakup pukulan dan tendangan.

“Jadi, seru saja bertanding dengan Andry. Saya belum pernah menang melawan dia. Dia pegulat yang paling bagus,” ucapnya.

Seharusnya, pertandingan di One Fighting Championship tingkat internasional pada 2011 menjadi ajang adu jotos terakhir bagi Zuli. Setahun setelah kompetisi itu, terbesit keinginannya untuk pensiun. Akan tetapi, ia masih sering diundang bertanding dalam berbagai kompetisi MMA.

Pada awal 2016, bersama tim dari Komite Olahraga Beladiri Indonesia (KOBI)—sebuah organisasi yang mewadahi MMA nasional, dengan Ketua Umum Anindra Ardiansyah Bakrie—Zuli diminta menyusun penyelenggaraan MMA tingkat nasional.

“Minat publik yang cukup besar, membuat KOBI tertarik menyelenggarakan kompetisi MMA,” ujar Zuli.

Digemari publik

Beberapa anggota Tigershark sedang latihan, Kamis (16/1/2020). Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Menurut Zuli, pertandingan MMA lantas dirancang sebagai sebuah kompetisi baku hantam yang menampilkan gaya bertarung memuat unsur hiburan. Ada aturan yang membatasi kontak fisik, demi mencegah bahaya keselamatan petarung.

Ada sejumlah larangan bagi petarung, yakni tak boleh menyerang kepala bagian belakang dan tak boleh menyerang organ fisik yang memiliki lubang, seperti mata, telinga, hidung, dan alat vital. Di samping itu, tak boleh menyerang organ yang punya persendian kecil, seperti jemari kaki dan tangan.

“Orang-orang yang bertanding juga mengembangkan gaya bertarung yang baik dan cantik,” kata Zuli.

Sebuah kompetisi bertajuk One Pride MMA pun digelar pertama kali pada 9 April 2016. Hingga kini, kompetisi itu masih berjalan dan disiarkan salah satu stasiun televisi swasta.

One Pride MMA diadakan bersama pihak promotor dari PT Merah Putih Berkibar. Menurut CEO PT Merah Putih Berkibar, Fransino Tirta, MMA sudah menjadi olahraga tersendiri, yang disusun menjadi permainan dengan aturan dan batasan ketat.

Fransino, yang juga mantan petarung MMA itu mengatakan, aturan pertarungan MMA di Indonesia mengacu seperti yang ditetapkan KOBI, yang menjadi anggota International Mixed Martial Arts Federation and World Mixed Martial Arts Association (IMMAF-WMMAA).

MMA memadukan gaya serangan fisik dalam posisi berdiri, seperti dalam boxing, tinju, atau karate, serta teknik beladiri mirip gulat, seperti judo atau jiu-jitsu. Aturan-aturannya pun harus dipatuhi.

“Jadi, bukan lagi pertarungan jalanan, yang mempertandingkan beberapa cabang beladiri. Di sini sekarang boleh ada pukulan, tendangan, dan kuncian. Sudah ada badan internasionalnya,” kata Fransino saat dihubungi, Jumat (17/1).

Menurut General Manager TVOne Sport, Arif Budiyanto, program One Pride menjadi salah satu program unggulan di stasiun televisinya.

“Dalam empat tahun penyelenggaraan, One Pride MMA menandingi popularitas program olahraga Liga Basket Indonesia TVOne,” ucap Arif ditemui di Kantor TVOne, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Kamis (16/1).

Sementara itu, Fransino menambahkan, pihaknya mengelola biaya operasional penyelenggaraan dengan cukup baik. Bayaran bagi petarung merupakan alokasi yang sangat diperhatikan.

Selama ini, untuk mengelola pertandingan, ia mengandalkan dana dari sponsor salah satu produk rokok dan anggaran dari stasiun televisi yang menyiarkannya. Dalam beberapa pertandingan, kata dia, seorang petarung yang menang bisa mendapat uang bayaran bertanding hingga Rp50 juta.

Ke depan, ia berupaya melakukan inovasi dalam penyelenggaraan program kompetisi, termasuk meningkatkan besaran bayaran bertanding dan hadiah bagi pemenang.

Hal itu dilakukannya sejalan dengan tingginya minat penonton terhadap program One Pride. Fransino bilang, berdasarkan data rating penonton menurut lembaga AC Nielsen, setiap satu kali siaran langsung One Pride, sebanyak 10 juta orang penonton Indonesia menyaksikan program tersebut.

“Begitu pun siaran tapping, kurang lebih sama. Tapi, yang paling banyak saat siaran live. Kami ingin tetap menjalankan pertandingan ini. Kita berharap bisa meraih penonton lebih banyak lagi,” ucap Fransino.

Dihubungi terpisah, Produser Program One Pride MMA TVOne Septian Ermawan mengatakan, dalam setiap musim kompetisi One Pride, daftar petarung yang mengikuti audisi terus bertambah. Para peserta audisi diseleksi melalui proses duel antarpeserta, beberapa bulan sebelum kompetisi dimulai.

One Pride, menurut Septian, ikut membuat jumlah sasana bertambah banyak. “Tadinya hanya 30 camp, sekarang ada 200 lebih camp se-Indonesia,” kata Septian saat dihubungi, Kamis (16/1).

Suasana latihan MMA di sasana Tigershark, Jakarta Selatan, Kamis (16/1/2020). Alinea.id/Robertus Rony Setiawan.

Kesejahteraan dan keselamatan

Adrian “Papua Badboy” Mattheis merupakan salah seorang didikan Zuli di Tigershark. Menurut Zuli, pemuda asal Sorong, Papua Barat itu menjadi salah satu contoh yang mulai menunjukkan diri sebagai petarung MMA profesional.

Ia moncer sebagai petarung MMA di tingkat internasional, di antaranya ia menang dalam ajang One Championship-Masters of Destiny di Malaysia mengalahkan Zhe Li pada 12 Juli 2019, One Championship-Heroes of Honor di Filipina mengalahkan Ming Qiang Lan pada 20 April 2018, dan One Championship-Global Superheroes di Filipina mengalahkan Eddey Kalai pada 26 Januari 2018.

Adrian pun tercatat meraih medali perunggu pada cabang kick boxing di Sea Games 2019 Filipina. Prestasi itu dicapainya melalui latihan rutin dan berat setiap minggu.

“Dalam seminggu, saya latihan fisik selama lima hari. Siang hari latihan tambahan lari di seputar Pasar Minggu,” kata dia saat ditemui di sasana Tigershark Fighting Academy, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (16/1).

Terkait jaminan keselamatan, Fransino menuturkan, dalam kompetisi MMA setiap petarung yang akan berlaga diberikan fasilitas BPJS Ketenagakerjaan. Menurutnya, pihak promotor akan membayarkan premi asuransi keselamatan bagi petarung, yang berlaku satu hingga tiga bulan sesudah pertandingan berlangsung.

Kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan ini, kata Fransino, baru dimulai pada 2018. Besaran biaya jaminan yang ditanggung bagi petarung mencapai Rp150 juta.

Jaminan ini mencakup pengobatan untuk segala jenis cedera atau kecelakaan selama persiapan dan saat pertandingan, juga perawatan hingga pemulihan fisik petarung.

“Saat akan bertanding lagi, maka kami yang akan membayarkan preminya di bulan itu,” kata Fransino.

Salah seorang petarung, Gusfi Ranu mengatakan, jaminan BPJS Ketenagakerjaan merupakan sebuah pengakuan untuk mereka sebagai pelaku profesional MMA. Ia merasa dimudahkan dengan jaminan perawatan kesehatan, jika mengalami cedera.

Menurut Ranu, tahun-tahun sebelumnya besaran jaminan perawatan bagi petarung MMA hanya sebesar Rp20 juta. Seorang rekannya pernah mengalami patah lengan bawah, usai bertarung di One Pride pada 2017.

Rekannya itu harus menanggung biaya perawatan sebesar Rp28 juta. Untungnya, sesama petarung rela menyumbang untuk meringankan biaya pengobatannya.

“Rp20 juta ditanggung BPJS. Sisanya, kita bantu nombokin,” kata Ranu saat ditemui di sasana Tigershark Fighting Academy, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (16/1).

Perihal bergantung hidup dari MMA, Zuli mengaku, sangat jarang petarung yang mengandalkan bayaran dari bertanding. Dalam sekali pertandingan MMA, kata dia, seorang petarung yang kalah mendapatkan bayaran dari penyelenggara kompetisi sebesar Rp2,5 juta. Sedangkan pemenang, mendapat bayaran bertanding sebesar Rp5 juta-Rp11 juta.

Infografik MMA. Alinea.id/Dwi Setiawan.

“Seorang petarung yang akan kembali bertanding akan meningkat nominal honornya, bertambah Rp500.000 per duel,” ujarnya.

Nominal honor, menurut Zuli, masih jauh di bawah standar pertandingan level MMA internasional. Seorang petarung pemula yang kalah dalam kompetisi di MMA internasional, ujar Zuli, dibayar US$1.000 atau Rp13,6 juta. Sementara kalau menang mendapat US$2.000 atau Rp27,2 juta.

Zuli mengaku, iklim industri MMA di Indonesia belum terbangun dengan baik. Maka, MMA belum bisa menjadi profesi yang menjanjikan.

Di sasana Tigershark saja, kata Zuli, hanya sedikit anggotanya yang menggeluti profesi MMA secara penuh. Umumnya, masing-masing anggota menjadikan pertarungan di atas oktagon sebagai pekerjaan sampingan.

Selain Zuli yang berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN) di STP, Ranu bekerja sebagai fotografer lepas. Zuli termasuk beruntung, mendapat penghasilan juga dari bermain dalam film The Raid 2 (2014) dan Iseng (2016).

Zuli mengatakan, dalam setahun, petarung MMA maksimal hanya tiga atau empat kali saja naik oktagon.

“Bahkan ada yang cuma sekali tanding dalam setahun. Industri MMA di Indonesia belum terbentuk dengan baik,” ujarnya.

Berita Lainnya