sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Mengapa malam satu Suro dianggap seram?

Bagi sebagian orang, malam satu Suro dianggap keramat dan menyeramkan. Benarkah begitu?

Fandy Hutari
Fandy Hutari Jumat, 07 Sep 2018 19:18 WIB
Mengapa malam satu Suro dianggap seram?

Sundel bolong bernama Suketi (Suzanna) dibangkitkan kembali oleh seorang dukun bernama Ki Rengga. Dia lalu menancapkan paku di kepalanya, merapal mantera, hingga Suketi kembali menjadi manusia.

Singkat cerita, ada seorang pemuda dari kota bernama Bardo (Fendy Pradana) jatuh cinta kepada Suketi. Atas izin Ki Rengga, yang menjadi ayah angkat Suketi, mereka menikah. Pernikahan tersebut hanya boleh dilakukan di tengah hutan Roban, dihelat pada malam satu Suro. Acara tersebut digambarkan dengan sebuah upacara mistis ala perdukunan.

Kisah tadi merupakan penggalan film Malam Satu Suro (1988), yang disutradarai Sisworo Gautama Putra. Salah satu film horor legendaris yang dibintangi Suzanna. Seperti judulnya, film ini berfokus pada malam satu Suro, yang dianggap sebagian orang keramat, bahkan horor.

Selain Malam Satu Suro, film Malam Suro di Rumah Darmo (2014) pun menyoroti keramatnya malam satu Suro. Film tersebut mengisahkan tentang sebuah keluarga yang tinggal di rumah mewah hasil pesugihan, menyediakan tumbal dan sesajen. Namun, setelah kaya, keluarga tak lagi menyediakan tumbal dan sesajen. Para hantu mengamuk, lalu membunuh orang yang ada di rumah pada malam satu Suro.

Sultan Agung dan ritual keraton

Menurut Muhammad Sholikhin dalam bukunya Misteri Bulan Suro; Perspektif Islam Jawa (2010), kata Suro adalah sebutan untuk bulan Muharam oleh masyarakat Jawa. Kata itu berasal dari bahasa Arab, asyura, yang berarti “sepuluh” dalam bahasa Indonesia, mengacu pada 10 Muharam. Namun, dalam lidah orang Jawa, asyura kemudian disebut Suro.

“Jadilah kata ‘Suro’ sebagai khazanah Islam-Jawa asli sebagai nama bulan pertama kalender Islam maupun Jawa,” tulis Muhammad Sholikhin dalam bukunya Misteri Bulan Suro; Perspektif Islam Jawa.

 

Misteri satu Suro by Alinea ID

Sponsored

Bulan Suro muncul ketika Sultan Agung, Raja Mataram (1613-1645) memerintah. Ketika itu, Sultan Agung mengganti kalender Saka, yang sudah ada sejak zaman Hindu menjadi kalender Jawa. Menurut Isdiana dalam skripsinya di Universitas Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung berjudul Tradisi Upacara Satu Suro dalam Perspektif Islam, sebagai penganut Islam, Sultan Agung ingin segala hal yang berkaitan dengan perilaku orang Jawa selalu terikat nilai-nilai Islam.

Kalender Jawa ciptaan Sultan Agung tersebut dimulai dari satu Suro tahun Alip 1555, tepat pada satu Muharram 1043 Hijriah. Lebih lanjut, Isdiana menulis, penentuan tahun baru Jawa kalender Sultan Agung tersebut mulai diberlakukan pada 8 Juli 1633.

Penulis buku Sajen dan Ritual Orang Jawa Wahyana Giri menyebut, kalangan keraton Yogyakarta dan kasunanan Surakarta memaknai bulan Suro sebagai bulan yang suci. Di bulan Suro itu, menurut Wahyana, orang harus introspeksi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kalangan keraton tersebut, menggunakan momen bulan Suro sebagai bulan untuk membersihkan diri, melawan godaan hawa nafsu.

“Secara turun-temurun, orang-orang di keraton dan kasunanan menggelar berbagai tradisi laku tirakat. Salah satunya menggelar selamatan khusus selama satu minggu berturut-turut dan tidak boleh berhenti,” tulis Wahyana Giri dalam Sajen dan Ritual Orang Jawa (2009).

Usaha menggerus budaya lokal?

Staf pengajar Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran Widyo Nugrahanto, akrab disapa Anto, mengatakan di awal Suro, orang Jawa sering melakukan sejumlah hal. Misalnya, memandikan pusaka, seperti keris atau tombak.

Kemudian, lanjut Anto, ada yang menyambut tahun baru Jawa itu dengan ritual pribadi atau masyarakat. Ritual masyarakat, menurut Anto, biasanya dimulai oleh keraton-keraton. Hal itu sudah dilakukan sejak Sultan Agung berkuasa di Mataram.

“Ritual itu menurut saya, awalnya untuk menyambut tahun baru Jawa. Yang menghubungkan dengan hantu itu adalah masyarakat modern sekarang. Pada awalnya, ritual-ritual itu untuk upacara adat yang ditujukan kepada Tuhan,” kata Anto kepada Alinea, Rabu (5/9).

Anto menuturkan, banyak ritual yang ditujukan untuk penghormatan kepada Tuhan, dituding sebagai upacara hantu-hantuan. Anto menyontohkan, dahulu orang Jawa memasang hio atau kemenyan untuk pengharum ruangan, atau supaya lebih konsentrasi meditasi. Akan tetapi, malah disangka sedang memanggil hantu.

“Masyarakat modern kan lebih berbudaya, yang sifatnya rasional. Sehingga, mereka memandang, hal-hal yang sifatnya kepercayaan lokal berhubungan dengan mistis, karena dianggap tidak rasional,” katanya.

Lantas, produk budaya populer, seperti film yang mengetengahkan soal menyeramkannya malam satu Suro pun ikut memapankan anggapan miring tadi. Anto pun melihat, bukan hanya film, siaran televisi, atau saat ini media sosial, kerap menyebarkan pandangan yang keliru.

“Semua yang berbau kepercayaan lokal dianggap seram dan mistis,” ujar Anto.

Tudingan miring terhadap budaya lokal, seperti ritual kala bulan Suro, sudah ada sebelum film-film horor yang “menjual” horornya satu Suro beredar. Menurut Anto, film Malam Satu Suro pun mengikuti apa yang sudah menancap dalam kepala masyarakat.

“Jadi, dibuatlah film. Agar laku, ya pasti pakai sesuatu yang dipercaya atau beredar di masyarakat,” katanya.

Padahal, Anto mengatakan, ritual di keraton merupakan bentuk akulturasi budaya Jawa dan Islam. Sultan Agung merupakan raja Jawa pertama yang memadukan kalender Islam dan Jawa, sehingga muncul budaya baru, yang salah satunya satu Suro. Ritual-ritual yang dijalankan sekitar satu Suro, oleh sebagian orang, dianggap mistis dan sesat. Otomatis, malam satu Suro pun dianggap seram dan mistis.

Selain itu, cerita-cerita horor yang beredar di masyarakat, menurut Anto, ada yang sudah digiring kepada mitos. Bila kisah-kisah menyeramkan dihubung-hubungkan secara masif dan terus-menerus dengan tradisi lokal kita, bisa-bisa punah.

Berita Lainnya