sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tiga kasus 'asbun' soal Covid-19

Sejumlah figur publik dikritik karena komentar soal Covid-19.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Senin, 30 Mar 2020 16:46 WIB
Tiga kasus 'asbun' soal Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 516.753
Dirawat 66.752
Meninggal 16.352
Sembuh 433.649

Selain pejabat pemerintah, politikus dan figur-figur publik ramai-ramai bicara soal wabah Covid-19. Sebagian di antara pernyataan mereka menuai polemik dan memancing kegaduhan di ruang publik.  

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, misalnya. Dalam sebuah unggahan di Instagram pribadinya, Gatot mempertanyakan imbauan agar masyarakat tak salat berjamaah di masjid. 

Menurut Gatot, warga negara China, tempat asal Covid-19, masih salat berjemaah di masjid. Ia pun menilai imbauan itu berbau fobia terhadap umat Islam. 

Pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan, banjir informasi yang terkait Covid-19 yang memantik kegaduhan merupakan hal yang wajar. Pasalnya, publik saat ini dalam keadaan panik. Kondisi itu diperburuk maraknya hoaks. 

Enda menyebut ada tiga karakteristik hoaks yang beredar saat ini, yakni misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. Misinformasi berarti informasi yang disebarkan salah, namun si penyebar percaya bahwa informasi itu benar. 

"Dan ini juga terjadi di banyak pihak. Media juga salah, pejabat juga gitu. Biasanya yang dikutip kan berdasarkan apa yang dia dapat, tapi tidak ada maksud jahat atau merugikan orang lain di dalamnya," jelas Enda kepada Alinea.id di Jakarta, belum lama ini. 

Disinfomasi berarti kabar yang memang sengaja dibuat salah atau difabrikasi untuk menjatuhkan pihak lawan dan membuat suasana kacau. "Nah, yang kemarin ditangkap polisi terkait Corona itu kan masuk dalam kategori disinfomasi," kata dia.

Adapun malinformasi, menurut Enda, ialah informasinya sebetulnya benar, namun digunakan untuk mengancam keberadaan seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu. Itu, misalnya, terjadi dalam peristiwa pencatutan nama dan domisili pasien pertama Covid-19. 

Sponsored

Di tengah banjir informasi dengan beragam jenis itulah, lanjut Enda, kesan cari panggung sejumlah tokoh, pejabat publik, dan politikus menguat. Apalagi, koordinasi antara pusat dan daerah terasa sangat lemah pada masa-masa awal penanganan Covid-19.

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan

Berita Lainnya