sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Mohamad Rosyidin

Apakah dunia akan menyongsong Perang Teluk jilid 4?

Mohamad Rosyidin Senin, 06 Jan 2020 21:14 WIB

Dunia sekarang ini sedang cemas dengan perkembangan di Timur Tengah pasca terbunuhnya pemimpin Garda Revolusi Iran Qasem Soleimani oleh serangan drone AS. Iran meradang dan bersumpah akan membalas dendam. Pemerintah AS memperingatkan Teheran untuk tidak bertindak macam-macam kalau tidak ingin diperangi. 

Melihat situasi seperti itu, publik kemudian penasaran, apakah perang Iran-AS akan pecah dalam waktu dekat? Kita tidak punya bola kristal untuk memprediksi dengan akurat apakah Perang Teluk jilid 4 itu akan terjadi atau tidak. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerka-nerka kira-kira seperti apa prospek keamanan di kawasan bergolak tersebut.

Kepentingan Israel

Tulisan ini tidak menjawab secara langsung pertanyaan di atas. Tulisan ini berpendapat bahwa AS sejak lama menginginkan perang dengan Iran. Di dalam tubuh pemerintahan AS terdapat kelompok garis keras (hawkish) neokonservatif yang sangat getol mendesak Washington untuk menyerang Iran. Kelompok ini merupakan aktor intelektual di balik invasi AS ke Irak pada 2003. 

Dalam buku kontroversial The Israel Lobby and US Foreign Policy (2007:292), John Mearsheimer dan Stephen Walt mengutip pernyataan tokoh neokonservatif Irving Kristol bahwa setelah menyerang Irak maka target perang AS selanjutnya adalah Iran. Menurut penulis, kelompok ini punya hubungan dekat dengan kelompok lobi Yahudi di AS yang berkepentingan untuk menjaga keamanan Israel dari ancaman Iran. 

Kepentingan AS di Timur Tengah salah satunya adalah menjamin keamanan nasional Israel. Bagi Israel, Iran adalah ancaman nyata karena dua hal. Pertama, Iran memiliki niat mengembangkan senjata nuklir. Hal ini tentu akan mengubah peta geopolitik di kawasan. Kedua, Iran dipimpin oleh rezim yang menentang Israel. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khameini dan Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut Israel sebagai kanker tumor ganas yang harus diberantas. 

Pembunuhan terhadap Qasem Soleimani bisa dipahami dalam konteks geopolitik tersebut. AS menyebut pembunuhan itu sebagai ‘serangan mendahului’ (pre-emptive strike) untuk mencegah serangan-serangan yang menyasar kepentingan AS di Timur Tengah. Dalih seperti itu adalah modus klasik perang yang dikampanyekan AS. Ketika menginvasi Irak, pemerintahan George W. Bush pada waktu itu juga menggunakan dalih yang sama untuk mencegah Irak mengembangkan senjata pemusnah massal yang dapat mengancam perdamaian dunia. 

Menjebak Iran

Politik itu ibarat permainan catur. Masing-masing pihak menggunakan taktik tertentu untuk mengalahkan lawan. Taktik itu bisa berupa provokasi supaya pihak lawan terpancing untuk menyerang sehingga pihak lawan punya alasan untuk menyerang balik. Bagi mereka yang akrab dengan pemikiran politik riil Machiavelli, taktik semacam ini lumrah adanya. 

Untuk menyerang Iran, AS harus punya alasan kuat. Alasannya tentu saja bukan sekedar Iran mengembangkan senjata nuklir atau mengancam Israel. Alasan paling masuk akal untuk pergi berperang adalah membela diri. Selain dijamin oleh Piagam PBB, perang karena membela diri juga terkesan heroik sehingga akan mudah memancing simpati publik internasional. 

Dalam kerangka ini, pembunuhan pimpinan militer Iran hanyalah prolog untuk memulai perang sesungguhnya. AS hanya perlu menunggu Iran untuk membalas dendam. Jika Iran benar-benar melakukannya, maka AS sudah punya cukup alasan untuk menyerang Iran. Aksi balas dendam Iran akan menjadi kartu truf bagi AS untuk memulai Perang Teluk jilid 4.

Meskipun aksi balas dendam Iran logis karena membalas aksi sepihak AS, pihak yang kuatlah yang akan memenangkan hati publik internasional. Rene Girard dalam bukunya berjudul The Scapegoat (1986:19) mengatakan, pihak yang kaya dan kuatlah yang akan berhasil memengaruhi masyarakat dalam membenarkan tindakan kekerasannya melawan pihak lain di dalam situasi krisis. 

Mengkambinghitamkan Iran adalah cara AS untuk mendefinisikan dirinya sebagai korban (playing victim). Cara ini mencerminkan ketidakmampuan AS untuk menyelesaikan krisis hubungannya dengan Iran sehingga alih-alih membuka ruang-ruang dialog AS justru mencari-cari kesalahan Iran dan berperan layaknya korban demi meraih simpati internasional.

Sejak Donald Trump berkuasa, AS tidak punya etikat baik menyelesaikan krisis ini melalui pendekatan diplomatik. Pertama, pada 2018 AS keluar dari kesepakatan nuklir dan menerapkan sanksi lebih keras kepada Iran. Kedua, AS menuduh Iran berada di balik serangan terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman. Ketiga, AS menambah sekitar 1.000 tentara ke Timur Tengah untuk mengantisipasi ancaman Iran.

Fakta-fakta ini menunjukkan manuver AS yang sengaja memprovokasi Iran supaya bertindak ceroboh. Komitmen Iran untuk membalas dendam kematian jenderalnya merupakan indikasi bahwa jebakan yang dipasang AS akan memakan korban. Penganut politik riil percaya bahwa perang tidak bisa dihindari karena sudah menjadi sifat hubungan antarnegara. Tetapi, dalam kasus krisis Iran-AS faktor kehati-hatian (prudence) Iran untuk tidak mudah terprovokasi AS adalah kunci menghindarkan dunia dari perang. 

Berita Lainnya