logo alinea.id logo alinea.id
Hariqo Wibawa Satria

Cara menjadi orang terkenal

Hariqo Wibawa Satria Selasa, 23 Jul 2019 15:50 WIB

Tidak ada orang tua milenial mendoakan anaknya menjadi orang terkenal. Setidaknya ini tergambar dari unggahan mereka di medsos setelah kelahiran anaknya, dan berbagai komentar terhadap unggahan tersebut. 

Umumnya orang tua dan masyarakat mengatakan “semoga menjadi anak yang jujur, berbakti kepada kedua orang tua, bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara.” 

Terkenal adalah ‘bonus’ karena hidup kita bermanfaat bagi orang lain, jika terbalik memahaminya akan berimbas pada cara kita menggunakan media sosial. Segala cara akan kita halalkan di medsos untuk terkenal. Fokus kita agar terkenal, bukan agar bermanfaat. 

Akibatnya, bermunculan berbagai konten medsos yang melanggar aturan, norma, demi popularitas dan penambahan pengikut, subscribe, like, dll. Hal ini karena ada imajinasi dengan terkenal di medsos, bertambah pengikut, akan datang berbagai tawaran untuk mempromosikan aneka produk, dan ujungnya mendatangkan uang.

Pada beberapa orang, imajinasi itu jadi kenyataan, namun ke depan berbagai produk akan semakin selektif mencari influencer untuk produk mereka. Karenanya, sebelum menggunakan medsos, pelajar dan generasi muda harus diberikan orientasi. 

Dalam kaitannya dengan status kita sebagai pribadi dan warga dunia, maka sebaiknya jangan menggunakan media sosial sebelum mampu menjawab dua pertanyaan ini: pertama, Apa tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Berdasarkan Pancasila? Kedua, apa manfaat yang akan anda berikan kepada masyarakat? 

Tujuan hidup adalah memberi manfaat, dan medsos adalah alat. Sehingga akan lahirlah konten-konten yang benar dan bermanfaat sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Untuk bermanfaat, seseorang wajib menuntut ilmu sebagai modal untuk berkarya, berprestasi. Karakter yang harus ditanamkan antara lain: jujur, taat beragama, penghormatan kepada sesama manusia, cinta tanah air, pemersatu, unik, menjadi diri sendiri, suka menolong, pencipta, pengabdi, dan pendorong keadilan sosial.

Dalam kaitannya dengan dunia sekarang, anak jangan dibiarkan terus menjadi konsumen berbagai produk dan konten karya orang lain. Ia membaca novel agar mampu menjadi penulis novel, ke bioskop dengan tujuan mempelajari bagaimana cara membuat film, bermain medsos agar bisa membuat medsos, menggunakan mesin pencari agar bisa membuat mesin pencari dan seterusnya. 

Dorongan dan apresiasi dari keluarga dan lingkungan diperlukan agar anak menjadi pencipta. Hingga 2019 ini, sedikit sekali karya orang Indonesia yang berpengaruh di tingkat dunia, baik itu penelitian, artikel, novel, musik, film, komik dan lain sebagainya. Namun yang lebih penting lagi merumuskan sebuah sistem agar anak menjadi pencipta konten yang bermanfaat bukan hanya untuk Indonesia tapi untuk dunia.