sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Di Georgia, Jurnalis yang dipukuli dalam serangan anti-LGBTQ meninggal

Juru kamera berusia 37 tahun itu ditemukan tewas di tempat tidurnya pada Minggu dini hari.

Fitra Iskandar
Fitra Iskandar Senin, 12 Jul 2021 20:31 WIB
Di Georgia, Jurnalis yang dipukuli dalam serangan anti-LGBTQ meninggal

Kematian Alexander Lashkarava telah memicu protes di Tbilisi saat kemarahan meningkat terhadap pemerintah Perdana Menteri Irakli Garibashvili.

Seorang juru kamera Georgia yang dipukuli habis-habisan oleh penyerang sayap kanan selama protes terhadap pawai LGBTQ Pride ditemukan tewas di rumahnya, kata stasiun televisinya, Minggu (11/7).

Kementerian Dalam Negeri Georgia mengumumkan dalam sebuah pernyataan singkat bahwa penyelidikan kriminal atas kematian wartawan setelah serangan Senin lalu sudah dibuka.

Di hari yang sama Lashkarava dipukuli, lebih dari 50 jurnalis lainnya juga diserang oleh kelompok homofobia yang memprotes rencana pawai itu.

Kekerasan terhadap komunitas LGBTQ di Georgia telah memaksa penyelenggara untuk membatalkan pawai yang direncanakan, memicu kecaman internasional.

Apa yang diketahui tentang kematian Lashkarava
Juru kamera berusia 37 tahun itu ditemukan tewas di tempat tidurnya pada Minggu dini hari, kata pihak perusahaannya.

Lashkarava bekerja untuk stasiun TV independen Pirveli. Dia menderita patah tulang di wajah setelah diserang oleh massa yang bengis, Senin lalu.

Menurut laporan media, dia harus menjalani operasi tetapi keluar dari rumah sakit pada Kamis.

Sponsored

Baik Pirveli maupun pihak berwenang tidak mengungkapkan penyebab kematian Lashkarava.

Para pengunjuk rasa berkumpul untuk mengenang Lashkarava
Ribuan orang berbaris di Tbilisi pada Minggu untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Irakli Garibashvili dan penuntutan mereka yang bertanggung jawab atas kematian Lashkarava.

Tokoh TV dan jurnalis terkemuka Georgia menuduh pemerintah Garibashvili mengatur kampanye kekerasan terhadap jurnalis.

"Pemerintah tidak hanya mendorong kekerasan terhadap jurnalis, itu adalah bagian dari kekerasan," Nodar Meladze, editor berita TV Pirveli, mengatakan kepada kantor berita AFP.

"Pemerintah telah membentuk kelompok-kelompok kekerasan untuk menyerang media independen," katanya, seraya menambahkan bahwa "polisi antihuru-hara juga berulang kali menargetkan wartawan."

Pada 2019, polisi antihuru-hara melukai sekitar 40 jurnalis yang meliput protes anti-pemerintah.

Kritikus juga menuduh partai penguasa Garibashvili diam-diam mendukung kelompok homofobia dan nasionalis.

Garibashvili mengatakan mengadakan pawai LGBTQ Pride "tidak dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat Georgia," memicu reaksi keras dari kelompok hak asasi dan aktivis oposisi.(Sumber Dw)

Berita Lainnya