sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Elemen Kovach masih relevankah dengan jurnalisme kekinian?

Ongky benar-benar tersentak ketika GM mengatakan: 'Jurnalisme tidak selesai dengan berita.'

Arpan Rachman
Arpan Rachman Sabtu, 05 Mar 2022 17:11 WIB
Elemen Kovach masih relevankah dengan jurnalisme kekinian?


Tujuan utama di antara semua tujuan jurnalisme adalah menyediakan informasi yang diperlukan orang agar bebas dan bisa mengatur diri sendiri, menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2001). Tiga dari sembilan tugas pokok dan fungsi dari tujuan jurnalisme tersebut ialah kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran, loyalitas utama jurnalisme kepada warga, intisari jurnalime adalah disiplin dalam verifikasi.

Selain itu, para praktisinya harus menjaga independensi terhadap sumber berita, jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan, jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting menarik dan relevan, jurnalisme harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional, dan para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka.  

Tujuan dan tupoksi jurnalisme itu dimuat dalam buku Kovach-Rosenstiel berjudul 'Elemen Elemen Jurnalisme: Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan yang Diharapkan Publik' yang edisi bahasa Indonesianya terbit tahun 2003 oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI).  

Roy Peter Clark dari Poynter Institute menyebutnya, "Buku paling penting tentang jurnalisme dan demokrasi dalam lima puluh tahun terakhir." Karya ini pertama kali beredar tahun 2001.

Buku itu diantarkan Goenawan Mohamad (GM) ke publik pembaca Indonesia dengan salam pembuka mengejutkan bahwa jurnalisme tidak bermula dan tidak berakhir dengan berita. Jika Roy menyebutnya begitu penting dalam kurun 50 tahun pada edisi cetak pertama di tahun 2001, bagaimana esensi buku itu setelah melampaui 70 tahun sekarang yang menginjak pada 2022?

"Saya baru benar-benar membaca bukunya Kovach. Di dalamnya pengantar GM mengatakan bahwa jurnalisme tidak selesai dengan berita. Saya bekerja di salah satu perusahaan media dan selama saya bekerja saya hanya tahu jurnalisme itu adalah urusan berita. Jadi tiap hari kita ditargetkan berapa berita. Teman-teman yang bekerja di perusahaan media mungkin juga berpikir tiap hari mencari berita, terus begitu," kata Ketua Forum Wartawan Pamekasan (FWP) Ongky Arista.

Ongky benar-benar tersentak ketika GM mengatakan: 'Jurnalisme tidak selesai dengan berita.' Sementara wartawan yang bekerja di perusahaan media didoktrin hanya untuk mencari berita, sehingga terkesan bahwa jurnalisme itu hanya berita saja.

Dilatarbelakangi keingintahuan itu Forum Wartawan Pamekasan (FWP) menggelarkan kuliah umum pers pada Senin (28/2) bertajuk "Jurnalisme Tidak Selesai dengan Berita" oleh Andreas Harsono.

Sponsored

Andreas, wartawan dari Yayasan Pantau dan aktivis HAM, pria kelahiran Jember, Jawa Timur, menjadi pembicara utama yang mengupas topik bahasan.

"Pekerjaan wartawan tidak berhenti hanya membikin berita, ya itu pasti. Jadi salah satu jasa besar wartawan di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia, adalah membentuk khayalan tentang negara-bangsa. Sebaliknya mutu negara-bangsa tergantung pada mutu jurnalismenya. Wartawan bukan hanya tukang bikin berita pastinya, tapi penjaga demokrasi. Wartawan ialah pembela hak asasi manusia, orang yang bertugas untuk membantu bangsa-negaranya mengikuti kemajuan sebagai masyarakat," katanya.

Menurut Andreas, satu hal yang sangat penting dilakukan oleh media cetak, yaitu membentuk khayalan akan negara-bangsa Indonesia. Kalau membaca buku Ben Anderson 'Imagined Communities' (1983), di sana dikatakan bahwa sebuah negara-bangsa, sebuah wilayah, di mana semua warganya merasa kenal warga yang di tempat lain walaupun belum pernah bertemu seumur hidup.

Orang Madura mungkin merasa satu bangsa dengan orang Dayak yang ada di Kalimantan, yang belum dipertemukan seumur hidup. Sebaliknya orang Dayak seharusnya merasa satu bangsa dengan orang Papua. Namun Ben juga mengatakan, mutu negara-bangsa itu berbeda-beda. Makin bermutu jurnalismenya, makin bermutu negara-bangsa tersebut. Makin bermutu jurnalisme, makin bermutulah masyarakatnya.

Dicontohkannya, Amerika Serikat. Setelah empat tahun berkuasa, Donald Trump kalah dalam Pemilu Presiden. Salah satu yang berperan penting dalam kekalahan itu karena jurnalisme di Amerika bisa mendidik publik bahwa Trump sering berbohong. Dia tidak melaporkan pajak, diduga tidak bayar pajak, sedemikian rupa.

(Dampaknya) lebih dari 50 persen pemilih Amerika tidak mau memilih Trump lagi. Padahal baru satu periode. Di negara demokrasi manapun, jarang calon petahana kalah di Pemilu kedua. Tapi tidak seluruh jurnalisme Amerika benar, sebab Fox News kacau juga, tapi banyak media lainnya berani dan tahu untuk mengungkapkan kesalahan Trump.

"Wartawan Amerika sangat agresif saat bertanya. Jadi tidak mudah buat seorang presiden, apalagi pejabat di daerah seperti gubernur, wali kota, bupati untuk tidak transparan dalam memberikan keterangan kepada wartawan," ujarnya.

Lebih jauh lagi Andreas mengupas sejarah jurnalisme. Jurnalisme ada gara-gara mesin cetak yang dibuat Johannes Gutenberg di Mainz, Jerman, pada abad ke-15. Dalam 20 tahun, mesin cetak sudah laris dibeli dan dipakai pada lebih dari 200 kota di seluruh Eropa.

Namun ada satu buku yang jadi masalah boleh dicetak atau tidak, yaitu Al Kitab. Banyak pendeta keberatan bila Al Kitab dicetak. Alasan mereka, orang awam tidak bisa membaca Al Kitab atau hanya membaca di permukaan saja. Sebelumnya Al Kitab hanya ditulis tangan. Sementara Al Quran baru dicetak lebih dari satu abad kemudian.

Tapi ada sesuatu yang lebih berbahaya dari Al Kitab di mata sebagian orang, yaitu surat kabar. Bila Al Kitab memerlukan waktu 20 tahun perdebatan untuk bisa diperbanyak dengan mesin cetak, maka surat kabar 160 tahun kemudian baru bisa dicetak. Surat kabar pertama terbit di Jerman 1609 itupun disensor, sedangkan mesin cetak ditemukan tahun 1440.

Surat kabar ditakuti penguasa karena dikhawatirkan akan menciptakan salah paham, kebencian, melawan penguasa, menodai agama, suku, dan lainnya. Di Asia, surat kabar awal baru muncul di abad 18, yang pertama di tiga kota Shanghai, Calcutta, dan Yokohama. Dari situlah jurnalisme awalnya muncul. Bentuknya jauh lebih sederhana daripada jurnalisme yang terlihat hari ini.

Pers pertama kali muncul di Jawa, Batavia Nouvelles pada 1744, hanya terbit selama dua tahun dan ditutup karena alasan berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat. Baru 50 tahun kemudian surat-surat kabar lain di Hindia Belanda muncul setelah VOC runtuh, kekuasaan beralih ke Kerajaan Belanda, meski masih dengan sensor yang ketat.

"Sampai hari ini, menurut saya, laporan panjang jurnalistik yang bermutu itu karya Tjamboek Berduri kelahiran Madura tinggal di Malang berjudul 'Indonesia dalam Bara dan Api' terbit tahun 1946. Dia pernah dipenjara dua tahun ketika bekerja di Jember karena dituduh menghina orang Belanda," serunya.

Namun, kekuasaan tetap selalu menghantui media di Indonesia. "Kalau dulu pembredelan, kini persoalannya berupa kriminalisasi wartawan melalui pidana pencemaran nama baik. Sampai tahun 2022 masih ada lebih dari 100 pasal pidana pencemaran (nama baik)," cetus Andreas.

Buku Kovach sudah terbit 71 tahun. Pembenaran Clark dari Poynter terhadap esensinya telah melewati kurun waktu 21 tahun. Masihkah elemen di dalamnya relevan dengan jurnalisme kekinian? Apakah harapan publik sudah cukup sejalan dengan apa yang diketahui wartawan?

Berita Lainnya