sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Memori dari Hari Kebebasan Pers Sedunia 2021: Laporan dampak visual

Peserta dari 150 negara berbeda, menghadiri lebih dari 40 sesi dengan 250 pembicara, sebagian besar pleno diadakan dalam format hybrid.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Sabtu, 17 Jul 2021 20:14 WIB
 Memori dari Hari Kebebasan Pers Sedunia 2021: Laporan dampak visual

Hari Kebebasan Pers Sedunia 2021, diadakan dari 29 April hingga 3 Mei, dan diselenggarakan bersama oleh UNESCO dan Pemerintah Namibia.

Sebagai gambaran, Konferensi Global Hari Kebebasan Pers Sedunia 2021 menandai peringatan 30 tahun Seminar dan Deklarasi Windhoek 1991. Tahun ini, lebih dari 3 ribu peserta mendaftar secara virtual dan 150 hadir secara langsung di Windhoek.

Peserta dari 150 negara berbeda, menghadiri lebih dari 40 sesi dengan 250 pembicara, sebagian besar pleno diadakan dalam format hybrid dari Safari Hotel di Windhoek, Namibia, tempat yang sama dengan Seminar 1991. Empat Pleno Utama dan enam Forum Regional diselenggarakan dengan proses yang melibatkan konsultasi regional serta konsultasi tematik dengan berbagai pemangku kepentingan.

Lebih dari 100 perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia di lebih dari 30 negara. Hari Kebebasan Pers Sedunia (dalam 6 bahasa resmi PBB) mendapat 463 ribu sebutan di media sosial dan #WorldPressFreedomDay adalah tagar yang paling banyak digunakan di postingan media sosial yang menyebutkan hari kebebasan pers sedunia (periode analisis dari 2-4 Mei 2021).

Sekitar 1.700 artikel media dalam 6 bahasa resmi PBB menyebutkan Hari Kebebasan Pers Sedunia, dan mencapai jumlah pembaca potensial 1,6 miliar. Setidaknya 430 artikel mengacu pada Maria Ressa, Pemenang Penghargaan Kebebasan Pers Dunia UNESCO/Guillermo Cano 2021.

Harian The New York Times, Le Monde, The Guardian, Los Angeles Times, Globe and the Mail, Liberation, dan surat kabar terkemuka lainnya menampilkan iklan kampanye UNESCO #QuestionsThatMatter pada edisi cetak mereka sekitar 3 Mei. Pesan Suara Kebebasan Pers Dunia diterima oleh lebih dari selusin pemimpin global dari pemerintah dan organisasi terkait.
 
Dalam upacara Penghargaan Kebebasan Pers Dunia UNESCO/Guillermo Cano, Ressa berkata: "Apa yang saya dan para pencerita kebenaran lainnya di Filipina telah alami sudah memberi kami pengalaman langsung tentang bagaimana hukum dan penegakan hukum telah berbalik melawan rakyat kami."

Penghargaan tersebut diberikan kepada Maria Ressa, jurnalis investigasi Filipina dan CEO Rappler, pada 2 Mei. Juri internasional independen memuji 'perjuangan tepat' Ressa untuk kebebasan berekspresi di tengah serangan daring dan kampanye yang ditargetkan serta menghadapi tuduhan pencemaran nama baik dunia maya terkait dengan liputan investigasinya.

Para pembicara yang disorot ialah Joseph Stiglitz, Hadiah Nobel Memorial dalam Ilmu Ekonomi; Irene Khan, Pelapor Khusus PBB untuk Promosi dan Perlindungan Hak atas Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi; Agns Callamard, Sekretaris Jenderal, Amnesty International; Maria Ressa, CEO Rappler; Christophe Deloire, Direktur Jenderal Reporters Without Borders; Anthony Bellanger, Sekretaris Jenderal, International Federation of Journalists. Swe Win, Pemimpin Redaksi Myanmar Now; Julie Owono, Anggota Dewan Pengawas Facebook dan Direktur Eksekutif Internet sans Frontiers; Miranda Johnson, The Economist, Wakil Editor Eksekutif; Stephen Dunbar-Johnson, Presiden, Internasional The New York Times. Nicholas Clegg, Wakil Presiden Urusan Global dan Komunikasi di Facebook; Rod Sims, Ketua Komisi Persaingan dan Konsumen Australia; Seema Mustafa, Presiden, Editor Guild, India; Věra Jourová, Wakil Presiden Komisi Eropa untuk Nilai dan Transparansi.

Sponsored

Hasil utama Hari Kebebasan Pers Sedunia 2021 berupa Deklarasi Windhoek+30 diadopsi para peserta konferensi seraya mengedepankan semangat Deklarasi Windhoek 1991 yang asli sambil mengakui tantangan yang terus-menerus dan baru terhadap kebebasan media. Deklarasi tersebut berisi rekomendasi untuk memelihara keragaman media publik, swasta, dan komunitas yang layak, sambil menjaga independensi mereka. Ini juga menyerukan pengarusutamaan media dan literasi informasi, serta bekerja untuk memastikan transparansi perusahaan teknologi.

"Seruan mendesak Deklarasi untuk kebebasan pers dan akses bebas ke informasi sama relevannya dengan sebelumnya,” pesan Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal PBB, untuk Hari Kebebasan Pers Sedunia 2021 mengacu pada Deklarasi Windhoek 1991 tentang pers yang bebas, independen, dan pluralistik.
 
"Peringatan PBB tentang gelombang kebencian misoginis membutuhkan perhatian segera," tulis Redaksi The Guardian, 9 Mei 2021.
 
Peluncuran Studi UNESCO-ICFJ “The Chilling: Global trends in online violence against women journalists”.
Pada tanggal 30 April, sebuah panel daring dengan Maria Ressa dan Julie Posetti, Direktur Riset Global International Center for Journalists (ICFJ), membahas temuan The Chilling, studi perintis UNESCO-ICFJ tentang peningkatan tajam dalam kekerasan online terhadap jurnalis perempuan dan bagaimana serangan-serangan ini sekarang terkait erat dengan disinformasi, diskriminasi interseksional, dan politik populis. Laporan ini ditampilkan di outlet media terkemuka di seluruh dunia termasuk The Guardian, Al Jazeera, Le Monde, Lusa, Rappler, The Washington Post, CNN, EFE, RTVE, dan BBC World Service.
 
Enam forum regional untuk pertama kalinya dalam Konferensi Global Hari Kebebasan Pers Sedunia berlangsung secara paralel untuk mengedepankan semangat deklarasi regional yang diilhami oleh Deklarasi Windhoek 1991 serta untuk membahas tema 2021 terhadap tantangan dan peluang spesifik regional. Hasil dari forum tersebut termasuk serangkaian rekomendasi untuk mendorong kelangsungan hidup media, transparansi platform online, dan literasi media dan informasi, dan dipresentasikan dalam Pleno “Voices from the Regions” pada 3 Mei.

Sesi 'Voices from the Regions' didahului dengan dialog pembukaan Agnes Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty International didahului panel yang dimoderatori oleh Gwen Lister, ketua bersama Seminar Windhoek 1991, dan Alain Modoux, mantan Asisten Direktur Jenderal UNESCO untuk Komunikasi dan Informasi pada saat konferensi bersejarah pertama tahun 1991.

Info tambahan tentang Forum Regional masing-masing Forum Afrika untuk merefleksikan kebebasan pers 30 tahun setelah Deklarasi Windhoek. Forum Afrika menyerukan adopsi undang-undang akses atas informasi. Kita Harus Menunjukkan Nilai Kita sebagai Jurnalis: Suara dari Asia dan Pasifik (We Have to Show Our Value as Journalists: Voices from Asia and the Pacific). Para ahli mencermati keadaan media Arab selama WPFD. Komitmen kuat Amerika Latin dan Karibia untuk kebebasan pers (Fuerte compromiso de América Latina y el Caribe con la libertad de prensa).

"Saya sangat menantikan untuk melihat bagaimana inisiatif baru yang luar biasa demi mengadvokasi transparansi dari perusahaan internet diungkap, karena itu sangat dibutuhkan," kata Nick Clegg, Wakil Presiden Facebook untuk Urusan Global dan Komunikasi.
 
Turut dirilis Ringkasan Isu Laporan Tren Media Dunia yang baru:
“Biarkan Mentari Bersinar: Transparansi dan Akuntabilitas di Era Digital” (“Letting the Sun Shine In: Transparency and Accountability in the Digital Age”).

Isu singkatnya menyoroti 26 prinsip untuk meningkatkan transparansi platform internet dan membahas berbagai aspek transparansi termasuk pendekatan peraturan dan inisiatif tanggung jawab sosial. Itu dirilis di Pleno Transparansi Platform Online, dibuka dengan dialog bersama David Kaye, mantan Pelapor Khusus PBB untuk kebebasan berekspresi dan berpendapat dan Ketua Dewan Inisiatif Jaringan Global saat ini, dan Clegg sendiri, Wakil Presiden Facebook untuk Urusan Global dan Komunikasi.
 
"Kemitraan ini memberi kita kesempatan untuk benar-benar bergerak maju dalam beberapa inisiatif penting,” ujar Peggy Hicks, Direktur, Prosedur Khusus dan Hak Pengembangan, OHCHR.

"Dalam semangat Windhoek, kita bertekad untuk memperkuat perlindungan media yang bebas, independen, dan pluralistik," bunyi Pernyataan Bersama Grup Pertemanan tentang Keamanan Jurnalis (Groups of Friends on the Safety of Journalists) pada Hari Kebebasan Pers Sedunia 2021
 
Peluncuran Global Drive untuk Kebebasan Media dan Keamanan Jurnalis menjadi inisiatif yang didukung oleh Kerajaan Belanda dan dilaksanakan oleh OHCHR dan UNESCO.

Ini menyusul pengumuman Menteri Luar Negeri Belanda, Stef Blok, selama Konferensi Hari Kebebasan Pers Sedunia 2020 tentang sumbangan Belanda sebesar 7 juta Euro untuk mempromosikan kebebasan media dan keselamatan jurnalis di seluruh dunia, setelah Komitmen Den Haag ditandatangani oleh lebih dari 50 menteri.

Ketua dan anggota dari lima Grup Pertemanan tentang Keamanan Jurnalis di UNESCO di Paris, di PBB di New York dan Jenewa, di OSCE di Wina dan di Dewan Eropa di Strasbourg bergabung untuk mengeluarkan pernyataan tentang peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia. Sebanyak 45 negara anggota ikut menandatangani pernyataan tersebut. ( Sumber: rilis WPFD 2021)

Berita Lainnya