sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

13 orang di Sikka meninggal akibat DBD

Jumlah pasien yang masih dirawat di tiga RS yakni TC Hillers, RS Lela, dan RS Kewapante saat ini mencapai 108 orang.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Minggu, 08 Mar 2020 11:32 WIB
13 orang di Sikka meninggal akibat DBD
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 28233
Dirawat 18129
Meninggal 1698
Sembuh 8406

Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, melaporkan hingga Minggu (8/3), jumlah pasien yang meninggal dunia akibat  demam berdarah dengue (DBD) mencapai 13 orang sejak awal tahun.

"Sampai saat ini jumlah pasien yang meninggal mencapai 13 orang dan jumlah ini jika dibandingkan dengan beberapa hari terakhir mengalami peningkatan," kata Plt Kadis Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus.

Dia menerangkan, hingga Rabu (4/3), jumlah pasien DBD yang meninggal masih mencapai 11 orang. Dua fatalitas susulan terjadi pada Kamis (5/3), tepatnya Kamis sore dan Kamis malam.

Sementara itu, jumlah pasien yang masih dirawat di tiga RS yakni TC Hillers, RS Lela, dan RS Kewapante saat ini mencapai 108 orang. Mereka terdiri dari anak-anak hingga dewasa.

"Kalau data pasien DBD sejak Januari hingga Maret jumlahnya sudah mencapai 1.145 kasus dari sebelumnya pada Rabu (4/3) hanya mencapai 1.131 kasus," ujar dia.

Sampai dengan saat ini, pemerintah Kabupaten Sikka sudah empat kali memperpanjang status kejadian luar biasa (KLB).

"Status KLB DBD tahap empat sudah diperpanjang lagi karena korbannya semakin meningkat," ungkap Petrus.

Status KLB DBD tahap keempat ini mulai diterapkan sejak Selasa (3/3) dan akan berlaku selama 14 hari ke depan.

Sponsored

Sejauh ini, menurut Petrus, pemda sudah berusaha agar kasus DBD di daerah ini tidak meluas dengan cara fogging, sosialisasi bahaya DBD, bagi-bagi losion antinyamuk, serta bubuk abate. 

Petrus menilai cara hidup sehat yang tidak benar mengakibatkan banyak korban berjatuhan.

"Kebanyakan orang tua yang anaknya sakit panas mereka tidak langsung membawanya ke puskesmas, tetapi justru membawanya ke dukun. Jadi, saat dibawa ke puskemas atau RS sudah tidak tertolong lagi," kata dia.

Berbagai cara, kata dia, terus dilakukan untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Salah satunya membagi-bagikan obat antinyamuk ke sekolah-sekolah karena anak-anak rentan DBD.

Dinkes setempat juga telah membuka posko laboratorium yang bisa digunakan masyarakat untuk mengecek darahnya. Para petugas di posko itu akan bertugas selama 24 jam dalam melayani pasien. (Ant)

Berita Lainnya