sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ahok 'diserang', Fahri salahkan Erick Thohir

Erick harus membela Ahok jika meyakini pengangkatannya sebagai petinggi BUMN tak menyalahi aturan.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Selasa, 19 Nov 2019 21:06 WIB
Ahok 'diserang', Fahri salahkan Erick Thohir

Mantan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah terkenal sebagai salah satu politikus yang getol mengkritik Basuki Tjahja Purnama (Ahok) saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun, saat Ahok ramai dikritik karena bakal diplot menjadi salah satu petinggi di BUMN, Fahri membelanya. 

Menurut Fahri, orang yang menolak Ahok sebagai direksi BUMN keliru. Meskipun pernah dipenjara, Ahok memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya sebagaimana tertuang dalam Pasal 27 UUD 1945.

"Kekeliruan orang yang menganggap seolah-olah Ahok itu sudah tidak punya apa-apa di atas bumi republik ini enggak bener juga," kata Fahri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (19/11).

Fahri menilai, derasnya penolakan terhadap Ahok tak lepas dari 'blunder' Menteri BUMN Erick Thohir sejak awal. Seharusnya, kata dia, Erick menjadi orang yang pertama yang membela Ahok. "Jadi kalau orang itu bersih dan sama di depan hukum harusnya yang mengangkatnya harus berani membela," ujar Fahri.

Sejak nama Ahok disebut-sebut bakal manjadi bos di salah satu BUMN, banjir kritik dan penolakan datang dari berbagai pihak. Penolakan pertama muncul dari Persaudaraan Alumni (PA) 212. PA 212 bahkan mengancam akan menggelar aksi massa jika Ahok dipaksakan menjadi petinggi BUMN. 

Ahok juga ditolak Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB). Presiden FSPPB Arie Gumilar mengatakan, ia dan rekan-rekannya menolak wacana Ahok bakal masuk di jajaran direksi Pertamina. Menurut Arie, Ahok merupakan sosok orang yang kerap berkata kasar dan membuat keributan.

Kritik tak kalah pedas juga datang dari Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli. Menurut Rizal, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya cari masalah dengan memperbolehkan Ahok bertugas di BUMN. 

Rizal menyebut Ahok tak punya pengalaman di korporasi. "Kalau perlu cari Chinese sebagai menteri, wakil menteri, atau BUMN, cari. Banyak eksekutif Chinese yang bagus, canggih, smooth, bukan kelas Glodok," kata Rizal. 

Sponsored