sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ganjar dinilai mengganjal dirinya sendiri di Pilpres 2024

Ganjar Pranowo dinilai gagal memahami budaya politik PDIP dalam enam tahun terakhir. 

Marselinus Gual
Marselinus Gual Senin, 24 Mei 2021 11:59 WIB
Ganjar dinilai mengganjal dirinya sendiri di Pilpres 2024

Tiga tahun menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2024 internal PDIP mulai bergejolak. Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo dinilai ngotot ingin maju sebagai Calon Presiden (Capres) 2024

Meskipun, kata pengamat politik Ubedilah Badrun, Ganjar tidak pernah mengeluarkan pernyataan akan menjadi capres. Namun, tafsir atas langkah-langkahnya selama ini dinilai PDIP sebagai sikap ngotot.

Ubedilah berpendapat, bukan PDIP yang mengganjal Ganjar di Pilpres 2024. "Jadi yang mengganjal Ganjar Pranowo sesungguhnya dirinya sendiri dan kuatnya tafsir elite PDIP terhadap perilaku politik Ganjar Pranowo sebagai hasrat kuat untuk nyapres 2024," kata Ubedilah saat dihubungi Alinea.id, Senin (24/5).

Menurut dia, Ganjar Pranowo gagal memahami budaya politik PDIP dalam enam tahun terakhir. Di sisi lain,partai berlambang moncong putih gagal memahami perubahan budaya politik masyarakat Jawa khususnya Jateng.

Bahwa dalam 6 tahun terakhir PDIP seperti disandera oleh keterpaksaan mendukung Joko Widodo (Jokowi) sejak Pilpres 2014 hingga 2019. Sebab, faktanya berkali-kali Megawati marah kepada Jokowi sehingga Megawati menegaskan bahwa kader PDIP adalah petugas partai, termasuk Presiden Jokowi harus tunduk pada arahan partai.

"Narasi ini sesungguhnya teguran keras cara Megawati. Sehingga waktu itu Jokowi akhirnya melakukan reshuffle kabinet dan menambah jatah kursi kabinet untuk PDIP," katanya.

Ubedilah menyatakan, narasi petugas partai dari Megawati inilah di antaranya yang saya sebut sebagai salah satu perubahan budaya politik PDIP yang nampaknya tidak dimaknai oleh Ganjar Pranowo secara lebih baik.

"Komunikasi langsung antara Ganjar Pranowo dan Megawati dalam bingkai petugas partai ini tidak berjalan dengan baik. Di sisi lain Ganjar sibuk menangkap sinyal demokrasi digital yang begitu kuat saat ini soal pentingnya menyapa publik secara intensif melalui media digital yang kemudian mendongkrak popularitasnya," ungkap Ubedilah.

Sponsored

Lanjutnya, kata dia, elit PDIP di Jakarta juga tentu mengikuti apa yang dilakukan Ganjar Pranowo tetapi lebih terfokus pada subyek Ganjar sebagai kader yang jadi Gubernur Jateng. 

Namun, dia menilai, PDIP tidak melihat dinamika masyarakat Jateng dengan segala kompleksitas digitalnya yang mampu direbut oleh Ganjar Pranowo dengan baik sehingga terus membuat Gubernur Jateng itu mengalami kenaikan elektabilitas.

"Desakan masyarakat digital pada Ganjar Pranowo ini mirip-mirip dengan kasus Jokowi. Tetapi, elit PDIP nampaknya makin sadar bahwa situasi seperti ini tidak selamanya akan menguntungkan PDIP," katanya.

Menurutnya, Ganjar Pranowo lupa bahwa kini PDIP memiliki putri mahkota yang punya pengalaman sebagai menteri koordinator dan kini Ketua DPR RI yaitu Puan Maharani.

Sementara, pada pilpres 2014 saat Jokowi mengalami situasi dukungan masyarakat digital, Puan saat itu belum punya pengalaman sebagai menteri dan Ketua DPR RI. Sehingga tidak ada kompetitor kuat di internal PDIP.

"Jadi Ganjar Pranowo secara internal menghadapi kompetitor yang kuat di internal PDIP," ujar dia.

Karenanya, lanjut Ubedilah, dinamika capres PDIP ini akan terus terjadi. Dia melanjutkan, bisa saja Ganjar akan terganjal, sementara di sisi lain melalui dinamika tertentu bisa saja Puan juga akan terganjal karena berbagai persoalan.

"Pada titik ini PDIP bisa jadi akan menemui jalan buntu pencalonan capresnya. Peluang untuk mendukung kandidat lain sangat dimungkinkan," kata dia.

Berita Lainnya