sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Guru Besar FK Unpad: Vaksin Sinovac terjamin aman

BPOM takkan mungkin berlaku serampangan dalam menerbitkan izin edarnya.

Firda Junita
Firda Junita Kamis, 14 Jan 2021 17:44 WIB
Guru Besar FK Unpad: Vaksin Sinovac terjamin aman

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad), Prof. Cissy Kartasasmita, menyatakan, CoronaVac atau vaksin Covid-19 yang diproduksi Sinovac Biotech Ltd terjamin keamanannya karena telah melalui uji klinis. Tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan tak memberikan pernyataan yang membuat publik ragu menjalani vaksinasi.

“BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) tidak sembarangan memberikan izin edar atau izin khusus mengenai keamanan, mutu, dan khasiat vaksin. Itu semua perlu disosialisasikan. Pak Presiden sudah divaksin untuk memberikan kepercayaan masyarakat, MUI juga sudah mengumumkan bahwa vaksin halal,” ujarnya kepada Alinea.id, Kamis (14/01).

Sejak penularan Covid-19 diumumkan dan sekuens genom SARS-CoV-2 ditemukan, tambahnya, semua negara berpartisipasi dalam pembuatan vaksin. "Begitu selesai penelitiannya dapat langsung meminta izin."

Selanjutnya, pemberian izin penggunaan darurat (emergency used authorization/UEA) vaksin penting untuk memutus rantai pandemi ini. Di Indonesia, izin tersebut baru pertama kali diberikan untuk penggunaan vaksin.

"Kalau bukan pandemi, vaksin akan melalui proses uji coba yang lama sekali. Kalau tidak darurat, mungkin harus menunggu uji coba BPOM fase tiga hingga enam bulan. Kalau nunggu sampai saat itu, mau berapa banyak lagi yang tertular?" tuturnya.

Cissy menerangkan, negara lain juga menerapkan EUA untuk pemakaian vaksin Covid-19 secara massal, seperti Rusia dan China. Namun, tidak boleh digunakan negara lain.

Hal berbeda dengan vaksin produksi Pfizer atau Moderna yang berbasis mRna. "Penawar" tersebut mendapatkan izin edar di seluruh negara karena diberikan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) yang bekerja sama dengan BPOM di berbagai negara.

Mengenai efikasi CoronaVac 65,3% yang diberikan BPOM, menurut Cissy, dipengaruhi beberapa faktor. Metodologi, subjek, dan lokasi penelitian, misalnya.

Sponsored

“Kebetulan di Indonesia subjeknya tidak banyak. Semakin banyak subjek makin tinggi didapatkan efikasinya. Penelitian di Bandung itu baru selesai fase tiga pada Juni 2021. Kemungkinan nanti efikasinya juga akan naik,” jelasnya.

Tingkat efikasi menentukan berapa persen masyarakat setelah divaksin yang terlindungi dari vaksin. Karenanya, masyarakat disarankan tidak membandingkan antara CoronaVac dengan vaksin lain, seperti Pfizer dan Moderna.

"Kalau kita divaksin, tubuh kita akan menghasilkan memory cell dan memproduksi antibodi. Kalau nanti kita tertular virus tersebut, tubuh kita sudah mengetahui apa yang harus dilakukan. Jadi, antibodi tubuh yang dilihat, bukan efikasinya,” ungkapnya.

Dalam uji klinis tahap pertama yang dilakukan pada subjek umur 18-59 tahun tidak ditemukan efek samping lantaran tak memiliki penyakit penyerta (komobirditas). "Tetapi efek samping seperti pegal, merah, dan bengkak di tempat yang disuntikkan itu wajar," ucapnya.

Untuk menjamin kualitasnya, vaksin harus ditangani secara khusus tergantung sifatnya. Vaksin Sinovac, misalnya, harus disimpan pada suhu 2-8 derajat celsius dalam lemari es (freezer) untuk mengawasi rantai dingin (gold chain).

Di sisi lain, Cissy mengimbau masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M) sekalipun sudah divaksin. Pangkalnya, tetap berisiko untuk terpapar SARS-CoV-2.

“Kita sudah melalui pandemi yang melelahkan. Proses vaksinasi ini harus tetap diterapkan seiring dengan protokol kesehatan,” tutupnya.

Berita Lainnya