sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jerit peternak telur: Kami sekarat, ini bulan ke delapan

Harga telur di peternak yang turun dan biaya produksi tinggi, mengakibatkan peternak gulung tikar.

Khudori
Khudori Kamis, 17 Feb 2022 12:08 WIB
Jerit peternak telur: Kami sekarat, ini bulan ke delapan

Belasan lelaki menurunkan spanduk besar yang dipasang di perlimaan di Desa Kedawung, Kecamatan Nglegok, Blitar, Jawa Timur. Ada yang memegang bambu penegak, sebagian mencopot spanduk, dan ada yang mengatur lalu-lintas. Sejumlah anggota Polri dan TNI menyaksikan penurunan itu.

Spanduk ini dipasang oleh peternak telur mandiri atau peternak rakyat yang tergabung Paguyuban Peternak Rakyat Indonesia atau PPRN Nglegok Raya, Senin (14/2) lalu. Baru sehari, Selasa (15/2) esok harinya, para peternak dipanggil ke Kantor Desa Kedawung, Kecamatan Nglegok.

Selain kepala desa dan perwakilan peternak, hadir pula aparat Kepolisian Sektor dan Koramil Nglegok. Dalam pertemuan itu, peternak diminta menurunkan spanduk. Selama pertemuan, peternak merekam dan menayangkan situasi secara live. Lewat siaran live itulah peternak lain menyimak.

Spanduk yang dipasang oleh peternak telur mandiri atau peternak rakyat yang tergabung Paguyuban Peternak Rakyat Indonesia atau PPRN Nglegok Raya, Senin (14/2) lalu. Foto dokumentasi Alinea.id

Setelah adu argumen, terang Yesi Yuni, akhirnya peternak meluluskan permintaan itu. Makanya, kata pengurus PPRN Kabupaten Blitar itu, spanduk yang baru terpasang sehari tersebut akhirnya diturunkan. Peternak dijanjikan bahwa aspirasi mereka akan ditindaklanjuti. 

Rabu (16/2), digelar musyawarah di Kantor Desa Kedawung. Agenda utama membahas permintaan peternak agar desa membuat peraturan desa (perdes). Ini diyakini sebagai kunci pengaturan peternakan. "Jika warga menolak pendirian kandang baru, kan tak bisa berdiri," kata Yesi.

Ayam makan ayam

Saat ini, kata Yesi, 40% peternak telur mandiri di Blitar telah menutup usaha. Sebuah video yang dikirimkan Yesi menunjukkan kandang-kandang kosong. Beberapa bagian kandang ditumbuhi semak tinggi. "(Kandang) Sudah kosong dulur, sejak pertengahan tahun lalu," ujar pria di video itu. 

Sponsored

Tidak sedikit peternak kecil yang melego kandangnya. Yang bertahan, kata Yesi, biasanya menjual aset-aset tersisa, memakan tabungan, mengurangi jumlah ayam atau menambah utang. "Ayam makan ayam atau makan tabungan. Badai kali ini luar biasa," kata Yesi pada Alinea.id, Rabu (16/2).

Minggu ini harga telur di peternak hanya Rp16.900/kg. Seminggu lalu malah lebih rendah, Rp15.500/kg. Sementara biaya pokok produksi mencapai Rp22.000-Rp24.000/kg. Artinya, peternak tekor Rp5.000-Rp7.000/kg.

Yesi menjelaskan, situasi seperti ini sudah berlangsung selama delapan bulan berturut-turut. Kondisi terparah terjadi Agustus 2021. Sepanjang menekuni budidaya ayam petelur, kata Yesi, baru kali ini badai terparah. Biasanya, harga telur jatuh 2-3 bulan. Setelah itu membaik lagi.

Beragam cara dilakukan peternak. Tidak hanya mengandalkan Pemda Blitar, tapi juga ke pemerintah pusat. Para peternak sudah bertemu Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nasrullah. Juga berkirim surat ke Presiden Joko Widodo, Jumat (11/2) lalu. 

Karena belum juga ada perbaikan, terang Yesi, peternak Nglegok memasang spanduk itu. "Isinya, peternak kecil pasrah dan memasrahkan usahanya ke pemimpinnya. Kami tidak bisa berhadapan dengan integrator. Ini suara rakyat kecil, tak ada hasutan. Kami sudah tak kuat," terang Yesi.

Isi spanduk memang sikap pasrah. "KAMI SUDAH MENYERAH", begitu tulis spanduk itu. Di bagian kiri, dipasang foto Presiden Soeharto plus titahnya: "Saya izinkan membangun pabrik pakan + pembibitan, tapi tidak boleh membudidayakan peternakan sendiri. Mengapa? Pembesaran daging dan pemeliharaan ayam petelur untuk porsi RAKYAT."

Di bagian kanan, ada gambar ayam tengah mengerami telur. Persis di sebelahnya, ditulis: "Pak Jokowi, kami pasrahkan usaha tercinta kami kepadamu. Kami sudah tidak sanggup lagi bersaing dengan INTEGRATOR."

Yesi mengklaim, peternak sebenarnya sudah memberitahukan ke kepala desa dan ke aparat kepolisian sebelum memasang spanduk. Karena itu, ia tidak mengerti mengapa spanduk mesti diturunkan. "Mungkin kami salah karena memasang di tempat umum. Tapi mestinya Satpol PP yang turun."

Bertumpu pada perdes

Pemerintah sudah mengatur budidaya ayam petelur dan ayam pedaging. Lewat Permentan No. 32/2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi di antaranya diatur bahwa bibit ayam usia sehari (DOC) layer 98% untuk peternak/pelaku usaha mandiri, sisanya buat mitra.

Akan tetapi, implementasi di lapangan tumpul. Pelaksanaan beleid ini tergantung pada pemda. "Sementara Pemda Blitar tak bisa menjamin," terang Yesi. Makanya, tumpuan pengendalian ada di desa lewat perdes.

Yesi menjelaskan, perdes penting untuk membatasi masuknya peternak baru dari luar ke sebuah desa. Luar wilayah tidak harus dari kabupaten atau propinsi lain, tapi bisa juga dari desa/kecamatan sebelah. Perdes untuk memastikan warga setempat yang mengusahakan peternakan. "Ini kan wajar."

Sebagian besar peternak telur di Blitar, terang Yesi, adalah peternak kecil dengan populasi di bawah 11.500 ekor. Mereka menggunakan teknologi sederhana dengan pekerja keluarga. Di sisi lain, ada saja pendatang bermodal kuat yang membangun kandang close house dan teknologi modern.

Karena skala usahanya besar dan kandang terkontrol dari gangguan cuaca, papar Yesi, mereka ini lebih efisien. Kebutuhan tenaga kerja tidak sebanyak peternak kecil. Biaya pokok produksi juga lebih rendah. "Tapi kalau harga telur Rp15.000/kg, mereka juga tekor," kata dia.

Tuntutan peternak

Sementara itu, di Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Rabu (16/2), puluhan peternak dari Kabupaten Kendal, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Pekalongan, Batang, Pemalang, dan Kodya Semarang, berkumpul. Dalam rembug peternak layer UMKM se-Jawa Tengah diuraikan kondisi mutakhir peternak dan disepakati delapan tuntutan ke pemerintah.

Antara lain, menuntut agar harga pakan diturunkan dan harga telur dinaikkan sesuai Permendag Nomor 7/2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. Di beleid ini, harga jagung untuk pakan di peternak Rp4.500/kg. Sedangkan harga telur di peternak Rp19.000-Rp21.000/kg. Saat ini harga jagung di atas Rp5.500/kg. 

Lalu, pemerintah diminta membatasi budidaya ayam petelur skala menengah ke atas dan cutting parent stock layer dan broiler. Peternak menolak surat edaran Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan soal cutting telur HE (Hatching Egg) yang berjilid-jilid. Sementara hasil surat edaran itu dinilai tidak ada.

 Rembug peternak layer usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) se-Jawa Tengah,di Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Rabu (16/2/2022). Foto dokumentasi.

Peternak juga meminta agar pemerintah mengembalikan budidaya unggas kepada UMKM dan peternak mandiri, dan penerbitan keputusan presiden untuk melindungi peternak rakyat se-Indonesia. 

"Ini untuk memberikan kepastian pada peternak agar bisa hidup mandiri di Indonesia. Jika (tuntutan) tidak dilaksanakan sampai tanggal 20 Februari 2022, kami akan berdemo mengepung Istana. Setuju," teriak Suwardi. Ucapan Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera Sukoreja, Kendal, itu disambut teriakan "setuju" oleh semua peserta. 

Disembelih tak berdarah

Yesi dan Suwardi berharap pemerintah hadir dan segera menelurkan solusi konkrit buat peternak layer. Agar krisis 8 bulan segera berlalu. Sebab, kata Yesi, peternak tidak punya ketrampilan lain selain berternak. 

"Jika harus tutup kandang, kami mau ngapain, kerja apa? Kami tak mau bergantung bansos. Kami mau kerja dengan keringat sendiri. Kami harap bisa cari nafkah dengan tenang. Kami ingin mandiri," terang Yesi. 

Awal Januari 2022, Yesi ikut pertemuan dengan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasrullah. Dalam pertemuan itu disampaikan usulan jangka pendek. Antara lain harus ada cutting GPS (grant parent stock), tak cukup PS. Jika di hilir banjir produksi telur, harus ada penyerapan.

Pemerintah, kata Yesi, bisa menyerap telur untuk aneka program bansos, seperti Program Sembako atau Program Keluarga Harapan. Agar surat edaran cutting telur HE efektif, kata Yesi, perlu keterlibatan peternak untuk mengawasi. "Kami curiga, telur HE itu merembes ke pasar," kata dia.

Diusulkan pula pendirian terminal telur sebagai salah satu solusi jangka panjang. Lebih dari itu, jelas Yesi, perlu upaya segera. "Kita kini berkejaran dengan waktu. Yang 60% yang masih bertahan itu hanya bisa hidup tiga minggu jika tak ada perubahan. (Para peternak ini) Kalau disembelih gak ada darahnya. Tapi kami tetap ada harapan," terang Yesi.

Berita Lainnya
×
tekid