sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kasus demam berdarah meningkat saat pandemi Covid

Pandemi Covid-19 memperburuk kondisi dan berpotensi mengulang kembali angka kematian kasus demam berdarah pada 1968.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Senin, 22 Jun 2020 11:52 WIB
Kasus demam berdarah meningkat saat pandemi Covid
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 389.712
Dirawat 62.649
Meninggal 13.299
Sembuh 313.764

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementeri Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan delapan provinsi tertinggi kasus demam berdarah. Yaitu, provinsi Jawa Barat, Lampung, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Sulawesi Selatan.

Delapan provinsi tersebut juga melaporkan kasus Covid-19 tertinggi. Bahkan, tiga provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan) di antaranya konsisten melaporkan kasus baru Covid-19 tertinggi beberapa hari terakhir.

“Demam berdarah ini juga menimbulkan angka kematian. Jadi, angka kematian kita saat ini sudah mencapai 346 (orang) dan kurang lebih gambarannya sama. Merupakan provinsi yang merupakan kasus tertinggi kematian (Covid-19),” tutur Nadia dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Senin (22/6).

Puncak kasus demam berdarah setiap tahun biasanya terjadi pada Maret. Namun, saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Penambahan kasus baru demam berdarah masih terlaporkan hingga Juni ini.

“Kami masih menemukan jumlah kasus demam berdarah cukup banyak. Artinya, angka ini berbeda dengan kasus sebelum-sebelumnya,” ucapnya.

Hingga Senin (22/6) pagi, sekitar 100-500 kasus demam berdarah terkonfirmasi pada setiap harinya. Kemudian sepanjang 2020, jumlah kasus demam berdarah mencapai 68.000 kasus. Dari 450 kabupaten/kota terpapar kasus demam berdarah, sebanyak 439 kabupaten/kota di antaranya juga melaporkan adanya Covid-19.

“Artinya, seseorang yang terinfeksi Covid-19 juga berisiko terinfeksi demam berdarah,” tutur Nadia.

Nadia menjelaskan, konfirmasi kasus pertama demam berdarah di Indonesia pada 1968. Sayangnya, belum ada vaksin dan obat yang terbukti efektif mengobati pasien demam berdarah. Sehingga, diupayakan pencegahan dengan menghindari gigitan nyamuk.

Sponsored

Angka kematian dan angka kesakitan kasus demam berdarah di Indonesia pada 1968 sebesar 50%. Pandemi Covid-19 memperburuk kondisi dan berpotensi mengulang kembali angka kematian kasus demam berdarah pada 1968.

Padahal, di tahun-tahun sebelumnya angka kematian kasus demam berdarah telah menurun drastis. Kecuali pada 2016 angka kematian dan angkat kesakitan kasus demam berdarah melonjak.

“Angka kesakitan masih fluktuasi karena pada 2016 kita pernah mengalami kejadian luar biasa. Angka kesakitannya masih cukup tinggi, yang tadinya di bawah 20%, saat ini tetap terus terjadi. Jangan sampai kejadian pada 2016 terjadi lagi,” ujar Nadia.

Berita Lainnya