sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kemacetan dan kualitas udara diklaim membaik setelah ganjil genap

Pemprov DKI akan terus memperbaiki layanan angkutan umum agar masyarakat nyaman menggunakannya.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Senin, 16 Sep 2019 20:01 WIB
Kemacetan dan kualitas udara diklaim membaik setelah ganjil genap

Pemprov DKI Jakarta mengklaim perluasan ganjil genap yang telah diberlakukan selama sepekan terakhir, memberi dampak positif untuk ibu kota. Selain mengurangi kemacetan, kebijakan itu disebut berhasil memperbaiki kualitas udara.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, waktu tempuh kendaraan di 25 ruas jalan ganjil-genap naik 13%, dari 16 menit menjadi 14,91 menit.

Kecepatan kendaraan pun naik 9% dibanding periode sebelum perluasan ganjil genap. "Rata-rata kecepatan kendaraan naik dari 25 km/jam menjadi 28,16 persen km/jam," ujar Syafrin di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (16/9).

Selain itu, Syafrin mengklaim kualitas udara membaik setelah pemberlakuan sistem ganjil genap. Ia menyebut, polusi udara di Bundaran HI turun 14%, sementara di Kelapa Gading turun 14,46%. 

"Saya cek AirVisual pada Jumat sore, kualitas PM2,5 ada di 26,62 persen mikrogram. Ini artinya baik sekali," katanya.

Namun data AirVisual pada Senin (16/9) pukul 16.20 WIB, menunjukkan Jakarta menempati posisi ke-10 dari 89 kota besar dunia dengan kualitas udara terburuk. 

Kualitas udara Jakarta berada pada level tidak sehat dengan parameter US Air Quality Index (AQI US) 103, atau berkategori tidak sehat bagi masyarakat sensitif.

Menurut Syafrin, pihaknya juga akan melakukan langkah lanjutan agar kualitas udara di Jakarta semakin membaik. Langkah yang dilakukan adalah dengan melakukan manajemen kendaraan bermotor dan meningkatkan kapasitas angkutan umum. 

Sponsored

"Jadi kapasitas angkutan umum kita push untuk integrasi seluruh angkutan umum yang ada. Kemudian kita tingkatkan kualitas sesuai layanan spm (standar pelayanan minimal) yang ada," kata Syafrin.

Selama satu pekan perluasan ganjil genap, dia melanjutkan, jumlah penumpang angkutan umum telah mengalami peningkatan. "Untuk di koridor BRT (bus rapid transit/TransJakarta) kenaikannya semula itu 475.442 penumpang jadi 569.086 penumpang. MRT sempat 97.000 perhari sekarang. Rata-rata 93.000 dari 80.000," ujar dia.

Peningkatan jumlah penumpang BRT dan non BRT, telah terlihat sejak hari pertama pemberlakuan ganjil genap, yaitu pada 9 September 2019. Jumlah penumpang melonjak menjadi 892.000 orang. 

"Ini luar biasa, capaian ini menunjukkan perubahan paradigma bertransportasi bukan lagi cari jaringan alternatif," ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengimbau agar masyarakat membiasakan menggunakan transportasi umum untuk mobilitas sehari-hari. Dia pun berjanji akan terus memperbaiki kualitas layanan agar membuat masyarakat nyaman. Untuk itu, Anies meminta masyarakat menyampaikan kritik dan saran terkait pelayanan transportasi umum, agar dapat dilakukan perbaikan sesuai harapan.

"Kami akan penuhi sehingga layanan akan sesuai ekspektasi mereka," ucap dia.